
"Beb! Katakan sama aku, dia siapa?" tanya Cherry kesal, dia pun mendekat ke arah Tia dan menjambak rambut panjangnya itu dengan kencang.
"Aakk! Aduh, duh ... sakit! Mbak lepasin, sakit! Aaaduh ... Mbak!" teriak Tia yang merasa kesakitan pada kepalanya.
Cherry terus menarik rambut Tia sembari berkata, "Mbak, Mbak! Lu kira gua Mbak-Mbak tukang jamu?"
"Cherry! Apa–apaan, kamu! Lepaskan, dia!" bentak Rio yang membantu Tia melepaskan rambutnya dari cengkraman Cherry lantas mendorong tubuh mantannya itu.
"Ri, kamu—"
Cherry tidak menyangka bila Rio bisa secepat itu menggantikan posisinya, padahal dia datang bertujuan untuk meminta maaf dan menyesal. Cherry ingin merayu Rio agar tidak membatalkan pernikahan mereka, dia tidak mau kalau sampai gagal untuk mendapatkan harta waris Rio.
"Keluar!" Tegas Rio dengan dingin.
"Nggak! Seharusnya yang keluar itu, dia! Pasti dia kan yang sudah menghasut kamu untuk membatalkan pernikahan kita? Iya kan?" Tunjuk Cherry ke arah Tia.
Rio menghela napasnya dengan kasar, dia berdacak pinggang seraya mengusap wajahnya karena muak dengan ucapan Cherry. "Kamu denger ya, hubungan kita sudah berakhir! Pernikahan kita batal itu gara-gara kamu! Bukan dia! Sekarang kamu keluar dari ruanganku!"
"Nggak mau!" bentak Cherry yang masih melotot ke arah Tia.
"Keluar!" Rio membentak dengan suara nada tinggi seraya menunjuk ke arah pintu luar.
Mata Cherry berkaca-kaca, raut wajahnya penuh dengan kekecewaan. Dia tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Rio. Akhirnya, dia pun lebih mengalah untuk pergi dari sana dengan perasaan yang kesal.
Dentuman pintu yang ditutup kencang pun terdengar jelas di telinga Tia, hingga dia pun terperanjat melihat bagaimana wanita itu begitu mengerikan ketika marah. Lirikan matanya pun mengarah ke arah Rio yang kembali duduk dengan aura yang masih panas.
Tia tidak perduli apa yang terjadi antara Rio dan wanita itu yang jelas sandiwara dia telah usai, dia pun meminta Rio untuk menanyakan hasil tesnya kali ini apakah berhasil lolos sebagai sekretarisnya atau sebaliknya.
__ADS_1
"Eehm ... Pak, ehm ... anu, jadi ... bagai—"
"Eeempphh!" Rio sudah membungkam lebih dulu mulut Tia dengan bibirnya ketika Cherry tiba-tiba kembali datang masuk ke dalam untuk mengambil tas yang tertinggal.
Alangkah terkejutnya wanita itu saat melihat Rio mencium bibir Tia dengan mesra, karena selama ini Rio tidak pernah menciumnya sebegitu intens seperti apa yang dia lihat. Hatinya begitu kesal lantas kembali pergi usai mengambil tas yang ada di atas meja.
"Dasar, breng—"
Tia ingin menampar pipi Rio tapi dengan cepat tangan sang empu sudah menahannya dan memberikan isyarat bahwa dia dilarang bicara, Tia juga melihat bagaimana Rio terus mengawasi pintu itu. Begitu merasa aman, Rio langsung menjauh dari Tia.
"Dasar—"
"Sudah, keluarlah! Kau diterima! Pakai saja baju itu, anggap DP kerja kamu di sini!" ucap Rio yang menghentikan ucapan umpatan yang akan dilontarkan oleh Tia.
"Kamu—"
Dia menunjukkan ekspresi yang sangat kesal dengan mencengkram kuat tangannya di udara yang dia tunjukkan di depan Rio. Seolah-olah meremas wajah pria yang ada di hadapannya itu lantas pergi tanpa meninggalkan kata sepatah pun.
Tia pun menirukan dentuman membanting pintu ruangan Rio dengan keras, lantas pergi begitu saja menaiki pintu lift. Dia memencet tombol pintu lift secara berulang-ulang dengan penuh emosi, begitu pintu lift tertutup dia pun menangis seraya berjongkok memeluk lututnya.
"Dasar laki-laki brengsek! Kurang ajar! Monster! Pea! Jelek!" Semua kata umpatan keluar dari mulut Tia, dia mengelap cairan bening dari hidungnya lantas kembali berucap, "itu ciuman pertama gua! Huu ... laki-laki gila!"
Tia terus menangis seraya mengelap bibirnya dengan kesal dan bergumam dalam hati. "Awas liat aja nanti! Ini semua gara-gara Papi! Tia kesal sama Papi!"
Sementara di posisi Rio, dia terus tersenyum di depan layar komputernya sembari memainkan bibir dengan jari tangannya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini yang jelas dia sama sekali tidak berdosa membuat gadis itu menangis dan merasa kesal.
"Manis," ucap Rio.
__ADS_1
***
Semua persiapan pernikahan yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi sudah matang di undur beberapa Minggu ke depan, pihak keluarga Emira meminta kepada keluarga Louis untuk mengundurkan jadwal pernikahan Emira dengan Rangga karena mengurus kakak Emira yang sedang sakit berada di luar negri.
Kepulangan saudara tiri Emira—Bella Safir membuat satu rumah sibuk, bagaikan seorang putri raja di sambut dengan meriah. Emira yang tidak terlalu memusingkan apa yang di lakukan oleh Papanya terhadap istrinya tetapi kali ini dia ikut campur masalah kamar yang akan ditepati oleh Bella.
"Pah! Ini kamar Emira! Papa tahu sendiri kan, Kak Rio aja pinta nggak Emira kasih! Pokoknya balikin semua barang Emira! Kan masih banyak kamar yang lain!" Emira marah karena melihat kamarnya sudah berubah
"Emira, kan kamu sudah dari kecil pakai kamar ini. Ya, gak ada salahnya untuk gantian sama Kak Bella, sekarang kalian kan sudah saudara, Sayang!" ucap Joe pada anaknya.
"Papah, Bella salah ya? Minta kamar ini untuk jadi kamar Bella? Kalau begitu, gak apa-apa deh, Bella balik lagi ke villa Papah," ucap Bella dengan raut wajah sedih.
Emira dan juga Joe melihat sikap Bella yang memelas seraya turun dari tempat tidur yang sudah menjadi tempat tidurnya, wanita yang memiliki wajah oplas seperti orang korea itu memeluk ibunya.
"Tidak, Sayang! Kamu boleh pakai kamar Emira, karena ini juga kamar kamu! Maafkan Emira ya, mungkin Emira belum terbiasa." Joe mengelus kepala Bella saat anak tirinya itu berada di pelukan sang istri.
"Pah!" Emira kecewa dengan ayahnya. Dia pun memilih untuk pergi ke kamar Rio seraya.
"Pah ... apa—"
"Tidak apa-apa, Mah. Toh Emira sudah besar, belajar mengalah sekali-kali tidak apa-apa, kan selama ini juga Emira sudah merasakan semuanya," ucap Joe yang memotong ucapan sang istri.
Windy hanya diam tidak berani berbicara, dia tahu betul bila Joe tidak suka dibantah, dia pun menyuruh Bella agar bersiap-siap karena malam nanti mereka akan bertemu dengan keluarga Luis calon suami Emira.
Sementara di kamar Rio, Emira langsung membanting pintu saat masuk ke dalam kamar kakaknya. Rio yang pulang lebih awal ketika mendapat kabar kalau mereka akan mengadakan makan malam bersama dengan keluarga Louis, dia pun bersemangat karena bisa bertemu dengan Erlangga dan juga Grael.
To be continued...
__ADS_1