Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
133. Rumah baru


__ADS_3

Keesokan hari, setelah selama seminggu lebih sekolah libur. Akhirnya kembali masuk sekolah, usai Emira sarapan, dia mendengar suara mobil Rangga yang sudah menjemputnya.


"Kita berangkat dulu, Om, Tan!" pamit Rangga kepada kedua orang tua Emira.


"Hati-hati di jalan ya, Ngga!" ucap Windy yang hanya mendapat balasan senyuman dari Rangga.


"Pah, Mama lebih srek bila Emira sama Rangga!" ucap Windy yang melambaikan tangan pada mobil yang dinaiki oleh Emira.


"Doakan saja yang terbaik untuk mereka, Mah! Ya sudah kalau gitu, Papa berangkat dulu, nanti sore siap-siap kita pergi ke Zingapur melihat kondisi Zolanda, dia sudah kangen berat sama kamu!" ujar Joe yang mencolek hidung istrinya.


Sementara itu, saat mobil Rangga sampai di halaman parkir. Mereka turun dari mobil, kemesraan mereka ternyata dilihat oleh Steven sendiri yang diam-diam mengikuti mobil yang dinaiki oleh Emira.


"Bang sat! Rupa dia yang waktu itu ketemu di klub malam? Ok, fine! Kita lihat siapa yang ngerebut siapa! Jangan berpikir Lo bisa menang karena ngerebut Emira dari gue! Lantas gue diem aja? Louis!" Steven menggenggam erat stir mobilnya.


Dia pun memutuskan untuk menyuruh teman-temannya mengepung mobil Rangga saat pulang sekolah nanti, setelah memberi instruksi pada teman-temannya, Steven kembali melajukan mobil menuju tempat sekolahnya.


"Louis! Ck! Adek Lo ngerebut cewek gue! Jangan salahkan gue juga yang akan merebut istri lo tanpa menyerah! Tapi sebelum itu, gue akan merebut apa yang seharusnya gue dapet dari dulu pada Emira!" Steven menambah kecepatannya saat emosinya juga semakin meningkat.


...----------------...


Senja di sore hari telah menampakan kilaunya, di bawah langit orange yang begitu cantik Erlangga sudah menunggu istrinya dari dalam mobil, karena itu permintaan dari Grael jika dia ingin menjemput istri tercinta maka dia harus menunggu di dalam mobil.


Begitu bel telah berbunyi dan semua anak murid telah keluar, Grael langsung berlari ke arah suaminya masuk ke dalam mobil tanpa ada yang mengetahuinya.


Kecupan ringan pun menjadi penanda salam mereka bertemu, lalu kemudian mobil itu berjalan menuju tempat tujuan yang akan di tuju oleh merek.


"Loh, kita mau ke mana, Kak?" tanya Grael yang bingung dengan arah jalan pulang.


"Biru!" ucap Erlangga yang mengecup tangan Grael.


Grael pun tersenyum malu mendapatkan perlakuan yang begitu romantis dari suaminya, sampai mobil itu sampai di tempat tujuan, ternyata Grael sudah di tutup lebih dulu matanya oleh Erlangga.


"Kak, apakah masih jauh?" tanya Grael penuh kekhawatiran. Matanya terikat oleh kain sehingga membuat dirinya tidak bisa melihat.

__ADS_1


"Tidak, kita sudah sampai! Sekarang kamu buka secara perlahan!" ucap Erlangga yang menuntun Grael lebih maju lagi ke depan.


"Surpise!" Erlangga menjauh dari Grael dengan berlari kecil sembari merentangkan kedua tangannya menunjukkan rumah yang baru saja selesai di bangun sebagai kado ulang tahu istrinya.


Grael terdiam mematung seketika, arah pandangnya tertuju melihat apa yang baru saja dia lihat, rumah yang begitu megah dan mewah.


"Gimana? Suka?" Erlangga tersenyum melihat ekspresi istrinya.


"Sayang ini apa?" tanya Grael yang masih belum percaya dengan apa yang dia lihat.


"Tentu saja ini rumah! Rumah yang akan menjadi saksi kebahagiaan rumah tangga kita bersama anak-anak kita! Rumah yang akan menjadi saksi cerita cinta kita, dan rumah ini atas nama dirimu sebagai kado ulang tahunmu!" Erlangga mendekat ke arah istrinya yang masih sulit mencerna semuanya.


Melihat istrinya tidak menanggapi ucapannya dan hanya terdiam, Erlangga yang awalnya senang dan bahagia justru menghela napas kasarnya, dia menebak bila sang istri tidak menyukai gadis pemberiannya.


"Maaf kalau rumahnya tidak sebesar rumah Papi, nanti kalau kamu ing—"


Tiba-tiba Grael langsung mencium bibir Erlangga sebelum pewaris itu melanjutkan ucapannya. Dia sembari menangis sembari terus mencium bibir suaminya.


"Aku suka, sangat suka! Maaf sudah membuatmu salah paham, hanya saja aku tidak bisa percaya bila kamu memberi kejutan yang luar biasa di luar dugaan ku. Ini lebih dari cukup, Kak! Bagiku ini rumah sangat besar sampai aku sulit mengucapakan kata terima kasih padamu!" ucap Grael ketika dia melepaskan ciumannya dan masih memeluk tubuh sang suami.


Sebelum masuk ke dalam, semua para maid berjejer rapih untuk menyambut kedatangan Tuannya dengan membukukan tubuhnya sebagai bentuk hormatnya.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Erlangga," ucap serempak para maid laki-laki dan perempuan.


Begitu masuk ke dalam rumah, Grael di perkenalkan oleh Erlangga bila terdapat bagian maid yang masing-masing bertanggungjawab atas tugasnya.


"Sayang, dia—Anne—Kepala maid yang bertanggungjawab memegang seluruh para maid di sini seperti Carly! Dia, Hans—Chef kita, dan selebihnya bertanggungjawab di masing-masing bagian, jadi kamu tidak perlu khawatir merasa kesepian atau bingung!" ujar Erlangga yang masih memeluk istrinya tanpa ada rasa malu di depan para maid-nya.


Grael tersenyum melihat Anne yang mungkin sudah memasuki kepala empat, tapi sangat terlihat jelas awet mudanya. Begitu juga dengan chef Hans yang terlihat sudah tua tapi dari cara tegap berdirinya bagaikan usia anak muda.


"Ok, kalau gitu ... kita istirahat di kamar kita!" Erlangga menggengam tangan sang istri lalu menariknya menuju lift untuk sampai ke lantai atas.


Suara pintu lift terbuka dan Erlangga membuka kata sandi pada pintu kamarnya dengan sidik jari Grael. Begitu pintu terbuka terlihatlah kamar yang begitu megah bagaikan dongeng yang dia pernah baca dalam buku Cinderella.

__ADS_1


"Apa kamu menyukainya? Bila kamu kurang suka sama dekorasinya tinggal kamu ubah semau kamu!" Erlangga menarik dagu Grael dan mencolek hidung mancung sang istri.


"Terima kasih, My hubby!" ucap Grael yang tersenyum manja.


"Apa kita langsung coba tempat tidurnya?" tanya Erlangga yang mulai nakal.


"Untuk apa dicoba? Aakkhh, Kak!" Grael langsung mengerti maksud dari suaminya.


"Agar tahu, seberapa kuatnya tempat tidur baru kita saat kita tiduri bersama." Erlangga langsung menepuk tangan untuk mematikan lampu utama dan memencet tombol agar tirai tempat tidurnya tertutup.


"Sayang, geli! Aaakkkhh, pelan sedikit!" pekik Grael ketika suaminya sudah tidak sabar.


...----------------...


Sementara di bagian ruangan briefing, Anne mengumpulkan semua maid yang totalnya kurang-lebih lima puluh maid dalam rumah itu, Anne menugaskan lima ketua dalam masing-masing kelompok yang ditugaskan untuk mengatur maid paling bawa.


Kelompok satu di bagian dapur yang bertugas untuk belanja kebutuhan stok, daftar kesehatan menu dan bagian asisten Chef Hans. Kelompok dua bagian cleaning, mulai pembersihan dari piring dan baju kotor. Kelompok tiga bagian penanganan pembersihan lantai bawah. Kelompok empat pembersihan bagian lantai dua. Kelompok lima bagian lantai tiga, jadi masing-masing tidak melewati batas.


Sementara kelompok enam pembagian gudang, kebun dan sopir. Anne sebagai kepala maid menyuruh bagian dapur terutama pada Chef Hans untuk membuatkan menu yang menyuburkan kandungan, kemudian menyuruh para maid agar bersikap sopan dan tau batasan pada Tuan mereka.


"Mengerti semuanya!" ucap Anne dengan tegas.


"Siap mengerti, An!" ucap serempak para maid.


"Bagus, kembali ketempat masing-masing!" ucap Anne yang membubarkan paramaid.


***To be continued....


bonus visual***



Kamar tidur

__ADS_1



rumah Grael dan Erlangga.


__ADS_2