
"Lo, benar-benar Wanita gila!" Rangga langsung bangun dari atas tubuh Bella dan bergegas pergi dari sana.
Tangan pintu kamar itu dibuka paksa oleh Rangga hingga menimbulkan suara dentuman yang keras, tetapi tubuhnya ditarik kembali oleh Bella saat dia berdiri di depan pintu lift.
Pada saat itu juga pintu lift telah terbuka Rangga langsung mendapat serangan dari Bella, wanita itu terus menciumnya meski Rangga sudah berusaha untuk memberontak. Hingga pada akhirnya, Rangga terpaksa mendorong tubuh Bella sampai wanita itu terjatuh ke lantai.
"Denger ya, sekali lagi Lo ngelakuin kaya begini! Gua nggak akan segan-segan untuk kasih loh pelajaran!" Rangga langsung pergi dari sana menaiki tangga darurat karena lantai dia dan lantai bila berbeda hanya satu lantai.
Rangga masuk ke dalam kamarnya dengan napas yang tersengal dan melihat Emira sudah tertidur di atas tempat tidur, dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi membasuh semua tubuh hingga bersih terutama bagian bibirnya dia tidak mau bila sang istri sampai mengetahui hal tersebut.
Begitu keluar dari kamar mandi Rangga pun masuk ke dalam selimut yang sama dengan Emira, dia memeluk tubuh sang istri dari belakang mencium bau yang dilapisi oleh kain tipis.
"Ayank, bangun!" Bisik Rangga saat hidungnya terus menggesek lembut di daerah tengkuk Emira.
Emira yang pura-pura tertidur mengetahui deru napas Rangga, hatinya begitu sakit pikirannya sudah berkeliling buana berbagai macam adegan prasangka terhadap sang suami. Berulang kali tubuhnya mendapatkan halusan lembut dari hidung sang suami pada kulit yang terlapisi oleh kain tipis.
"Yank ... masa malam pertama aku solo? Yank ... bangun!" rengek Rangga dengan manja saat napasnya masih tersengal akibat berlari menaiki anak tangga.
Tidak ada tanggapan sama sekali dari sang istri, Rangga terpaksa mengalah dan memilih tidur di samping emira. Akan tetapi, juniornya yang tidak bisa tidur membuat Rangga tidak jelas di belakang Emira.
"Yank, tega banget kamu sama aku! Aku ambil sendiri ya?" Rangga masuk ke dalam selimut dan mulai berada di bawah kaki sang istri untuk menelusuri kaki mulus Emira.
Emira yang awalnya tetap bertahan dengan berpura-pura tidur akhirnya membuka suara. "Kak, aku ngantuk! Lagian kan kamu pasti cape!"
"Aku nggak cape kalau udah liat kamu! Boleh ya ...."
Rangga terus menyerang Emira dengan memberikan sentuhan pada kaki jenjang mulus itu, sampai pada bagian aset milik Emira, dia pun memberikan sentuhan dengan mengigit pelan daging tembam itu.
Tidak di sangka oleh Emira, Rangga bisa seperti itu dengannya padahal baru saja dia bersama dengan Kakak tirinya tetapi sekarang dia meminta pada dirinya. Sungguh hatinya bagaikan diremas dengan kuat begitu sakit, tetapi apalah daya dia tidak mau bila hubungan dengan Rangga hancur seperti Grael dan Rangga kala itu.
__ADS_1
Sehingga malam pengantin mereka pun dilalui dengan panas, dia memberikan servis terbaik untuk sang suami agar Rangga bisa memilah bahwa dialah yang berkuasa atas tubuh dan jiwa Rangga.
***
Hari semakin berlalu. Setelah kembali ke negara asing, kini Grael kembali melanjutkan kehidupannya mencari ilmu di negera tesebut sedangkan Erlangga tetap bekerja di ruang kerjanya. Akan tetapi, sebelum sang suami bekerja, dia pun di antar oleh Erlangga terlebih dahulu ke kampus.
"Semangat belajarnya, Sayang!" Erlangga mengecup seluruh wajah sang istri sebelum Grael turun dari dalam mobil lalu berucap, "Nanti kalau sudah selesai kelas kabarin ya!"
"Siap, Bos!" ucap Grael. Dia pun turun dari dalam mobil dan melambaikan tangannya setelah itu barulah dia mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam area kampus saat mobil itu telah pergi.
Langkah kaki Grael semakin mantap ketika dia bertemu dengan para dosen yang begitu ramah-tamah, tetapi saat langkah kakinya ingin mendekat ke arah kelasnya. Salah satu mahasiswa universitas tersebut menjulurkan kakinya berniat untuk menjahili Grael.
Akan tetapi, nasib baik ada di posisi Grael sehingga dia bisa terhindar dari kejahilan salah satu mahasiswa tersebut. Grael dipanggil oleh seseorang yang membuatnya menghentikan langkah, dia melihat seorang yang memanggilnya itu adalah Diego.
"Hai," ucap Grael tersenyum ramah.
"Mau ke kelas?" tanya Diego pada Grael.
"Aku antar, biar gak ke sasar!" ucap Diego dengan senang hati.
Grael pun terkekeh dengan candan Diego, kakinya melangkah mengikuti ke mana perginya pria tinggi berwajah bule tersebut. Iya ternyata membuat para mahasiswa lainnya cemburu terutama orang yang ingin berniat jahat pada Grael.
"Ini kelasnya Tuan Putri Grael!" Diego membuka pintu kelas tersebut, lalu mengantarnya sampai ke dalam kelas dan itu membuat mahasiswa lainnya melihat ke arah mereka berdua.
"Thanks," ucap Grael dengan canggung saat melihat Diego menggeser bangku untuk dia duduk.
Tidak lama kemudian seorang profesor pun datang, dia langsung keluar dari kelas Grael dengan lambaian tangan tetapi dosen tersebut memanggilnya hingga langkahnya terhenti.
"Jangan lupa ditutup kembali!" ucap Prof. Nu.
__ADS_1
Diego pun tertawa begitu juga dengan mahasiswa lainnya yang sudah berada di dalam kelas, dia menutup pintu itu setelah keluar dengan perasaan senang. Entah perasaan apa yang dimilikinya tetapi yang jelas Diego tertarik dengan Grael.
Beberapa jam kemudian, jam mata kuliah Grael telah usai. Dia keluar dari dalam kelasnya dan ingin pergi ke kantin sebelum mata kuliah ke dua dimulai. Namun, belum sempat dia keluar dari kelas seseorang memanggilnya.
"Kamu, Grael kan?" tanya wanita muda itu yang menjulurkan tangannya. "Dona!"
"Grael!" balas Grael dengan senyuman.
"Ada mata kuliah lagi?" tanya Dona dan dia melihat anggukan dari Grael. "Oke, kalau begitu ... mau ke kantin?'
"Ya," sahut Grael yang langsung di rangkul hangat oleh temannya barunya itu.
Mereka memesan makanan usai duduk di bangku kantin, suasana terlihat ramai apalagi mereka duduk di pinggir kolam ikan yang begitu di gemari oleh para mahasiswa lainnya saat ke kantin.
"Dona!" panggil seseorang yang berada di belakang Grael.
"Hai, Jack!" Dona mengangkat tangannya seraya memberikan tahu bila dia duduk di sana.
Jack bersama temannya menghampiri Dona dan duduk di samping kedua wanita tersebut, terlihat jelas di mata Grael bila benar sangat akrab dengan Jack dan teman satunya tersebut mereka tidak canggung ketika dalam mencium pipi Jack.
Dona pun memperkenalkan Jack pada Grael, ternyata Jack adalah teman Dona yang satu lingkungan di apartemen. Sehingga tidak canggung bagi mereka begitu intim di muka umum, mungkin karena daerah tersebut adalah negara bebas sehingga sangat lumrah bagi mereka untuk melakukan hal semacam itu.
"Edward!" ucap seorang pria yang duduk di sebelah Grael.
"Grael!" sahut Grael dengan ramah.
"Sudah pada pesan makanan?" tanya Jack dan mendapatkan anggukan dari Grael dan Dona.
"Ya sudah, kalau begitu pesan yang banyak! Karena Babang Edward yang traktir," ucap Jack dengan senyuman yang memperlihatkan gigi putih berjejer dengan rapih.
__ADS_1
To be continued...