
Alunan lagu yang dibawakan oleh Irfan begitu romantis, walaupun Grael tidak menyukai Irfan ataupun berniat menolak cinta Irfan. Namun, biar bagaimanapun juga Grael tetap menghargai usaha Irfan dalam menyampaikan rasa cintanya.
Grael tersenyum dan kadang ikut bernyanyi bersama Irfan membawakan sebuah lagu cinta, dan pada saat lagu berakhir. Irfan memberikan sebuah boneka dan coklat pada Grael.
"El, aku harap ... kamu mau jadi pacar aku," ucap Irfan dengan tulus.
"Dah, terima El," ucap Anjas.
"Terima ... terima ... terima!" seru semua teman-temannya.
Grael pun berfikir sejenak, sebelum dia menjawab pertanyaan Irfan. "Fan ... hmm, terima kasih ya, udah tetap berusaha buat menunjukkan rasa suka Lo, gue minta maaf kalau gue gak bisa terima Lo sebagai pacar gue. Gue ... udah punya tunangan."
"Tu–tunangan?" Irfan terkejut dengan ucapan Grael, gadis itu mengangguk sebagai tanda menyakinkan ucapan Irfan.
Bukan hanya Irfan yang terkejut dengan ucapan Grael, melainkan juga pada teman-temannya. Mereka yang begitu dekat dengan Grael merasa tidak dihargai oleh sahabatnya sendiri. Ada rasa kecewa saat mendengar ucapan Grael, bahwa dia sudah memiliki tunangan.
Irfan pun terdiam dengan seuntaian senyum getirnya. Dia berusaha untuk tetap terima apa yang menjadi keputusan Grael. "Oke, gue terima penolakan Lo sebagai pacar, tapi ... jangan tolak gue sebagai sahabat, ya?"
Irfan memberikan bunga dan coklat pada Grael, walaupun gadis itu sudah menolaknya. Dia merentangkan kedua tangannya agar menerima pelukan dari Grael sebagai sahabatnya.
"Jangan jahuin gue ya, hanya karena Lo udah punya tunangan dan merasa gak enak didekat gue! Gue bakalan jaga sikap gue sewajarnya sebagai sahabat. Asal Lo gak menjauh dari gue. Please!" Irfan meneteskan air matanya sembari memeluk erat Grael sembari mencium keningnya.
"Grael!" teriak Rangga yang sudah salah mengartikan situasinya. Dia berjalan ke arah Irfan yang memeluknya dengan sangat erat, lalu menariknya dengan kasar.
Semua mata tertuju pada Rangga, Grael pun mencoba untuk menenangkan perasaan Rangga, dia menjelaskan bahwa dia tidak menerima Irfan sebagai pacarnya.
"Loh, kenapa kamu jelasin ke dia? Terus kenapa Lo marah?" tanya Irfan yang heran melihat Rangga.
"Ya, jelas gue marah! Kenapa?" tanya Rangga yang sudah kalut dengan rasa cemburu tingginya.
"Rangga, udah!" tahan Grael saat Rangga membalas dorongan Irfan.
__ADS_1
"Udah ditolak, kan? Udah tahu, kan? Kalau dia udah punya tunangan? Jadi harus sadar diri, jaga jarak ... jangan sembarangan main peluk tunangan orang!" protes Rangga dengan emosi sembari menggenggam tangan Grael dengan erat.
"Ck! Nyuruh gue buat jangan sentuh tunangan Orang. Nah, Lo sendiri apa?" Irfan melirik ke arah tangan Grael dan Rangga.
"Heh! Jadi Lo belum tahu siapa tuanangan Grael?" Rangga mencium tangan Grael di depan semua orang sembari menarik tubuh kekasihnya agar masuk dalam dekapannya
"El ... maksudnya apa?" tanya Ernata yang sedikit kecewa.
"Di–dia ... dia, tunangan gue!" ucap Grael yang mencoba menjelaskan kepada semua sahabatnya.
Semua menjadi terdiam mendengar pengakuan Grael, Veby yang menyukai Rangga secara diam-diam. Begitu sakit saat tahu ternyata Rangga adalah tunangannya Grael. Dia meneteskan air mata dan tubuhnya mudur secara perlahan.
"Bew—"
"Gu–gue, balik duluan." Veby langsung berlari menjauh dari para sahabatnya.
"Veby!" panggil Grael yang mencoba untuk mengejar sahabatnya. Namun, ditahan oleh Rangga.
"Nat ... gue—"
"It's oke, biar Veby gue yang bilang. Lo gak usah khawatir, bay the way ... selamat ya buat kalian! Semoga langgeng." Ernata mencoba tersenyum kepada Grael dan Rangga.
"Kalau gitu ... kita balik dulu ya," ucap Grael yang merasa bersalah.
"Hmm, hati-hati, ya." Ernata melambaikan tangannya.
***
Setelah bertemu dengan Marvin, Erlangga menyibukan dirinya dengan berbagai kegiatan di dunia hiburan, dia juga mulai pokus untuk melihat hasil data laporan perusahaan ibunya dan juga Group Jaya.
Namun, semua kesibukan itu membuat dirinya semakin merindu dengan gadis remaja yang sudah menaklukan hatinya. Sampai akhirnya dia menyerah pada rasa rindu yang terus menyiksanya.
__ADS_1
Erlangga pergi menghadiri acara sesama kalangan artis untuk mengobati rasa rindunya terhadap Grael, dia menenggak sebotol minuman beralkohol untuk melepas rasa sakit yang dia rasakan.
Rio yang mengetahui bahwa Erlangga sudah mabuk berat langsung membawa dia ke kamar hotel. "Astaga, Er ... gue mesti gimana sih buat Lo jangan kaya gini, hah!"
Ucapan makian terus Rio lontarkan pada pria mabuk itu dengan kesal. Sudah berusaha paya Rio memberi kesibukan pada Erlangga agar tetap pokus pada karier dan usahanya untuk merebut hak milik dia. Namun, tetap saja Erlangga begitu rapuh soal cinta.
"Lo ... mesti putus dari anak ingusan, terus nikah sama gue!" Erlangga menjawab pertanyaan dari Rio dengan suara ciri khas orang mabuk.
Managernya itu tidak memperdulikan ucapan alas Erlangga, dia tetap pokus membawa artisnya sampai ketempat tidur, lalu membantingnya. Dia pun mengambil lap basah untuk mengelap tubuh Erlangga.
Beberapa menit Rio meninggalkan Erlangga untuk mengambil air yang berisikan baskom, ternyata Erlangga sudah berbicara pada seseorang lewat ponsel selulernya.
Sembari menangis tersenduh, dia meminta Grael untuk memilihnya, Rio yang tidak tega melihat sahabatnya itu, merebut ponsel dari tangan Erlangga. "El, maaf sudah ganggu waktu kamu ... Kakak harap kamu tidak usah hiraukan ucapan Erlangga. Sekali lagi, atas nama Erlangga. Kakak minta maaf sudah buat kamu tidak nyaman."
"Ah, iya kak. Tidak apa-apa," sahut Grael lewat seberang telepon.
Rio pun mematikan sambungan teleponnya, lalu melihat ke arah Erlangga yang sudah berada di kamar mandi, memuntahkan segala isi perutnya yang bercampur alkohol.
"Er ... Er ... sok-sok'an mabuk." Rio memijat bahu sahabatnya, setelah itu membawanya ke tempat tidur.
"Balikin dia ke gue, Yo ... balikin dia," rengek Erlangga kepada Rio saat managernya itu menyelimuti tubuh Erlangga.
"Gue gak janji, tapi gue akan berusaha ngebantu lo, merebut semua yang seharusnya menjadi milik Lo!" Rio melihat raut wajah Erlangga yang perlahan mulai tertidur lelap.
Rio pun kembali berkutik melihat hasil laporan data Group Jaya, begitu banyak tikus-tikus yang meraja lela di perusahaan tersebut yang semestinya di pegang oleh Erlangga tapi sekarang akan diberikan oleh Rangga Louis.
Perusahaan Group Jaya yang dikelola oleh Josua sebagian besar delapan puluh persen milik keluarga Calista, dan perusahaan di kota M milik Calista yang dikelolah oleh Erlangga sudah ditandatangani untuk posisi Rangga.
"Oke, tikus-tikus kotor ... kita akan liat seberapa mahirnya kalian berlari." Rio tertawa melihat layar pada laptopnya yang sudah menyiapkan jebakan untuk memberantas korupsi di perusahaan Group Jaya dan mengambil alih hak waris Erlangga.
To be continued ...
__ADS_1