
Suara ketukan pintu mengganggu aktivitas kedua sejoli yang sedang dirundung gelora asmara, hingga Rangga terpaksa menghentikannya dan membiarkan Emira membuka pintu kamar.
"Maaf, Non. Ini ada telepon dari Den Rio!" Maid itu langsung memberikan sebuah telepon genggam pada Emira.
Emira menjawab panggilan telepon dari Rio usai menutup pintu kamarnya, dia duduk di samping Rangga seraya berkata, "Ya, kenapa Kak?"
Selama Rio terus bicara diseberang telepon, Emira begitu pokus mendengarkan apa yang diucapkan oleh sang kakak, nampak segurat senyuman yang terlukis di wajah wanita cantik milik Rangga, sampai sang kekasih pun menatap cemburu bagaimana cara Emira berbicara pada kakaknya sendiri.
"Ok, Bos!" ucap Emira dengan lantang ketika Rio memerintahkan sesuatu padanya lalu sambungan telepon pun dimatikan oleh Emira.
"Senang banget yang dapat telepon dari Kakaknya! Sampai senyam senyum gitu," celetuk Rangga yang merasa cemburu.
"Apa sih? Tadi itu, Kak Rio bilang kalau dia itu lembur, terus nanti pulangnya dia bersama kak Cherry." Emira mencubit pipi Rangga dengan gemas.
"Siapa itu, Kak Cherry?" tanya Rangga yang penasaran.
"Calon istrinya Kak Rio," jawab Emira dan hanya dijawab oleh Rangga dengan anggukan.
"Ow," sahut Rangga yang kini menarik pinggang Emira agar lebih dekat dengannya.
Mereka pun kembali menikmati film yang telah dimulai sejak sejak 30 menit lalu, di mana film itu menceritakan tentang sebuah persahabatan yang berubah menjadi cinta. Yang berhasil menguras emosi dan air mata Emira.
"Itu cowok dodol banget sih jadi orang, kalau cinta tinggal bilang! Apa susahnya sih? Kan jadi ditikung sama sahabatnya sendiri." Komentar Emira pada tayangan yang dia tonton.
__ADS_1
Rangga pun langsung terkejut mendengar celotehan dari wanita yang ada di sebelahnya, terlihat begitu jelas bagaimana Emira memberikan komentar yang pedas pada salah satu pemeran tokoh film yang mereka tonton. Dan baru saja Rangga ingin minum tetapi dia sudah mendengar kembali kata umpatan untuk pemeran tokoh utama wanita.
"Ya Tuhan, udah tahu sama-sama suka, tapi masih aja gak ada mau yang ngungkapin perasaan lebih dulu! Kalau aku jadi ceweknya udah dari awal aku ungkapin perasaan! Kesel banget aku sama ceweknya, malah nerima cowok lain buat jadi pacarnya!" cecar Emira yang begitu kesal.
Rangga hanya menggelengkan kepala seraya tertawa melihat kekasihnya itu begitu menggemaskan saat mengomentari film yang mereka tonton, dia pun membuka bungkus permen lalu memakannya.
Film pun berlanjut pada tahap puncaknya di mana akhirnya pemeran utama wanita dan pria bisa mengungkapkan perasaan mereka, saat itu juga film berlanjut pada adegan di mana pemeran utama prianya mencumbu mesra wanita yang selama ini dia cintai.
Emira yang melihat adegan tersebut langsung memalingkan wajahnya, di mana mukanya tambah memerah saat dalam adegan itu seakan nyata. Suara ******* si wanita meringis kesakitan akibat pengalaman pertama baginya membuat degup jantung Emira semakin kencang.
Rangga pun tidak kalah ikutan menegang saat melihat bagaimana pria itu melakukan untuk pertama kali bersama orang yang dia cintai, dia melirik ke arah calon istrinya dan ternyata sudah lebih dulu memerah menahan rasa malu saat adegan itu berputar dengan jelas.
Rangga tersenyum melihat Emira bersikap seperti itu, dia menarik dagu Emira agar melihat ke arahnya lalu berkata, "Mau mencobanya?"
"Aku pun juga ingin merasakannya, Emira!" ucap Rangga dengan intonasi suara yang sudah parau akibat menahan gejolak hasrat yang sudah membara, apalagi saat suara dessahan pada film yang masih terus berputar itu semakin mencambuk hati nuraninya sebagai pria sejati.
"Please, Emira!" bujuk Rangga dengan berbagai jurus rayuan maut buaya pada betinanya, desiran yang aneh tidak bisa lagi dapat Rangga tahan. Dia pun mengecup bibir Emira dengan lembut tanpa permisi. "Aku janji, akan pelan-pelan melakukannya!"
Emira hanya terdiam tanpa menjawab permintaan Rangga, akal sehatnya ingin menolak tetapi tubuhnya mengkhianatinya. Emira tidak bisa berkutik saat Rangga terus memberikan sentuhan yang membangkitkan aliran aneh yang dia rasakan, membuatnya menjadi candu akan sentuhan Rangga lagi dan lagi.
Decapan lembut terus bergulir dari bibir, leher, telinga hingga ke bibir lagi. Sampai Emira hanya bisa menerima serangan yang membuatnya melambung tinggi, tangannya meremas kuat rambut sang empu demi menciptakan sensasi yang luar biasa.
"Kak, I'm scared!" Emira menatap mata Rangga saat kini posisi mereka sudah berada atas kasur.
__ADS_1
"Percayalah padaku, aku akan membuatmu senyaman mungkin!" Rangga membuka apapun yang ada di tubuhnya lantas dia pun juga melakukan hal yang sama pada Emira.
"You are so beautiful, Honey!" Rangga menatapnya penuh dengan bangga.
Ya, kali ini Rangga tidak mau membuang waktu terlalu lama, dia tidak mau bila apa yang hampir dia lakukan gagal untuk kedua kalinya saat bersama Grael. Rangga pun membuat Emira senyaman mungkin agar wanitanya merasakan apa yang dia rasa saat ini.
"Aakh! Sa–sakit, Kak!" Emira mengeluarkan air mata ketika jemarinya menancap sempurna di punggung Rangga hingga darah pun mengalir di punggung sang empu.
"Oh my God! This is amazing, Emira! Oowh, so delicious." Mata Rangga terpejam, saat dia sudah berhasil mendapatkan apa yang dia mau dari Emira.
Rangga masih menikmati dengan membiarkan sang junior berada dalam sangkarnya untuk perkenalan pertama di rumah barunya, dia mengecup air mata Emira dan melullamat bibir itu untuk mengurangi efek sampingnya.
"Aahh, i love you, Emira ... i love you so much!" Rangga terus ******* seraya bekerja keras di bawah sana yang sudah tidak sabar untuk menyambut nikmat surgawi yang dia ciptakan.
Suara merdu yang mereka ciptakan pun saling sahut menyahut dikala si nikmat datang menyapa, bagaikan tepukan meriah dikala aktifitas Rangga dibawa sana yang saling beradu antara kulit dan indera peraba bertemu, membuat suara itu menyaingi teriakan merdu kedua sejoli.
Sampai pada suara mereka seakan-akan seperti serigala sedang mengaung begitu panjang, itulah akhir kisah kasih yang tengah berlomba sampai di titik garis finished.
Rangga pun tersenyum ke arah Emira dengan deru napas yang masih tersengal, dia ambruk di samping pujaan hatinya setelah mengecup kening Emira sembari mengucapkan kata, "Thanks, Honey!"
Emira melihat ke arah samping, ternyata Rangga sudah memejamkan mata seraya memeluk tubuhnya yang masih polos. Dia melihat setiap bentuk wajah calon suaminya dengan seksama, hingga bibir itu mengembang dengan senyuman manis. Akan tetapi, dia teringat sesuatunya. "Kak, aku takut hamil!"
To be continued...
__ADS_1