Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
51. Perasaan tidak enak


__ADS_3

Hari semakin sore, Grael yang seharian menghabiskan waktu membaca buku pelajaran, selebihnya dia mulai mengabiskan waktu untuk mencari mata pecaraiannya sendiri yang diam-diam sudah lama dia lakukan melalui ponselnya.


Grael mendapatkan uang sendiri dan membantu Gracia mencari tambahan untuk biaya hidupnya sendiri yang Karina dan Gracia sendiri tidak mengetahui, karena selama ini uang keperluan Grael pemberian Gracia diberikan kepada Karina sebagian, sedangkan sebagian keperluannya dia dapat dari hasil jerih payahnya sendiri.


Begitu selesai jemari lentik Grael mengutak-atik pada layar sentuh di ponselnya, dia menelepon ibu dan kakaknya walapun hanya sekedar menanyakan kabar untuk mengisi kejenuhan. Karina dan Gracia berpesan bahwa Grael dan Erlangga harus menunda momongan terlebih dahulu, karena melihat usia Grael belum genap menginjak 18 tahun dan masih sekolah.


Menyadari nasihat dari ibunya, perasaan Grael menjadi khawatir saat mengingat dia dan Erlangga sudah melakukan hubungan badan. Dia pun langsung mematikan sambungan teleponnya dan segera melihat perhitungan tanggal masa suburnya.


"Astaga, El ... lo ceroboh banget sih, sangking enaknya sampai lupa!" gerutu Grael pada dirinya sendiri. Dia mengigit jemarinya untuk mengusir rasa ketakutannya, saat mengingat sudah tiga kali dia melakukan hubungan badan sama Erlangga dan sang suami selalu mengeluarkannya di dalam.


"Ok, tenang Grael! Rileks ... tarik napas, hembuskan! Tarik lagi ... dan ... aaakkkhh! Gimana dong? Kalau gue hamil? Astaga!" Langkah Grael yang mondar-mandir membuatnya tambah frustasi.


Grael pun memilih untuk keluar dari kamar, untuk menetralkan berbagai macam pikiran. Dia mencoba pergi ke paviliun selatan milik Erlangga yang ternyata paviliun milik Rangga adalah sebelah Utara.


Perlahan Grael mulai melangkah masuk ke dalam halaman paviliun Selatan, saat tangannya menggenggam gagang pintu itu, ternyata pintunya memiliki kata sandi dan otomatis terhubung dengan alarm di ponsel Erlangga.


"Kok, nggak bisa ya? Pakai kata sandi apa? Kalau pakai kata sandi, kenapa dia nggak ngasih tahu? Cuma nyuruh saja!" Grael memasang wajah masamnya. Langkahnya pun ingin kembali ke rumah utama, melewati jembatan yang terdapat kolam ikan. Dia pun berhenti sejenak menikmati pemandangan sekitar halaman yang begitu luas dari arah paviliun Selatan, Utara, Timur, Barat dan Utama.


Air yang begitu jernih pada kolam ikan tersebut dapat Grael lihat hingga ke dasar yang ternyata cukup dalam, terdapat banyak bebatuan untuk memperindah pada kolam ikan tersebut.


"Permisi, Nyonya!" ucap tukang kebun yang menyapa Grael saat berpapasan ingin memberi makan ikan.


"Ah, iya silahkan! Hmm ... boleh saya coba?" tanya Grael tanpa ragu mengambil makanan ikan.


"Eh, jangan Nyonya! Nanti saya yang kena marah Tuan besar!" ucap Pak Rudin selaku tukang kebun yang melarang Grael.


"Tenang saja! Tuan besar tidak akan marah, karena saya sendiri yang mau." Grael tersenyum dengan ramah, membuat Pak Rudin merasa serba salah membiarkan Grael ikut memberi makan ikan peliharaan milik majikannya.


Di sela-sela aktifitas Grael yang membatu Pak Rudin memberi pakan ikan, sedangkan Pak Rudin membersihkan kolam ikan. Seorang maid datang menghampiri mereka. "Pak Rudin, dipanggil oleh kepala maid untuk menemuinya di ruang briefing!"


"Nyonya, maaf ... saya permisih sebentar!" Pak Rudin meninggalkan Grael yang masih asyik menebar makanan ikan di kolam itu.


Tidak lama selang Pak Rudin baru saja pergi bersama maid, tanpa diketahui oleh Grael. Seorang dengan senyum liciknya menghampiri Grael dan mendorong tubuh itu masuk ke dalam kolam ikan yang cukup dalam.

__ADS_1


Suara seorang yang jatuh ke dalam air, begitu jelas di telinga si pendorong. Terukir jelas senyum smirk-nya dengan angkuh melipat ke dua tangannya ketika berhasil mendorong tubuh Grael dengan mudah.


Grael yang mendapat dorongan dari belakang begitu terkejut saat dirinya jatuh ke dalam kolam, hingga tubuhnya bergerak panik untuk bisa sampai ke permukaan air. Di saat itu pula, dengkulnya terkena bebatuan akibat gerakan bebas yang dia lakukan membuat kakinya mendadak keram.


Sorot mata Grael yang melihat seorang maid berdiri tepat di jembatan sedang memandanginya, dia berusaha melambaikan tangannya untuk meminta pertolongan pada maid itu. Namun, maid itu justru hanya tersenyum lalu meninggalkan Grael yang hampir kehabisan napas dan tenaganya.


"Mama, Kak Cia, tolong Grael!" Grael perlahan mulai lemas, pandangan matanya pun mulai meredup.


"Rangga, maafin aku! Kak Erlangga ... aku ta—"


***


Luar negeri, seorang wanita paru baya begitu senang ketika mendengar dari orang kepercayaannya berhasil membawa kabar bahagia. Dia pun kembali ke kamar sang anak untuk melihat kondisi anaknya yang mendapat perawatan intensif dari rumah sakit.


"Rangga? Rangga ... kamu di mana? Rang—"


Kyliei membuka pintu kamar mandi, tetapi tidak menemukan sosok anaknya di sana, dia pun melihat ke arah balkon pada kamar tersebut tetapi tak kunjung jua dia melihat Rangga.


"Suster! Suster!" teriak Kylie panik saat tidak mendapati anaknya berada di dalam kamar.


"What?" Kylie merasa kesal dengan perawat yang bertugas untuk menjaga dan merawat kesehatan Rangga yang sudah di bayar malah oleh Josua.


Kylie membentak menggunakan bahasa asing dan melakukan tindak kekerasan pada perawat yang bertugas merawat Rangga, hingga perawat itu jatuh ke tersungkur kebawah. Kylie langsung menyuruh beberapa orang untuk mencari Rangga agar tidak kabur dan kembali ke tanah air untuk bertemu dengan Grael.


"Sial!" umpat Kylie ketika rencana pertamanya untuk menyakiti Grael berhasil. Akan tetapi anaknya lepas dari pengawasannya.


***


"Cut! Masuk ke scene selanjutnya!" teriak sutradara melalui megaphone yang ada di depan mulutnya.


Rio langsung memberikan tepuk tangan yang luar biasa saat adegan Erlangga begitu sempurna melakukan aksi kejar-kejaran motor dan masuk ke bawah mobil truk gandeng untuk melewati kejaran dari musuhnya.


Adegan selanjutnya, di mana saat Erlangga harus keluar tepat waktu sebelum bom buatan meledak dalam gudang untuk menyelamatkan Angelina yang menjadi lawan main dalam film tersebut.

__ADS_1


"Rolling and action!" teriak sutradara yang melanjutkan adegan yang menegangkan.


Semua kruk langsung bersiap pada tugasnya masing-masing, sedangkan salah satu tim terus mengarahkan Erlangga harus bergerak lebih cepat agar tidak terjadi kesalahan fatal.


"Nicolas!" teriak Angelina yang terikat di sebuah tiang dan memanggil Erlangga dalam sebutan nama pemeran yang dimainkan oleh Erlangga.


Tidak diragukan lagi, bakat akting Erlangga sungguh mengagumkan, di detik-detik yang menegangkan, Erlangga berhasil mengeluarkan Angelina dari dalam gudang tersebut.


Suara ledakkan pada gudang tersebut begitu kencang, api pun menyala dan berkobar begitu besar di belakang Erlangga saat dia menggendong Angelina dengan ala bridal style dengan wajah penuh keringat dan noda hitam, serta otot kekar pada lengannya terdapat luka-luka yang membuatnya semakin berhasil menampilkan acting yang sempurna.


"Cut! Ok, kita break sebentar!" suara sutradara yang berteriak dari kejauhan.


Semua kru dan pemain dalam film tersebut bertepuk tangan atas keberhasilan Erlangga yang memerankan Nicolas pada Film yang akan di liris tahun ini.


Mengetahui sutradara menyuruh untuk beristirahat sejenak, Erlangga langsung melepaskan Angelina begitu saja, hingga buat wanita itu kehilangan keseimbangan.


"Astaga! Erlangga ... kamu tega banget, sih!" keluh Angelina pada kakinya yang merasa sakit.


"Bravo!" Rio memberikan minuman untuk Erlangga saat Angelina masih berada di sampingnya.


"Ponsel!" pinta Erlangga yang entah kenapa selama melakukan adegan syuting, perasaanya tidak tenang. Dia menenggak habis air minum yang manager-nya berikan.


"Ngapain di sini?" tanya Erlangga yang melihat Angelina masih berada di sampingnya, dia pun segera pergi saat Rio memberikan ponselnya.


"Erlangga, tunggu!" Angelina ingin mengejarnya. Namun, Rio menahan agar wanita itu tidak mengikuti kemana Erlangga pergi.


Di sisi lain, Erlangga melihat layar ponsel yang hanya satu persen pada daya ponselnya, dia pun mendesah dengan kesal sembari duduk di kursi yang sudah disediakan oleh Rio lantas melihat pesan dan panggilan masuk ternyata sama sekali Grael tidak mengabarinya.


"Dasar kelinci kecil!" umpat Erlangga kesal, dia pun melihat rekaman cctv melalui ponselnya saat Grael membaca buku pelajaran bahkan saat istrinya tiga jam mengutak-atik pada layar sentuh.


Rasa penasaran Erlangga semakin penasaran apa yang istrinya lakukan pada layar ponselnya, dan ketika melihat wajah istrinya yang panik ketika selesai menelepon seseorang. Pandangannya terus melihat ke arah istrinya yang pergi ke paviliun miliknya sampai tiba-tiba ponselnya redup karena mati.


"Sial!" umpat Erlangga.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2