
"Ya ampun, sayang ... pelan-pelan makannya!" tegur Karina saat melihat Grael begitu lahap makan buah mangga muda yang dia cocol dengan sambel rujak.
Erlangga dan Rangga hanya terpaku melihat Grael makan mangga tidak merasakan asam dan pedas dari sambal yang dia ulek sendiri, anehnya Josua pun ikut menyantap rujak buatan sang menantu.
"Yank, sudah, Yank! Kamu belum sembuh juga." Erlangga mengambil buah yang sudah digigit oleh sang istri dari tangannya lalu dia masukan ke dalam mulut.
"Iiuuhhh ... gila, asem banget ini, Yank!" Erlangga menampakan ekspresi wajah yang kecut seraya meludah.
Rangga pun merasakan ngilu pada giginya saat melihat ekspresi wajah sang kakak yang begitu aneh, tetapi saat melihat cara makan sang ayah dan juga Grael membuat Rangga ingin mencoba.
"Kak, sekali lagi, abis itu udah!" Grael merengek saat Erlangga menjauhkan sambel dari hadapannya.
"Biar Papi yang ngabisin!" ucap Josua yang kesulitan bicara saat ekspresi wajahnya menahan asam dan pedas, keringat pun mengucur dari wajah Josua seiring suara desaahan dari bibirnya yang terasa panas.
"Pi, udah ah ... nanti Mami juga yang repot kalau Papi sampai sakit perut!" Rangga langsung memberikan air putih hangat untuk Josua.
Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi, terdengar oleh mereka semua yang duduk di belakang rumah dibawah pohon mangga. Karina bangun dari tempat duduknya seraya berkata, "Mama tinggal sebentar ya!"
"Siapa sih, Ma?" tanya Grael penasaran.
"Paling Ibu Saodah yang mau mesan kue," ucap Karina ketika dia berlalu masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang.
Mereka pun melanjutkan lagi acara ngerujak buah tangganya sampai akhirnya Erlangga nekat memasukan sambal rujak itu ke dapur agar sang istri berhenti makan rujak mangga.
***
Malam pun tiba, Rangga dan Josua pun pamit untuk pulang, sementara Erlangga dan Grael memutuskan untuk menginap di rumah Karina.
Pasangan pasutri itu sibuk menonton acara televisi yang menyiarkan berita tetang berbagai macam bentuk kriminal, sedangkan Karina sudah lebih dulu untuk masuk ke dalam kamar.
Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar Grael ingin membuka pintu, tetapi Erlangga mencegahnya.
"Kak Cia?" ucap Erlangga yang terkejut saat melihat Gracia datang bersama Marvin membawa begitu banyak makanan.
__ADS_1
"Hai, kamu juga di sini?" Gracia langung berlari memeluk adiknya yang duduk di sofa.
"Kak Cia?" Grael langsung membalas pelukan sang Kakak, dia pun melihat martabak kesukaannya. "Ya ampun martabak keju!"
"Kak Marvin yang beliin buat kamu," ucap Gracia yang mengusap pipi Grael, sebenarnya dia tahu bila adiknya sedang tidak baik-baik saja, karena terlihat luka lebam di pipinya seperti bekas tamparan dan juga bibir pucat Grael.
"Really? Ohh ... thank you," ucap Grael dengan manja saat Marvin tersenyum ke arahnya.
"Mama mana?" tanya Gracia.
"Mama sudah tidur, baru saja." Erlangga menjawab pertanyaan Gracia seraya memakan martabak keju pemberian Marvin untuk istrinya.
"Kak Cia nginep di sini?" tanya Grael, dia mengambil martabak keju kesukaannya sebelum sang suami yang menghabiskannya.
"Ya, Kakak ke kamar Mama dulu, ya!" Gracia langsung bangun dari duduknya dan pergi ke kamar Karina.
Sementara Marvin memilih untuk duduk di teras luar seraya menyalakan rokko dan menikmati suasana malam yang ditemani oleh paduan suara jangkrik.
"Nggak masuk, Kak?" tanya Erlangga yang ikut duduk di teras seraya memakai topi, dia melakukannya semata-mata karena profesinya sebagai artis meski sekarang dia mundur secara perlahan.
"Nanti, setelah El lulus sekolah!" jawab Erlangga.
Tidak lama kemudian, Gracia membawakan air minum untuk Marvin dan juga Erlangga serta tidak lupa dia membawakan cemilan untuk ke dua pria itu.
"Thanks, Kak!" Erlangga menyeruput minuman buatan Gracia.
"Sama-sama!" ucap Gracia yang perlahan masuk kembali ke dalam rumah.
Di sela-sela obrolan mereka tentang dunia bisnis, Marvin pun bicara serius tentang membangun rumah untuk mertua mereka, Marvin tidak mau bila para tetangga berbicara buruk tentang Karina, sehingga dia berniat membawa Karina untuk pindah besok ke rumahnya. Erlangga pun berkomentar bahwa dia sudah membelikan rumah untuk mertuanya—Karina, tetapi dia belum menyampaikan pada Grael karena waktunya selalu kurang tepat.
"Sayang, tidur yuk! Ngantuk!" rengek Gracia ketika menunggu suaminya mengobrol dengan Erlangga begitu lama.
Marvin tersenyum lalu meneguk habis kopi yang dibuat oleh istrinya, lantas menepuk bahu adik iparnya. "Di sini nggak ada kedap suara, jadi jangan lupa pakai headset!"
__ADS_1
Marvin memasang senyum lebarnya seraya mengangkat ke dua alisnya sebagai tanda mengejek Erlangga, dia tahu pasti malam ini Erlangga tidak akan bisa melakukannya dengan Grael, melihat kondisi Grael yang kurang sehat.
"Ck! Nggak malu emang di dengar Mama?" sahut Erlangga dengan kesal, tetapi Marvin hanya tertawa sembari masuk ke dalam kamar Gracia.
Erlangga masuk ke dalam dan melihat istrinya masih sibuk menonton televisi seraya memakan martabak keju yang habis seporsi. Senyum Erlangga pun mengembang saat mulut istrinya belepotan dengan keju yang melumer.
"Manis," ucap Erlangga yang menjilat bibir sang istri.
Grael hanya terdiam, dia enggan untuk menanggapi sentuhan manis dari Erlangga, hatinya masih perih saat mengingat betapa mengerikannya Erlangga ketika memaksa dia untuk melayaninya, karena itu Grael hanya terdiam dan tersenyum kaku.
"Apa aku masih belum di maafkan?" tanya Erlangga dengan lembut saat menatap mata istrinya dengan lekat. Dia tahu bila Grael masih takut akan sikapnya.
"Maaf, sudah membuatmu takut! I promise I won't do it again!" Erlangga mengecup kening istrinya, lalu berkata, "Kita tidur sekarang ya, tidak baik tidur terlalu malam!"
Erlangga mematikan televisi lalu menggendong tubuh sang istri yang kemudian dia bawa masuk ke dalam kamar, lalu menguci pintu kamar.
"Tenang, aku hanya ingin tidur seperti ini!" Erlangga memeluk tubuh Grael dari samping. Tangannya mengusap rambut pajang hitam sang istri, sesekali dia mengecup kepala Grael sampai dia terus mengendus aroma tubuh sang istri di belakang telinga itu.
"Kak," ucap Grael yang mulai risih, dirinya masih belum siap bila kembali melayani biologis Erlangga, karena baru dua hari yang lalu Erlangga mengambilnya secara paksa meski sebelumnya sudah laki itu dapatkan sampai puas.
"El, aku sudah memecat Sherly, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan dia atau wanita lain, aku juga tidak tidur dengannya, dari sebelum menikah sampai menikah denganmu, aku tidak pernah melakukannya selain sama kamu, El!" Erlangga menangis di leher sang istri sembari memeluk erat tubuh tubuh itu.
"Aku melihat bagaimana kamu memeluk Sherly, aku juga melihat bagaimana sikap dan tawa kamu saat bersamanya, Er!" Grael ikut meneteskan air mata.
"Maaf, aku salah. Maafkan aku, El! Semua itu tidak benar, aku tertawa itu karena candaan Rio. Sumpah! Aku tidak pernah tertawa dengan wanita siapapun kecuali kamu yang buat aku tertawa. Demi Tuhan, El, aku tidak selingkuh atau menyakitimu!" Di sela-sela Erlangga menangis sembari bercerita, tangannya perlahan masuk ke dalam baju tidur sang istri.
"Apa kamu tahu, bagaimana sakitnya aku saat kamu memaksa aku untuk melayani kamu? Di saat kamu telah puas?" tanya Grael yang tanpa sadar tangan Erlangga sudah membuka pengait braa-nya.
"Maaf, Yank! Aku hilap, cemburu ... aku nggak kuat bila lelaki lain dekat dengan kamu, aku juga janji akan menjaga jarak dengan wanita manapun!" Erlangga langsung masuk ke dalam baju Grael lalu tanpa permisi dia menyesap begitu saja ke dua benda kenyal Grael.
"Kak, katanya nggak mau memaksa!" Grael langsung tersadar dengan perbuatan suaminya.
"Nggak kuat, Yank! Mau nyusu, boleh ya? Janji nggak lebih untuk malam ini!" ucap Erlangga yang memelas. Ternyata benar, apa yang di maksud dengan air mata buaya.
__ADS_1
To be continued...