Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
10. Bisikan kata


__ADS_3

Ke esokan paginya.


Grael sudah siap berangkat ke sekolah, dia keluar dengan penampilan wajah yang sedikit dipoles oleh make up natural. Lipgos merah jambu menambah kesan manis di bibirnya yang sudah ranum.


"Ok, Grael waktunya kita sarapan." Grael mulai mengambil tas sekolahnya dan berjalan menuju dapur sembari menahan sakit pada pergelangan kakinya.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya sang ibu yang melihat jalan Grael sedikit tidak biasa.


"Aahh ... berarti semalem lo jatoh ya? Ya kan ... ngaku aja dah lo!" Gracia yang sedang memasak telur dadar kesukaan sang adik melihat cara jalan Grael.


Senyum malu pun terukir di raut wajah Grael, dia pun mengatakan hal yang jujur kepada ibu dan kakaknya dengan malu. Sang kakak yang tertawa puas dengan tingkah Grael yang terlalu gengsi, akhirnya mengeluarkan kata-kata umpatan kecil untuk sang adik.


"Rasaain, kualat! Mamam, dah tuh." Gracia terus meledek sang adik, akibat ulahnya


"Heey ... sudah, sudah, sudah. Sarapan dulu, nanti kalian pada terlambat." Karina merasa senang karena anak bungsunya juga senang bila dijodohkan oleh anak dari keluarga Louis.


"Gengsi digedein! Pakai acara drama segala lagi ... aku gak mau dijodohin sama Rangga, ya sudah deh ... karena ini pinta ka Cia, aku mau," celetuk Gracia kembali yang menjitak kepala adiknya sembari memperagakan ulang ucapan Grael.


Grael hanya tersenyum, memamerkan gigi putihnya yang berbaris rapih. Karina hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya yang seperti Tom and Jerry bila mereka bertemu, tapi ketika menjauh keduanya saling rindu dan menanyakan kabar satu sama lain.


Seusai mereka sarapan, Gracia sudah dijemput oleh sang kekasih, sedangkan Grael terkejut melihat sosok pemuda yang sudah tersenyum manis berdiri di depan mobilnya. Dia adalah Rangga.


"Salam kenal Kak, aku Rangga!" Rangga mengambil tangan Gracia untuk mencium tangan calon kakak iparnya.


"Astaga, kamu Rangga—”


Rangga hanya tersenyum sembari mengangguk pelan sebagai tanda menjawab rasa bingung Gracia, karena Grael sudah menariknya lebih dulu untuk masuk ke dalam mobil.


"Kak, aku langsung berangkat sekolah dulu! Bye kak, Bye Kak Marvin." Grael langsung menarik Rangga agar masuk ke dalam mobil.


"Ehh dasar ikan cucut! Bilangnya gak mau ... tahu-tahunya malah udah pacaran duluan!" Gracia ingin melempar sang adik dengan sepatunya, tapi dicegah oleh Marvin.


"Eeh, kenapa sih? Pagi-pagi udah galak aja Ama adek sendiri? Dah yuk, kita berangkat! Lah ibu kamu mana? Gak pamit dulu?" Marvin terus bertanya pada Gracia tanpa henti.


"Udah pamit tadi, dah kita berangkat aja. Takut kena macet di jalan." Gracia pun masuk ke dalam mobil Marvin yang sudah dibukakan oleh kekasihnya.


***


Di dalam mobil, Rangga terus memperhatikan Grael yang sedikit berbeda. Begitu cantik dan anggun, sesekali dia mencoba untuk memegang tangan Grael dengan ragu dan gugup. Sampai akhirnya dia membuka suara saat mengetahui Grael menjauhkan tangannya.


"Kenapa?" tanya Rangga.


"Hah?" tanya Grael kembali yang tidak terlalu mengerti dengan pertanyaan dari Rangga.

__ADS_1


Rangga mengulang pertanyaannya kembali kenapa Grael menjauhkan tangannya saat dia ingin menyentuhnya dan juga menanyakan kaki sang gadis, gadis itu pun menjawab pertanyaan dari Rangga untuk meminta sebuah kepastian sebelum Rangga bisa mengijinkan dia untuk memegang tangannya.


"Kalau kaki aku ... tadi tidak sengaja jatuh dari tempat tidur." Grael tertawa garing saat dia menjelaskan soal kakinya.


"Kalau sakit kenapa malah masuk sekolah? Kita ke rumah sakit aja ya?" tanya Rangga, tapi dengan halus Grael melarangnya.


Rangga pun hanya menuruti permintaan Grael lalu menjawab pertanyaan pertama dari gadis itu. "Aku gak tahu harus bicara apa, tapi yang jelas ... aku menerima perjodohan ini!"


"Alesannya?" tanya Grael.


"Emang harus ada alesannya ya? Ya setuju aja!" tegas Rangga.


Perkataan Rangga membuat Grael masih belum bisa mempercayainya, tapi untuk sementara ini dia lebih memilih memberi kepercayaan pada Rangga walaupun hatinya mengatakan ada yang disembunyikan dari Rangga.


Rangga pun mengajukan pertanyaan balik kepada Grael, saat dia mendengar ucapan Garcia bahwa Grael sempat menolak perjodohan ini. Gadis itu hanya menjawab dengan jujur kenapa dia sempat menolak perjodohan itu, karena dia masih belum percaya bahwa keluarga besar Louis dengan latar belakang orang terpandang harus bersanding dengan dia yang notabennya hanya sebagai anak yatim yang sederhana, jauh dari kata orang kaya seperti semua teman-temannya yang bersekolah di sana.


"Hai, liat aku! Aku gak mandang status, aku hanya ingin kita sama-sama belajar untuk lebih saling mencintai, jujur, setia, dan aku mau menjalankan itu semua sama kamu!" Rangga memegang tangan Grael perlahan, dan menatapnya saat mobilnya berhenti di lampu merah.


Hanya satu tarikan napas, Grael menganggukkan kepalanya sebagai tanda percaya kepada Rangga untuk saat ini, dia tersenyum saat Rangga mengusap pipi dia dengan ibu jarinya.


"Ngga, turunin aku di tempat seperti biasa aja ya?" Grael siap-siap untuk turun sebelum sampai tepat di depan sekolah.


"Loh kenapa? Kan kaki kamu lagi sakit." Rangga mencoba untuk bertanya kepada Grael.


"Gak enak sama anak-anak yang lain," ucap Grael dan Rangga pun mengerti alasan Grael.


"Ingat, jangan terlalu dekat sama cowok siapa pun terutama Irfan!" perintah Rangga kepada Grael.


"Gak janji! Kan kamu bukan siapa-siapa aku." Grael menjulurkan lidahnya sembari tertawa dan berlalu meninggalkan Rangga.


"Awas ya, nanti!" Rangga tertawa sembari menjalankan mobilnya ke arah area tempat parkir.


***


Di dalam kelas XI-A. Jam mata pelajaran kedua telah dimulai, Grael bersama teman-temannya tengah bersiap-siap untuk mengganti pakaian olahraga, karena hari ini sang guru berniat menggabungkan dua kelas sekaligus.


"El, mending lo izin aja, kan kaki Lo masih sakit," ucap Veby mengkhawatirkan sahabatnya.


"Biar gue yang bilang nanti, sama Pak Nuno," timpal Ernata.


Grael pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju, mereka langsung keluar dari ruangan ganti putri kelas sebelas A. Setelah mendapat persetujuan dari guru olahraga, Grael duduk melihat pertandingan di samping pak guru.


"Loh pak, kita kok digabung sama anak kelas sebelas B, si pak?" tanya Ernata.

__ADS_1


Guru olahraga itu menjelaskan bahwa, dia akan mengadakan gabungan kelas, karena guru olahraga kelas lain sedang menemui rapat guru antar sekolah, jadi pak Nuno selaku guru olahraga kelas sebelas A menggabungkan dua kelas tersebut menjadi satu.


"Paham semua?" teriak Pak Nuno kepada semua siswa yang sudah hadir di tengah lapangan.


"Paham Pak!" teriak semua anak muridnya.


Olahraga pun dimulai dengan pemanasan terlebih dahulu, barulah kemudian guru olahraga tersebut membagi dua tim untuk pertandingan bola voli putra dan putri.


Grup pertama dimulai dari voli putri, dimana Grael menyemangati kedua temannya yang ikut mewakilkan kelas mereka untuk bertanding. Pak guru yang sibuk memperhatikan anak muridnya bertanding, tidak sengaja menghalangi Grael yang sedang melihat pertandingan.


"Bapak awas, ih ... ngalangin aja!" Grael yang duduk di kursi mendorong tubuh Pak Nuno secara pelan dengan satu tangannya.


"Oh, kamu gak keliatan?" tanya pak Nuno sembari tertawa.


Grael hanya memasang wajah cemberutnya saat Pak Nuno tertawa, tidak sengaja menginjak kaki Grael yang masih terasa sakit. Grael pun mengeluh kesakitan dan sontak membuat Rangga melihat ke arah Pak Nuno yang sedang menyodorkan minyak hangat ke kaki Grael, berjalan mendekati mereka.


"Mau dibawa ke ruang UKS gak?" tanya Rangga yang ternyata diikuti oleh Irfan.


"Nah, minding kamu istirahat dulu di ruang UKS," perintah Pak Nino yang tidak sengaja menginjak kaki Grael.


"Sini, biar saya yang bawa dia ke ruang UKS." Irfan langsung mengangkat tubuh Grael tanpa mendapat jawaban dari sang empu terlebih dahulu.


Rangga yang melihat adegan tersebut menjadi panas dan cemburu kepada Irfan, dia memilih untuk mengikutinya dari belakang sembari melihat Grael yang merangkul tangannya di leher Irfan.


"Loh kenapa?" tanya dokter yang sedang piket di UKS hari ini.


Rangga menjelaskan tentang kaki Grael secara terperinci, hingga membuat Irfan heran dengan Rangga yang mengetahui tentang kaki gadis yang dia suka.


Dokter langsung memeriksa dan memberikan obat kepada Grael, untuk sementara Grael berada di ruang UKS sedangkan Rangga dan Irfan disuruh kembali ke lapangan.


"Gue, ke lapangan dulu ya! Lo jangan banyak gerak, dengerin apa kata dokter." Irfan segera keluar bersama dengan Rangga saat Grael tersenyum dan mengucapkan kata terima kasih.


Belum juga mereka jauh, Rangga menyuruh Irfan untuk kembali kelapangan lebih dulu, karena dia ingin mengambil barang yang tertinggal di atas meja sang dokter.


"Loh, Ngga? Kok, Lo balik lagi? Kenapa?" tanya Grael.


"Dokter Sasa ke mana?" tanya Rangga yang melihat ruangan UKS.


"Ke toilet, ada apa?"


"Doain aku menang ya? Setelah pertandingan selesai, aku mau ... kamu jangan terlalu dekat sama Irfan!"


"Loh kenapa? Apa hak kamu melara—”

__ADS_1


Rangga langsung mencium kening Grael sembari membisikan kata yang membuat Grael tersipu malu, Rangga pun tersenyum dan menyuruh Grael untuk lebih banyak istirahat, kemudian dia segera keluar dari ruangan UKS sembari mengedipkan matanya.


To be continued...


__ADS_2