Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
94. Rangga bukan tipe Emira


__ADS_3

Pagi hari di ruang lingkup sekolah, Grael sedang berdiri di pagar tembok lantai dua, melihat anak-anak sedang bermain futsal, mereka merilekskan otak mereka sejenak untuk menghadapi ulangan semester dua yang tinggal menghitung beberapa hari lagi.


Semua murid khususnya kelas tiga sangat bersemangat mempersiapkan bekal dengan baik agar mereka mendapat hasil yang memuaskan, karena itu mereka membutuhkan rileksasi agar tidak terlalu penat dalam belajar.


"El, nanti jadi kan ikut belajar kelompok?" tanya Ernata, dia menghampiri Grael seraya menepuk pundak sahabatnya itu.


"Kalau gue dapat izin, dari Kak Erlangga!" sahut Grael dengan wajah lesu. Dia berani berbicara seperti itu karena Ernata, Anjas dan Irfan tahu bila Grael sudah menikah dengan Kakaknya—Rangga tetapi Anjas dan Irfan tidak tahu siapa kakaknya Rangga.


Wajah lesu Grael membuat Ernata salah menapsirkan bila Erlangga menggempur Grael habis-habisan, tapi nyatanya Grael merindukan sosok Veby yang ternyata sudah pindah dari sekolah saat waktu Veby mengemis meminta untuk bicara berdua dengan Rangga tetapi di tolak mentah-mentah oleh Rangga.


"Ya ampun, El ... Lo masih aja kangenin dia yang udah berhasil ngerusak hubungan lo sama Rangga! Lo terlalu lempeng jadi orang, mangkanya gampang ditindas!" kesal Ernata.


"Biar bagaimanapun dia bebew kita kali, Nat!" ujar Grael yang membela.


Ernata tidak menanggapi ucapan dari Grael karena membuat dia kesal sendiri bila membahas masalah Veby, apalagi bila Grael selalu membela wanita itu walaupun sudah terlihat jahatnya.

__ADS_1


Di sela-sela mereka sedang berbicara sembari melihat anak-anak bermain futsal sebelum masuk sekolah, tiba-tiba mereka melihat Rangga dengan sengaja menendang bola ke arah Emira yang sedang lewat.


Semua yang berada di lapangan itu menjadi ramai, karena Rangga menendang bola tepat ke arah kepala Emira. Hal itu juga membuat Grael dan Ernata terkejut lalu turun dari lantai dua menuruni anak tangga.


"Aaw ... sakit!" keluh Emira lagi-lagi dia melihat Rangga yang menjadi biang keroknya.


"Sorry, sorry! Sakit nggak?" tanya Rangga yang pura-pura panik.


"Pake tanya lagi, sakit tahu!" Emira meringis kesakitan.


"Mana yang sakit?" Rangga meniup kepala Emira dengan pelan, dan itu membuat suasana menjadi ramai dengan sorak dari teman-temannya yang melihat.


Ernata pun menyuruh Rangga membawa Emira ke ruang UKS, dari pada menjadi pusat perhatian satu sekolahan, karena pasti akan banyak yang mengira bila Rangga sendang menggoda gadis berambut pirang itu.


Rangga pun langsung membopong Emira untuk di bawa ke ruang UKS, walaupun gadis itu menolak. Akan tetapi, Rangga tetap membawanya ke ruang UKS.

__ADS_1


"Sudah, nggak apa-apa kok! Nggak sampai hilang ingatan," canda Dokter Gilang yang menjaga piket di ruang UKS hari itu.


Rangga dan Emira tertawa dengan candaan dokter, Emira juga menyebut bahwa temannya—Rangga begitu lebay dengan rasa kepanikan yang berlebihan.


"Wajar kalau kekasihnya panik," tutur Dokter Gilang.


"Tuh, kan ... wajar ya, Dok? Namanya juga sayang, pasti panik lah!" timpal Rangga yang tersenyum senang ketika Dokter Gilang berada di pihaknya.


"Eh, kita nggak pacaran, Dok! Dia bukan tipe saya!" elak Emira dengan cepat, dia memberikan tatapan tajam ke arah Rangga yang masih belum menyerah mengejarnya. Jelas, Rangga pun membalas menatap mata Emira dengan sorot mata yang sinis, hingga lempar tatapan pun terjadi begitu sengit.


Gilang hanya tertawa melihat perdebatan mereka, mengingatkan dia pada cinta monyetnya waktu jaman sekolah, dia pun kembali duduk ke meja kerjanya lalu menyuruh Emira dan juga Rangga untuk segera masuk ke dalam kelas, karena kelas akan di mulai lima menit lagi.


"Thanks ya, Dok!" Rangga tersenyum lebar dan menjulurkan tangannya yang memperlihatkan jari jempol kepada Dokter Gilang, saat dia dan Emira perlahan mulai ke keluar dari ruangan UKS.


Gilang membalas dengan senyuman serta gelengan kepala ketika melihat ke romatisan Rangga yang selalu membawa Emira ke ruang UKS dengan alesan yang sangat tidak masuk akal.

__ADS_1


Sementara saat Rangga tengah berjalan berdua melalui koridor sekolahan menuju kelas mereka masing-masing, dia ingin sekali menyentuh tangan itu ketika Rangga berjalan disamping Emira.


To be continued...


__ADS_2