
Kediaman rumah Josua, petugas polisi sudah datang dan meringkuk Rani dan Pak Rudin sebagai pelaku utama yang telah mendorong mantu dari keluarga Josua, mereka mengakui kesalahan mereka yang mencoba untuk menyingkirkan Grael karena dendam pribadi semata.
"Loh, kenapa ada polisi?" tanya Grael yang heran melihat halaman rumah sudah ada mobil polisi.
Usai sarapan di dalam kamar, Grael hendak berangkat ke sekolah bersama Erlangga, tetapi saat kakinya berdiri di depan pintu depan utama. Matanya melihat polisi sedang memborgol Rani dan Pak Rudin di halaman rumah.
"Dah, masuk ... nanti, kamu telat!" Erlangga menyuruh sang istri untuk masuk ke dalam mobilnya.
Erlangga hanya ingin Grael fokus pada sekolahnya dan tidak kepikiran masalah pelaku yang sudah mencelakainya, dia melakukan itu semata-mata karena sayang terhadap sang istri.
"Tunggu dulu, itu ... Pak Rudin, kan? Kenapa, dia ditangkap? Terus Lydia?" Grael menepis tangan Erlangga dan langsung berjalan mendekat kerumunan yang menangkap tersangka.
"Yank! Aku, bilang masuk!" bentak Erlangga, dia menarik tangan sang istri agar menurut dengannya.
"Lepasin! Aku mau tanya sama Rani!" Grael berusaha untuk memberontak tapi Erlangga langsung menggendongnya dan membawa masuk ke dalam mobil.
"Jalan!" ucap Erlangga kepada Pak Beni.
"Kak! Kamu ini kenapa sih? Kenapa aku nggak boleh? Kenapa? Hah!" bentak Grael saat mobil itu melewati mobil polisi dan keluar dari gerbang utama.
"Aku cuma mau kamu tidak memikirkan hal seperti itu, biar itu urusan aku!" Erlangga yang menatap sang istri dengan sorot mata yang serius.
"Tapi kenapa Pak Rudin bisa tertangkap? Kenapa Lydia, nggak? Dia yang menyuruh Rani untuk menjebak aku, Kak! Dia juga yang tidak mau menolong aku saat aku kehabisan napas di dalam air!" ungkap Grael yang kesal, dia berusaha menjelaskan kepada suaminya agar mengerti.
"Dengerin aku, Pak Rudin dan Rani sudah mengakui sendiri, jadi tidak ada bukti untuk Ly—"
"Aku buktinya! Aku, sendiri yang tahu! Kak ... bukti orang itu, lebih kuat! Apalagi aku, sebagai korbannya!" kesal Grael hingga dia meneteskan air mata.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Erlangga, dia menarik tangan sang istri untuk masuk dalam pelukannya seraya mengusap rambutnya, walaupun sang istri terus memberontak untuk minta dilepaskan. Akan tetapi, Erlangga tetap menahannya agar Grael tetap berada dalam pelukannya.
__ADS_1
"Bilang aja, kalau Lydia itu orang yang Kakak, sayang! Jadi, kejahatan apapun yang dilakukan oleh cewek itu, dibiarin aja, kan!" Grael menangis sembari memukul dada Erlangga.
"Ya Tuhan ... aku hanya ingin kamu fokus sama sekolah kamu, itu aja! Biar Lydia urusan aku!" Erlangga begitu kesal melihat tingkah istrinya yang mudah emosi, entah itu karena masa haidnya atau bukan yang jelas dia tidak mau bila sang istri sampai bertindak gegabah, karena Erlangga tahu siapa orang yang telah mejadikan Lydia boneka.
"Please ... percaya sama aku!" Erlangga mengecup pucuk kepala sang istri lalu mengusap buliran air yang keluar dari kelopak mata Grael.
Pandangan serius Erlangga tertuju pada wajah sang istri yang begitu membuatnya tergila-gila akan kecantikan alami yang dimiliki oleh Grael, sorot matanya melihat ke arah bibir ranum yang gemetar karena menangis.
Lambat laut Erlangga mengecup bibir ranum itu dengan lembut hingga dia membuka mulut Grael menggunakan lidahnya, dia lummat bibir sang istri dengan lembut, takkala lidah sang istri dia hisap dalam-dalam begitu manis dan menjadi candu bagi Erlangga.
Semua yang ada di tubuh sang istri, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki membuat Erlangga mendambakannya. Sangking cintanya pada gadis remaja itu, Erlangga nekat merebut dan menikahinya dari tangan adiknya sendiri.
Setiap jillatan dan hissapan Erlangga berikan begitu lembut di bibir sang istri, tangannya pun tidak tinggal diam begitu saja. Sesuatu yang kenyal yang menjadi bagian favoritnya dia remmas dengan lembut dan penuh penghayatan.
"Percayalah," ucap Erlangga dengan sayu ketika dia tahu sang istri kesulitan bernapas akibat ulahnya.
Erlangga tidak mau bila dia harus kehilangan orang yang dia sayangi seperti mendiang ibunya, jika Grael melawan tanpa persiapan matang. Harus memiliki strategi untuk memusnahkan ular berbisa seperti Kylie.
Grael pun mendorong dada Erlangga dan mengusap bibirnya yang sedikit bengkak akibat hisapan dari Erlangga. Dia merapihkan rambut serta mengelap sisa air matanya, lalu membuka pintu mobilnya tetapi di cegah oleh Erlangga.
"Biar itu tugas Pak Beni!" ucap Erlangga yang menahan Grael lebih sabar untuk turun dari mobilnya.
Tanpa ucapan apapun dan raut wajah yang datar Grael turun dari mobil, dia pun mendapat sambutan hangat dari penjaga sekolahan kemudian melihat kebelakang yang ternyata Erlangga masih memperhatikannya.
...----------------...
"El!" panggil Ernata yang berlari ke arah Grael.
"Hai, Nat!" sahut Grael dengan senyuman yang tidak semangat.
__ADS_1
"Dipanggil Bu Rosalina, tuh!" Ernata langsung menarik tangan Grael agar segera menemui Bu guru setelah menaruh tas.
Begitu sampai di ruangan guru, Grael dipinta oleh Rosalina untuk menjadi anggota panitia MOS mengantikan Rara selama tiga hari ke depan. Awalanya Grael berniat menolak tetapi dia dipaksa oleh sahabatnya untuk menemaninya bersama Rangga dan juga Irfan.
Grael pun setuju menjadi salah satu panitia MOS untuk melantik anak-anak baru, begitu bel telah berbunyi Grael pun berdiri di samping Rangga yang menjadi ketua panitia MOS, sedangkan Veby berada di samping Irfan.
Hari pertama mereka mengatur para calon murid baru untuk memperkenalkan nama mereka dengan menggunakan Bahasa Inggris, calon murid pun di bagi menjadi empat kelompok, masing-masing kelompok dipegang oleh Grael, Ernata, Veby, Irfan, sedangkan Rangga yang menjadi ketua MOS hanya menerima data dari ketua kelompok calon murid.
Setelah panitia menyerahkan hasil laporan pada Rangga, salah satu calon anak murid datang terlambat dengan napas yang menggebu-gebu seraya berkata, "Maaf, kak! Saya telat."
Semua orang tampak tercengang dengan seorang wanita dengan rambut pirang panjang tiba-tiba datang dan meminum air Rangga sampai habis.
"Siapa nama kamu?" tanya Irfan yang melihat sorang wanita dengan paras cantik dengan tubuh yang terbilang cukup menggoda mata laki-laki.
Ernata, Grael langsung menjewer kuping Irfan, lantas menyuruh calon siswa memberikan hukuman pada wanita itu yang datang terlambat.
"Suruh nyanyi aja, Kak!" ucap para siswa yang begitu semangat memberikan hukuman pada wanita berambut pirang itu.
Grael pun melirik Rangga yang tidak berkedip sama sekali saat menatap anak baru yang datang terlambat, ada sedikit cemburu pada hati Grael, mungkin karena cinta pertamanya itu sulit dihilangkan sampai kapanpun. Namun, cemburunya tidak sebanding bila Erlangga yang menatap wanita itu.
"Ehem ... ditatap terus tanpa berkedip," celetuk Grael di telinga Rangga, sontak membuat Rangga tertawa pelan lalu melirik Grael.
"Cemburu?" tanya Rangga yang tersadar dan sedikit senang dengan sikap iparnya.
"Jangan banyak tingkah, bentar lagi jam istirahat pertama, mending kasih hukuman atau bebasin?" tanya Grael.
"Untuk hari ini, bebasin, aja!" ucap Rangga yang mengedipkan satu kata pada Grael.
Grael pun tertawa pelan seraya menggelengkan kepalanya, kemudian menyuruh wanita itu duduk setelah memperkenalkan namanya di depan para calon murid lainnya.
__ADS_1
"Emira Haruka," gumam Rangga yang tersenyum tipis.
To be continued...