
Di dalam kamar.Ari dan Nana tengah bersiap-siap untuk pergi ke mall seperti ke inginan istrinya.
Ari:"Hon,kamu mau pakai kaos ini.?"menatap kaos miliknya yang ada di atas kasur.
Nana yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi,mengangguk membenarkan pertanyaan suaminya.
Ari hanya tersenyum ketika istrinya mengambil kaos berlengan panjang miliknya itu.
Sabar Ari,ini masih wajar.batin Ari.
Ari:"Ga pakai Dres aja hon.?"usulnya.
Nana:"Tidak mau yank,aku mau kaos ini biar samaan sama kamu."jawabnya tanpa melihat wajah tampan suaminya..
Ari:"Baiklah,asalkan itu nyaman di tubuhmu."sahutnya pasrah.
Perlahan Ari berjalan ke arah sofa,dan matanya seketika menatap istrinya yang sibuk bercermin menilai penampilannya.
Ari menggelengakan kepalaya melihat tingkah sang istri.
Lihat.dia mau pergi ke mall dengan pakayan seperti itu,tubuhnya saja hampir tertutup.dan kenapa juga harus pakai kaos dan celana jeans,dia kan perempuan.dan juga dres miliknya banyak kenapa harus pakai kaos, ada-ada saja.gumam hati Ari.
Seperti rencana awal,Ari dan Nana akan pergi ke mall siang itu juga.dan masalah pekerjaan Ari sudah menyelesaikan sebagian tadi pagi.
Dengan di temani istrinya Ari tidak bisa berkonsentrasi,bagaimana tidak begitu.Nana selalu membuat Ari kehilangan konsentrasi ketika menatap laptopnya,dengan kemajaan Nana dan lain sebaginya.
Sedangkan mommy Kei sudah pulang ke mansion mewahnya,karna menantunya ada yang menemani siapa lagi kalau bukan suami bulenya.
Setelah selesai menilai penampilan di depan cermin,Nana melangkah menghampiri suaminya.
Nana:"Bagaimana yank.!"berdiri di depan suaminya dengan seutas senyum.
Ari menatap istrinya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
Ari:"Cantik."ucapnya singkat.
Nana mengerutkan bibirnya ketika mendengar penilaian yang di berikan sang suami.
Melihat ekspresi istrinya,membuat Ari menarik nafasnya pelan dan menghampiri sang istri.
Ari:"Kenapa kok di tekuk begitu bibirnya,kamu memang cantik hon.aku ga bohong."ucapnya bingung.
Nana masih diam dengan mode bibir manyunnya itu.
Apa Ada yang salah dengan ucapanku, memang dia cantik kok.terus aku mesti bilang apa.bingung hati Ari.
Siang itu Nana memakai kaos berlengan panjang,dan di aplikasi dengan celana jeans milik sang suaminya.yang lagi-lagi terlihat kedodoran di tubuhnya,walupun begitu penampilannya tidak terlalu buruk.hanya saja Ari tidak menyukai penampilan istrinya.
Dan penampilannya benar-benar membuat Ari kebingungan harus memberi nilai kepada istrinya,Jadi jalan satu-satu adalah memuji dengan mengatakan"Cantik"bukannya semua perempuan selalu senang di beri pujian singkat itu.
Tapi entah kenapa sang istri tidak mau di beri pujian itu,dan hal itu malah membuat Ari kebingung.
Ari menatap istrinya intes dan satu ide muncul di benaknya.
Ari:"Hey."mengangkat dagu Nana.
Melihat wajah istrinya yang terlihat menggemaskan membuat Ari tersenyum.
Ari:"kamu bukan hanya cantik,tapi sangat cantik.dan dengan pakayan ini penampilan kamu menjadi lebih keren."pujian itu membuat Nana mengukir bulan sabit di bibirnya.
Ari:"Ya,penampilan kamu benar-benar keren."tersenyum penuh arti.
Nana:"Benarkah aku keren."ucapnya untuk memastikan.
Ari mengangguk cepat."Sangat"tambahnya.
Nana tertawa pelan,dan kembali berjalan ke arah cermin meninggalkan suaminya yang tengah berdiri dengan menepuk kepalanya pelan.
Baik-baik.bukan cantik tapi Keren,ingat bukan cantik bukan.gumam hati Ari.
__ADS_1
Cukup lama Ari menunggu istrinya,hingga akhirnya keduanya keluar kamar dengan penampilan yang bisa di katakan sangat unik, karna sang istri berdandan seperti suami bulenya,yang membedakan hanya rambutnya saja.
Kejadian itu mengingatkan kita tiga hari yang lalu,ketika Ari membawa istrinya pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan buah hati mereka.
Di lantai bawah Ari dan Nana sudah di sambut oleh salah satu palayan,dengan menenteng satu buah tas berwarna biru.
Tas itu adalah tas yang pernah tertinggal ketika mereka pergi ke rumah sakit,dan ketika Ari melihat tas itu membut dirinya merasa ketakutan.
Jangan sampai tas itu tertinggal.gumam hati Ari bahkan matanya tak pernah berpaling menatap tas biru itu.
Nana:"Jaga rumah ya Nur."ucapnya lembut.
"Baik Nona."sahutnya sopan.
"Nona,ini tasnya."Pelayan yang bernama Nur itu memberikan tas yang di dalamnya cemilan pesanan Nana.
Ari menerimanya tanpa membuka mulutnya.
Nana:"Kita pergi ya Nur,hati-hati di rumah."
"Baik Nona."membungkuk hormat.
Ari berjalan keluar rumah dengan kedua tangannya sibuk,tangan kirinya menenteng tas cemilan Istrinya.dan tangan kanannya menggenggam Jari-jari istrinya posesif.
.
.
Di perjalanan Ari begitu pokus menatap jalan kota A,sedangakan sang istri selalu sibuk dengan boks-boks cemilannya.
Apa badannya tidak akan membesar melihat caranya makan seperti itu,dan kenapa dia tidak pernah kenyang.dia berhenti mengunyah ketika tidur,itupun tangah malam selalu bangun meminta sesuatu.selama empat bulan itu berlangsung Ari kamu harus kuat, bersyukurlah karna dia tidak muntah-muntah.pikir hati Ari.
Nana:"Yank."tergurnya tanpa melihat suaminya.
Ari:"Katakan honey."sahutnya lembut.
Nana:"Nanti di mall ada toko makanan.?"
Pasti membeli cemilan.tebak hati Ari.
Ari:"Ada hon."sahutnya cepat.
Nana:"Kamu ga tanya aku mau beli apa.?"ucapnya sedikit kesal.
Ari menarik nafasnya pelan dan melirik sang istri.
Ari:"Mau beli apa.?"tangan lainnya mengusap bibir Nana yang sedikit kotor.
Nana:"Aku mau beli buah alpuket,tadi lihat di tv."menatap suaminya penuh harap.
Di rumah kan ada,kenapa harus beli lagi,tapi biarlah.pikir hati Ari.
Ari:"Ok."menjawab dengan acungan jempol ke arah sang istri.
Nana tersenyum bahagia"terimakasih ayang."ucapnya manja.
Ari:"Untukmu honey dan baby kita."ucapnya lembut.
.
.
Cukup lama Ari membawa mobinya membelah keramayan kota,hingga pada akhirnya keduanya sampai di tempat parkiran salah satu mall.
Mesin mobil Ari matikan dan perlahan dirinya keluar dari dalam mobil.
Ari:"Ayo."ucapnya yang baru saja membuka kan pintu mobil untuk istrinya.
Nana:"Ini tasnya di bawa.?"menatap tas cemilannya.
__ADS_1
Ari:"Tidak usah hon."pintanya.
Nana:"Nanti kalau aku lapar."menatap sendu.
Ari:"Nanti beli di dalam ya,yang ini di tinggal aja."bujuknya.
Nana diam sejenak pandangan matanya seolah tidak mau jauh dari tas itu,dengan berat hati akhirnya Nana meninggalkan tas cemilannya.
Ari berjalan masuk ke dalam mall dengan menggenggam tangan Nana erat.
Ari:"Mau beli makanan dulu,atau belanja baju dulu hon.?"
Nana begitu senang mendengar pertanyaan itu."Apa dulu ya."ucapnya dengan menatap seisi mall yang nampak besar dan megah.
Nana:"Mau makan dulu."ucapan itu membuat Ari tersenyum kecut.
Tadi di mobil dia makan banyak,dan sekarang.ya tuhan apa anakku baik-baik saja.lirih hati Ari.
Dengan terpaksa Ari menuruti keinginan Nana yang tidak ada apa-apanya itu,hanya saja Ari merasa kewalahan dengan pola makan sang istri.
Di dalam mall kehadian Ari dan Nana menjadi pusat perhatian pengunjung Mall.
Hal itu memang sudah biasa di rasakan Ari, dan hal itu lah yang membuat Ari enggan pergi ke tempat keramayan.
berhubung sekarang dia mempunyai istri di tambah lagi istri tercintanya tengah mengandung buah hatinya,membuat Ari mengalah.
Nana begitu mengangumi suasana di salam restoran siap santap yang ada di dalam mall.
Restoran bernuansa putih itu lumayan ramai di siang hari,padahal setiap makanan yang di sajikan berharga tinggi.benar-benar kaum berduit yang berani masuk kedalamnya.
Nana dan Ari begitu sabar menanti makanna yang sudah di pesan.
Sebenarnya restoran itu bukan Ari yang pilih, melainkan Sang istri.Ari hanya mengikuti kemanapun istrinya melangkah.
Nana:"Yank,kamu pernah makan di sini.?"tanyanya dengan menatap sekitar restoran.
Ari:"Belum pernah hon."jawabnya singkat.
Nana mengangguk-anggukan kepalanya tanpa kembali memberikan pertanyaan.
Ari begitu posesif menjaga istrinya di dalam restoran bergaya mandarin itu,karna beberapa orang khususnya mata pria melirik sang istri dan Ari melihatnya.
Menyebalkan sekali.geram hati Ari.
Lamanya Nana menunggu dengan tidak sabar,hingga akhirnya sang pelayan restoran datang membawa nampan yang terdapat pesanan dirinya.
"Pesana anda nyonya."ucapnya sopan.
Nana:"Terimaksih."
Pelayan restoran begitu hati-hati meletakan satu buah mangkok berukuran sedang di depan pelanggannya.
Ari sendiri hanya memesan minuma saja,dia masih merasa kenyang berbeda dengan istrinya.
"Silahkan nyonya,saya permisi."membungkuk hormat dan berlalu pergi.
Nana:"Wah sepertinya enak."menelan salvirnya tidak sabar.
Ari kembali tersenyum melihat ekspresi sang istri.
Ari:"Memangnya bisa pakai sumpit.?"tanyanya santai,tapi sebenarnya dirinya sudah tidak tahan ingin tertawa melihat kebingunan istrinya.
Nana hanya diam,tangannya begitu sibuk memainkan dua benda asing yang terbuat dari besi.
Nana:"Memangnya makan mie harus pakai tusuk sate ini."memperlihatkan benda yang di yakini sumpit.
Ari:"Tusuk sate hahahahahah"tertawa tanpa merasa bersalah.
.
__ADS_1
.
Maaf Jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya.