
"Dasar, masih kecil sudah pintar merayu Erlangga, lihat saja nanti. Aku bakalan rebut Erlangga dengan mudah!" gerutu Sherly yang tidak terima bila Grael bisa kembali menyerang kata-katanya.
Sementara itu di dalam mobil, Grael terus mendiami Erlangga, bahkan jam tangan pemberian dari suami pun dia tolak begitu saja. Hatinya masih kesal bila Erlangga menutupi dari dirinya.
"Sayang, dengerin aku dulu!" bujuk Erlangga. Dia mencoba meraih tangan Grael, tetapi istrinya itu menangkis begitu saja.
"Don't touch me! Nggak usah sayang-sayanganya ... kenapa sih Kak Erlangga nggak mau jujur sama aku?" tanya Grael dengan lirih seraya menatap ke arah jendela, karena dia masih enggan untuk melihat wajah sang suami.
"Aku sudah jujur sama kamu, apanya yang bohong!" ucap Erlangga yang mengingatkan Grael.
"Tapi Kak Erlangga nggak bilang itu karena nolongin dia, udah gitu sampai peluk-pelukan!" Grael memajukan bibirnya seperti anak kecil yang merajuk.
"Astaga, nggak pelukan! Cuma—"
"Cuma apa? Cuma nyentuh? Aahh, udah Akkh ... nggak mau dengar!" bentak Grael, dia menutup telinganya agar tidak mendengar ucapan Erlangga.
Grael memilih untuk memejamkan matanya, sembari memasang headset di telinga, agar tidak mendengar alesan apapun yang dilontarkan oleh sang suami.
Sepanjang jalan mereka berdua hanya terdiam, sampai akhirnya begitu mobil berhenti di pintu utama, Grael langsung masuk begitu saja tanpa menunggu Erlangga.
Gerakan langkah kaki semakin cepat ketika Grael tahu Erlangga mencoba untuk mengejarnya, sampai dia menabrak Rangga saat adik Erlangga itu baru keluar dari kamar.
Sontak saja Rangga langsung menangkap tubuh Grael agar tidak terjatuh dan masuk ke dalam dekapannya, sehingga tubuh mereka begitu dekat. Rangga melihat jelas manik mata Grael untuk beberapa saat kemudian sebelum Erlangga menarik lengan Grael dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
"Aakkhh, sakit!" keluh Grael ketika dirinya dihempaskan ke atas kasur begitu saja oleh Erlangga.
"Ngapain peluk-pelukan segala?" tanya Erlangga.
"Siapa yang peluk, sih?" ucap Grael, kini dia tersadar dengan ucapannya sendiri. Dia langsung terdiam mungkin posisi Erlangga dengan sekertaris itu seperti dia dan Rangga. Namun, dia kembali membuka suaranya untuk membela dirinya sendiri.
__ADS_1
"Jadi maksud kamu, aku di samain sama dia? Jangan samain aku sama pacar kamu!" Grael hendak bangun tapi suaminya mendorongnya lagi hingga tubuh Grael berada di bawah kungkungan Erlangga.
"Aku nggak samain kamu sama dia, aku cuma ingin kamu mengerti, kalau itu tidak di sengaja! Dan dia bukan pacar aku, kamu harus percaya sama aku, El," ujar Erlangga dengan lembut, dia memendam kan wajahnya ke belahan dada sang istri, dia tidak ingin berdebat dengan istrinya hanya karena orang lain.
Tangan Grael perlahan mengelus rambut sang suami, dia mencoba untuk berkata jujur pada Erlangga bila dia tidak suka dengan sekertaris itu, kalau Sherly terlalu dekat dengan Erlangga.
"Aku tidak suka cara sikap dia ke kamu, kalau dia bukan pacar kamu, kenapa kamu biarkan dia menyentuh kamu?" tanya Grael saat keduanya masih di posisi saling berpelukan dan wajah Erlangga masih berada di atas dada sang istri.
"Aku tidak pernah mengizinkan wanita siapapun menyentuh aku, aku sudah kasih tahu sama dia!" ucap Erlangga, dia pun mengubah posisi berada di samping Grael dan menarik bahu istrinya agar berada di dalam pelukannya.
"Ok, kali ini aku maafkan, tapi awas kalau sampai dia nyentuh kamu lagi, aku pastiin untuk kamu tidak bisa menyentuhku selama seminggu!" ancam Grael, dia mencubit perut Erlangga hingga membuat sang empu kesakitan.
Erlangga pun menahan tangan sang istri agar Grael berhenti mencubit perutnya, lalu mengecup bibir ranum yang menjadi candunya, sampai wanita itu menggigit gemas bibir bawah Erlangga.
"Aaakh, sakit ... Yank!" keluh Erlangga.
"Coba lidahnya keluarin!" pinta Erlangga dengan jahil, lalu dia jilat lidah Grael dengan lidahnya saat sang istri menjulurkan lidahnya. Terjadilah adu silat lidah antara mereka berdua seraya tertawa bersama.
...----------------...
Siang hari di area luang lingkup sekolah, sesuai dengan ucapan Rangga kali ini dia tidak akan melepaskan Emira begitu saja, ketika jam istirahat ke dua telah berbunyi dan semua murid berkumpul di kantin utama untuk mengambil makan siang mereka yang sudah disediakan dari pihak sekolah.
Sorot mata Rangga ketika sudah melihat Emira sedang tertawa dengan teman-temannya langsung saja dia mendekat ke arah gadis berambut pirang.
"Boleh pinjam temannya?" tanya Rangga pada sahabat Emira. Tanpa mendapatkan izin, Rangga langsung menarik tangan Emira begitu saja.
Emira yang paham maksud Rangga, menyuruh temannya untuk tidak terlalu cemas dan menyuruhnya untuk duluan pergi ke kantin, sedangkan dia terus mengikuti langkah kaki Rangga melangkah.
Kali ini, Emira berusaha untuk tenang menghadapi apapun yang terjadi, walaupun setiap kali berada di dekat Rangga membuat jantungnya selalu berdegup dengan kencang.
__ADS_1
"Kak, kita mau ngapain di sini?" tanya Emira yang takut bila mereka ketahuan oleh pihak sekolah ataupun teman-teman lainnya.
Rangga langsung mengunci pintu ruangan ganti baju tim futsal, kemudian memepet tubuh Emira hingga gadis berambut pirang itu mentok ke dinding.
"Kak." Emira menahan dada Rangga agar posisi mereka tidak terlalu dekat.
"Aku mau kejelasan dari kamu soal kemarin!" Rangga menatap mata Emira dengan tatapan serius.
Mendengar Rangga berbicara seperti itu membuat Emira menarik napas panjangnya yang dia hembuskan secara perlahan, Saliva yang dia telah pun sebagai tanda dia untuk menguatkan dirinya bila dia bisa mengambil keputusan dengan baik.
"Kemarin sudah sangat jelas aku bilang ke kamu, bahwa lupakan apa yang pernah terjadi dengan kita saat berada di dalam mobil, anggap aja itu kecelakaan yang tidak di sengaja," ujar Emira yang membalas menatap Rangga.
Rangga mengeraskan rahangnya ketika mendengar ucapan Emira yang membuat harga dirinya dipermainkan, begitu mudahnya Emira berbicara seperti itu pada dia.
"Jadi maksud kamu, aku ini hanya pelampiasan kamu gitu?" tanya Rangga, dia tersenyum seakan mengejek dirinya sendiri begitu bodohnya dia mencintai Emira.
"Bukan gitu!" ucap Emira.
"Terus kamu pikir, aku cowok bodoh yang sudah suka sama cewek yang ternyata sudah bertunangan? gitu!" Rangga menaikan satu oktaf nada bicaranya.
"Buk—"
Belum sempat Emira melanjutkan ucapannya, Rangga sudah lebih dulu marah dan berteriak membelakangi Emira. "Kamu pikir, kamu bisa sesuka hati kamu mempermainkan perasaan aku? Hah!"
Rangga membalikan badan dan memukul tembok sebagai pelampiasan rasa amarahnya karena sudah di permainkan oleh gadis berambut pirang itu. Sehingga membuat Emira berteriak ketakutan.
"Jangan kamu pikir bisa sesuka hati mempermainkan perasaan aku, Emira!" Rangga begitu kesal dihadapan Emira, hingga dia menarik dagu Emira dan mencium paksa sesuka hatinya untuk melampiaskan rasa emosinya
To be continued...
__ADS_1