
"Ok, kalau tidak mau, padahal kalau kamu mau ... Papi mau menyuruh Pak Beni untuk menjemput Grael ke sini sebagai permintaan maaf Papi, tapi—"
"Jam berapa?" tanya Erlangga dengan ketus.
Ada segurat senyuman di sudut bibir pria paru baya itu, ketika anaknya mau menemui kolega paling berpengaruh kepada Grup Jaya, dia memberikan alamat dan jam untuk Erlangga bisa menemui kolega itu.
"Kamu boleh bawa Grael dan perkenalkan dia sebagai istrimu, karena dia sudah tahu siapa menantu Papi dan ingin bertemu dengan Grael!" ujar Josua yang tersenyum.
"Nggak usah senyum-senyum, udah tua! Nanti nggak bisa balik lagi tuh kulit seperti semua," ucap Erlangga yang masih merajuk dengan ayahnya.
"Aiiss ... dasar anak ini!" Josua melempar pulpen ke arah wajah Erlangga ketika dia hendak meninggalkan ruangan kerja lalu mengejar Erlangga untuk memberi anak itu pelajaran.
Erlangga bangun dari kursinya untuk menghindar dari kejaran sang ayah ketika Josua memegang tongkat kesayangannya untuk memukul anaknya.
"Eh, iya Pih, maaf, maaf! Erlangga keceplosan! Ampun, Pih!" teriak Erlangga ketika mendapat amukan dari Josua, dia pun berlari ke arah pintu untuk keluar. Namun, tiba-tiba seseorang membuka pintu itu sehingga dia yang mendapat pukulan dari tongkat ajaib Josua.
Untung saja Erlangga bisa menghindar dari tongkat keramat milik Josua, kalau tidak dia akan bernasib sama seperti Rio yang mendapat benjolan besar di keningnya.
Erlangga tidak bisa berhenti tertawa melihat wajah Rio mendapatkan telur di keningnya, Dia pun duduk di samping Rio sembari memberikan kompresan air es ketika mereka bertiga duduk sofa dalam ruangan itu.
"Berhentilah tertawa! Atau kamu yang akan mendapat giliran!" bentak Josua.
__ADS_1
Rio hanya memasang wajah masam sembari mengkompres keningnya yang sakit akibat terkena pukulan dari Josua dengan air es, dia pun menatap tajam ke arah Erlangga yang masih terus menertawainya.
***
Usai selesai ulangan di hari pertama, semua murid pada berhamburan untuk keluar. Rangga yang berpapasan dengan Emira mencoba menghindar tanpa melihat wajah Emira, langkahnya terus berjalan ke area parkir mobil.
Begitu Rangga memencet tombol kunci pada mobilnya, Emira langsung masuk ke dalam mobil Rangga begitu saja, dia pun duduk manis setelah memasang sabuk pengaman.
"Ngapain? Turun!" Rangga terkejut dengan tindakan Emira.
"Nggak mau!" sahut Emira dengan judes.
"Turun, nggak!" pinta Rangga dengan tegas.
Rangga pun tidak mau ambil pusing, dia langsung masuk dan duduk di kursi pengemudi lalu menjalankan mobilnya keluar dari area sekolah.
"Maaf!" ucap Emira yang membuka suara untuk memecahkan keheningan di dalam mobil. Namun, tidak digubris oleh Rangga.
Emira mencoba sekali lagi untuk meminta maaf kepada Rangga tetapi pria yang ada di sampingnya tetap tidak bersuara dan terus bergeming.
Emira pun memasang bibir yang seperti anak kecil, begitu kesal dengan sikap Rangga yang ternyata benar menjauhinya tapi begitu akrab dengan kakaknya. Dia pun meremas ujung roknya hingga terlihat jelas paha yang putih mulusnya tanpa dia sadari.
__ADS_1
Rangga yang melihat bibir Emira begitu menggemaskan mencoba untuk bersabar menahan tawanya, sorot matanya juga melihat ke arah paha putih mulus Emira dan berniat mengambil jaket yang ada di kursi belakang untuk menutupi paha Emira.
Akan tetapi ketika dia menepikan mobilnya dan mengambil jaket yang ada dibelakang, Emira langsung mencium pipi Rangga begitu saja, sontak membuat Rangga membulatkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Emira.
Emira melepaskan ciumannya ketika dia tersadar dari pembuatan yang dia lakukan, Emira menundukan kepalanya sembari memejamkan matanya ketika dia sudah kembali ke posisi duduk yang benar.
"Maaf!" lirih Emira yang merasa bersalah dan Rangga masih bergeming.
"Kamu maunya apa sih? Kamu bilang kamu cinta sama Steven! Dan menyuruh aku untuk menjauh, sekarang giliran aku udah nurutin semua keinginan kamu, tiba-tiba kamu yang deketin aku terus ci—"
Belum sempat Rangga melanjutkan ucapannya Emira sudah memotongnya lebih dulu. "Ya, aku tahu aku salah! Aku memang sudah punya Steven tapi aku kesal liat Kak Rangga menjauh dari aku! Aku aja bingung kenapa perasaanku begini, aku nggak mau Kak Rangga berhenti buat ngejar aku, aku nggak suka lihat Kak Rangga tebar pesona dengan cewek-cewek lain di sekolah!"
Semua yang ada di benak Emira dia keluarkan begitu saja di samping Rangga, berharap Rangga mau mengerti dan memaafkan kesalahannya yang sudah menciumnya.
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan?" tegur Rangga yang masih menatap Emira walaupun gadis pirang yang ada di sampingnya menundukan kepalanya.
"Ya, aku tahu aku salah! Aku minta maaf!" ucap Emira yang ternya mengeluarkan air mata.
"Tidak akan aku maafkan! Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan!" Rangga menarik wajah Emira lalu mencium bibir yang sudah lama dia inginkan.
Awalnya ciuman itu hanya Rangga yang beraksi, tapi lambat laun Emira membalas setiap sentuhan yang lidah Rangga lakukan di dalam mulutnya. Tanganya pun merangkul pundak Rangga ketika mengikuti arahan dari pria itu.
__ADS_1
"Stev! Maafkan aku yang telah menyakitimu! Aku telah jatuh cinta padanya!" batin Emira yang menikmati ciuman itu.
To be continued...