
Kenapa aku bisa berkata seperti itu, Tuan Ari pasti marah. lihat tatapannya? Nana, kenapa Kamu bisa berkata seperti itu!
"Maaf Tuan Ari, saya tidak bermaksud seperti itu." Ucap Nana penuh rasa takut.
Ari diam pikirannya melayang. wajahnya nampak murung seperti tengah merenung.
Apa benar aku sudah memanfaatkan dia demi tujuanku? tapi bukanya itu yang aku inginkan? tapi biarlah, aku tidak perduli dia mau berpikir buruk tentang diriku. aku tidak perduli.
Kembali Ari merasa benar. wajahnya berubah masam tatapan mata benar-benar mengintimidasi Nana yang tengah duduk dengan kepala menunduk.
"Jadi, kamu menganggap aku sudah Memanfaatkan dirimu! begitu?" Ari menatap Nana seolah menuntut. padahal jelas-jelas itu yang dirinya lakukan.
Kepala Nana menggeleng cepat "T-tidak Tuan, Maaf kan saya."
Hanya itu yang mampu Nana ucapkan, nyalinya seketika menciut. wajah muram Ari begitu mengerikan, dan lagi kepalanya seakan sulit untuk diangkat.
Ari menyeringai. "Apa keuntunganku Memanfaatkan Gadis seperti dirimu? Dan satu lagi. aku tidak membuat Perjanjian diatas Kertas, karena aku tau, kamu pasti tidak bisa membaca dan menulis! secara kamu dari kampung, pasti kamu juga tidak Mengenyam Pendidikan." Perkataan merendahkan itu kembali terdengar. Ari seakan senang melontarkan kalimat menjengkelkan itu.
Nana lagi-lagi di rendahkan oleh orang yang tengah berdiri disampingnya dengan angkuh, tangannya meremas Dress penuh amarah. bayangkan saja belum dua puluh empat jam ia bersama si pria bule itu tapi harga dirinya seolah melebur menjadi butiran abu yang tidak berguna, akan tetapi melawan pun itu tidak mungkin. diam dan kembali diam itulah yang dilakukan Nana.
Dengan cepat kepala Nana terangkat membawa wajah damai.
"Tuan benar. saya memang tidak Mengenyam Pendidikan tingkat tinggi, Saya pernah bersekolah tapi hanya sampai kelas 3Smp saja. Karena Nenek saya tidak mempunyai biaya, tapi saya bisa Membaca dan menulis saya memang Gadis Desa. Tapi saya tidak sebodoh Itu." Tuturnya lembut tapi penuh penekanan.
Ingin sekali Nana berteriak di hadapan orang yang sudah menghinanya, tapi ia bukan orang yang seperti itu. ia lebih memilih bersabar dan diam ketika ada orang yang merendahkannya .apalagi sekarang yang menghinanya orang yang berkuasa dan itu membuat Nana sadar kalau dirinya bukan siapa-siapa.
Kerja bagus Nan, Kamu harus kuat menghadapi orang seperti Tuan Ari.
Ari yang mendengar jawaban Nana hanya bisa tersenyum kecut sambil mengangguk-anggukan kepala seolah meledek.
"Oh, jadi kamu bisa membaca dan Menulis?baguslah. tapi tetap saja, aku tidak akan Membuat Perjanjian di atas kertas, karena itu tidak berarti apa-apa."
"Ya, Tuan Ari." Anggukan kepala menjadi penanda kalau Nana bersedia mengalah.
Ari menarik sudut bibirnya "Baguslah, Kamu Jangan takut. aku tidak akan ingkar Janji, walaupun tidak ada Perjanjian di atas kertas. aku akan menepati janjiku padamu." jelasnya ketus.
Nana mengangguk paham, dan pikirannya kembali teringat akan satu pertanyaan yang mengganjal di hati? dengan keberanian tingkat tinggi Nana pun kembali memberi pertanyaan kepada Ari.
"T-tuan Ari, nanti setelah Kita menikah. Apa kita akan Tidur-
__ADS_1
Nana berhenti bersuara? pasalnya Ari mengangkat satu tanganya memberi tanda kepada Nana untuk diam.
"Tidak akan pernah! aku dan kamu tidur terpisah! ingatlah gadis Desa? siapa aku dan siapa kamu, berhenti bermimpi dan bangunlah!"
Aku bahkan menyesali pertemuan tempo hari denganmu Tuan sombong. celoteh hati Nana melepaskan rasa sakit di hati.
Anggukan kepala kembali Nana perlihatkan sebagai jawaban.
"Ya sudah, kamu keluar sana. dan jangan banyak bertanya lagi, lekaslah tidur. jangan berbuat macam-macam di rumah ini. kalau sampai besok pelayan ribut ada barang yang hilang? kamu adalah orang pertama yang aku curigai! sekarang keluar." Telunjuknya mengarah tepat ke wajah Nana dengan tatapan menyeramkan.
Tuduhan itu benar-benar menyakitkan. ingin rasanya Nana menjawab, akan tetapi itu tidak akan berarti apa-apa. yang ada hinaan akan kembali didapatnya, akhirnya Nana memilih diam dan mengangguk.
"Saya permisi, Tuan," Setelahnya Nana berbalik membawa hati yang terluka.
"Tuhan ini sangat menyakitkan, kuatkan aku." ucap Nana lirih sambil menahan air mata yang siap menyapa.
"Tunggu.?"
Langkah gontai Nana terhenti. kemudian ia berbalik. "Ya, Tuan Ari? apa masih ada yang mau Tuan bicarakan dengan Saya?"
Ari belum menjawab. ia malah berjalan menghampiri Nana dengan wajah datar seperti biasa.
Tanpa diduga Ari meraih pegangan pintu yang sudah siap Nana sentuh.
"Jangan berkeliaran, lekaslah tidur." titah Ari kepada Nana yang tengah diam mematung.
Nana yang mendengar kalimat sederhana itu menjadi senang. pikirnya Ari pria yang baik!
Tadi menghinaku, tapi kenapa sekarang dia mau membukakan pintu untukku? apa aku sedang bermimpi? pria ini begitu aneh! sulit untuk menebak pikirannya.
"Terimakasih Tuan, karena sudah mau membukakan Pintu untuk saya." Ucap Nana dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
Melihat senyuman itu kembali membuat Ari salah tingkah! ingin rasanya ia membalas senyuman manis Nana, akan tetapi hatinya melarang! yang terlihat justru sebaliknya sampai terdengar suara.
"Aku bilang bangun dan sadarlah! kamu pikir aku membukakan pintu ini untukmu? yang benar saja, Dengar gadis Desa, pegangan pintu ini terbuat dari Gold tau apa Artinya? Emas! dan tanganmu kotor! aku tidak mau sampai tanganmu mengotori-nya, jadi jangan bermimpi. untuk apa aku membuang waktuku hanya untuk melakukan hal tidak berguna seperti itu huh...sekarang keluar."
memang kenyataan-nya, Ketika Nana masuk ke dalam ruangan mewah itu Ari lah yang membuka dan menutup Pintu.
Nana lagi-lagi salah paham dengan kebaikan Ari, ternyata itu maksud dari perbuatannya. menyakitkan memang tapi tidak ada kesempatan untuk Nana memberi perlawanan.
__ADS_1
Tenang Nana tenang, biarkan saja kamu harus tenang. Batin Nana ikhlas walupun tangannya sudah ingin memberi Ari hadiah.
"Maaf Tuan, saya permisi." Akhirnya Nana melenggang pergi meninggalkan Ari tanpa ingin tau apa yang dilakukan pria arogan itu.
.
.
Tak terasa sudah Tiga hari Nana tinggal di Mansion itu, dan selama tiga hari itu juga Nana di ajarkan cara manggunakan alat makan yang benar dan berprilaku layaknya bangsawan.
Hari ini juga di Mansion mewah itu terlihat sangat sibuk, karena hari ini adalah hari di mana orang tua Tuan Muda Ari pulang dari Negara B.
"Hari Ini, Daddy dan Mommy ku akan Pulang, ingat Pesanku."
Nana mengangguk paham. "Saya ingat, Tuan."
"Bagus, ingat. jangn buat membuat aku malu." Ari melirik Nana intens.
Kembali Nana mengangguk Paham.
Kini, Ari dan Nana sedang berada di luar Mansion. keduanya berdiri berdampingan didepan teras, pasalnya sebentar lagi kedua orang tua Ari akan tiba.
Ari Dan Nana nampak serasi dengan busana yang mereka kenakan. terlihat kalau baju itu Ari yang memilih, selera pria Bule itu tidak main-main. dirinya terlihat Gagah dan tampan sedangkan Nana nampak anggun dengan Dress cantiknya, tapi sayang ada yang kurang? Yap, betul sekali, wajah keduanya terlihat tegang menyiratkan batas yang tercipta.
Tanpa Ari sadari, Nana sesekali mencuri pandangan ke arahnya. akan tetapi tatapan itu luput dari mata elangnya Benda ditangannya membuatnya lebih pokus di sana ketimbang mengagumi kecantikan sang Dara.
Tidak dipungkiri Nana sangat takjub akan Mahluk tuhan yang ada di sampingnya itu, ia benar-benar tersihir dengan penampilan Ari. tapi Nana tidak bisa berbuat lebih hanya mengagumi dalam diam itu sudah cukup.
Seandainya Tuan Ari Baik, Itu sudah menjadi Nilai bagus untuknya. Celoteh Nana dalam hati.
Tak kalah dengan Ari, Nana pun demikian Cantiknya. Nana yang menggunakan Gaun berwarna Biru muda Selutut, dan di bagian atasnya tanpa Lengan, yang memperlihatkan tangannya yang putih dan Mulus itu. terlihat cocok di kenakannya. dengan rambut yang lagi-lagi di biarkan tergerai indahnya Make-up yang di kenakannya pun sangat tipis, tidak terlalu berlabihan.
Ari yang melihat penampilan Nana hanya bisa Mengagumi dalam diam. karena untuk memuji kecantikan Nana saja dia tidak akan pernah berani, karena Egonya sangat melarangnnya.
Mereka Sama-sama diam, dengan Hati Mereka yang bergulat tidak karuan.
Lamanya mereka menunggu. dari kejauhan nampak mobil berwarna putih memasuki pekarangan mansion. berhentilah mobil itu tepat dimana Ari dan Nana berdiri.
Seorang pelayan membukakan pintu mobil. turunlah dua sosok manusia yang mana membuat Ari melangkah maju meninggalkan Nana seorang diri
__ADS_1
"Mommy."
SELAMAT MEMBACA