
Selama semalaman, Grael menginap di rumah sakit menunggu Erlangga dengan setia, gadis itu memberi perhatian lebih kepada artis tersebut dengan penuh kasih sayang. Dia melakukan itu demi Rangga, karena dia tahu bahwa calon tunangannya sangat menyayangi kakaknya.
Grael tidak ingin bermusuhan dengan calon kakak iparnya hanya karena rasa dendam pribadi semata, dia ingin mendapatkan restu dan ridho dari Erlangga agar hubungan dia dan Rangga mendapatkan kebahagiaan. Namun, tindakan Grael membuat Erlangga salah paham.
"Permisi, Tuan Erlangga ... bersih-bersih dulu ya." Suster membawa alat-alat mandi untuk membatu Erlangga mengganti pakaian.
"Biar saya aja, Sus." Erlangga tersenyum ramah kepada suster tersebut.
Suster yang mengerti maksud dari Erlangga langsung berbalik dan keluar dari ruang rawat inap itu, sedangkan Grael langsung berdiri dari duduknya dan berniat meninggalkan Erlangga untuk menggqnti bajunya.
"Mau kemana?" Erlangga menahan tangan Grael yang Ingin meninggalkannya.
"Kan, Kak Erlangga mau ganti ba—"
Mata Grael langsung tertuju melihat tangan Erlangga yang diperban, dia tersenyum kaku saat batinnya berkata, apakah dia harus benar-benar membantu untuk mengelap tubuh dan mengganti pakaian Erlangga.
"Ini termasuk tugas kamu loh." Erlangga tersenyum gembira menyuruh Grael.
Grael membuang napasnya dengan pelan dan tanganya perlahan membuka baju Erlangga, jarak yang begitu dekat membuat Grael sedikit malu. Dia mengambil sepotong kain basah lalu mengelap tubuh Erlangga mulai dari leher, bagian dada, punggung hingga ke perut sixpack artis tersebut.
Jantung Erlangga tidak kalah berdegup kencang saat jemari gadis itu tanpa sengaja menyentuh perut sixpack-nya. Begitu juga dengan Grael, gadis itu susah payah untuk menelan saliva-nya saat mengusap perut Erlangga secara perlahan.
"Er, gue bawain pe—"
Rio tercengang melihat Grael sedang mengusap perut Erlangga saat dirinya masuk begitu saja tanpa permisi, sorot mata Erlangga langsung memicing tajam seakan mengupat kebodohan yang dilakukan oleh manager-nya tersebut.
"So-sorry gu-gue cuma mau taro ini." Rio langsung membalikan badannya dan keluar begitu saja saat Grael ingin meluruskan kesalahpahaman yang Rio lihat.
Lima menit kemudian, usai menggantikan baju kepada Erlangga, Grael menyuapinya dengan penuh telaten. Hati Erlangga begitu tersentuh dengan sikap gadis yang dia sukai begitu manis merawatnya walaupun sebenarnya Erlangga hanya mendapatkan luka ringan di kepala dan di lengannya yang semestinya tidak perlu diperban.
Disela-sela Erlangga sedang menikmati bentuk perhatian dari Grael, tiba-tiba ponsel berdering. Terlihat jelas nama Rangga di layar ponsel Grael, dia pun langsung mengambil ponsel itu terlebih dahulu sebelum Grael menjawab panggilan dari Rangga.
"Kak, kok dimatiin sih?" Grael berusaha mengambil ponselnya dari tangan Erlangga. Namun, pria itu tidak mau memberikannya begitu saja.
Pada saat yang bersamaan Rio datang membawa sebuah dokumen tentang isi perjanjian kontrak tentang acara meet and great yang akan diselenggarakan di sebuah mall terbesar di kota X.
__ADS_1
Rio meminta kepada Grael agar datang pada tepat waktu sebelum acar dimulai pukul tujuh malam, karena dia bertugas untuk mempersiapkan segala keperluan Erlangga sebelum acara dimulai.
"Udah ngerti kan?" tanya Rio dengan ramah. Grael pun menganggukan kepalanya sebagai tanda mengerti atas perintah dari manager Erlangga.
"Oke kalau sudah ngerti, ini sarapan untuk kamu dan ini baju salinnya." Rio menyerahkan dua paper bag yang berisi makanan dan pakaian untuk Grael.
Grael pun mengambil baju ganti dan langsung masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Rio bersiap-siap merapihkan barang Erlangga yang ada di rumah sakit untuk dibawa pulang ke apartemen, karena dokter sudah memperbolehkan Erlangga boleh pulang hari ini.
Pintu kamar mandi terbuka, Grael keluar dengan penampilan yang begitu mempesona dengan balutan floral blouse dan cellana jeans berwarna biru yang begitu cocok dengan warna kulit putih Grael, serta rambut hitam panjang yang terurai menambah kesan cantik yang begitu alami pada diri gadis tersebut.
"Kok pada liatin aku, gitu sih? Jelek ya?" Grael melihat penampilannya sendiri saat Erlangga dan Rio menatapnya penuh ke kaguman.
"Ehem, udah tahu jelek pake tanya." Erlangga melempar bantal rumah sakit tepat pada wajah Rio agar tidak berani melihat gadisnya dengan tatapan mesum.
"Issh biasa aja sih bilang jeleknya," ucap Grael yang memajukan bibirnya.
"Ya udah kan? Yuk!" Rio langsung mengambil kursi roda dan membantu Erlangga untuk turun dari atas tempat tidurnya.
"Loh, mau kemana? Kak Erlangga kan belum sembuh?" Grael refleks menahan Erlangga agar tetap dirawat di rumah sakit.
"Aku yang minta dokter untuk memilih rawat jalan, karena lusa aku harus siap untuk acara di kota X," jawab Erlangga agar Grael mengerti kondisinya.
"Oh," ucap Grael dengan malas.
Erlangga tampak kesal ketika mendengar sebuah jawaban singkat dari bibir mungil gadis itu, ingin rasanya dia mellahap bibir kecil gadis itu yang sungguh menggoda iman Erlangga saat ini juga. Namun, dia kembali mengingat saat Rangga juga pernah merasakan manisnya bibir ranum tersebut.
***
Sesampainya di dalam apartemen Erlangga, Grael membantu artis itu untuk duduk di atas tempat tidurnya, dia memberikan senyaman mungkin agar Erlangga tidak merasakan sakit pada punggungnya yang bersandar di kepala termpat tidur yang berukuran besar.
"Gimana? Enak gak?" tanya Grael yang membenarkan posisi pantal pada punggung Erlangga.
"Thanks," ucap Erlangga.
Grael pun membuatkan minuman hangat untuk Erlangga dan memotong buah apel di samping pria itu. Dia memberikan sepotong apel yang sudah dikupas ke arah Erlangga, artis itu mellahap satu potong buah apel yang diberikan oleh Grael.
__ADS_1
Suasana dalam ruangan kamar itu yang awalnya selalu sunyi dan dingin, kini menjadi hangat ketika Grael mengubahnya dengan penuh warna dengan keceriahannya.
Seharian ini Grael merawat Erlangga dengan penuh perhatian, karena esok hari Senin Grael tidak bisa menemaninya dan harus pergi ke sekolah. Dia rela melakukan semuanya hanya demi mengambil restu dari Erlangga agar dia mau meridhoi hubungannya dengan Rangga.
"Er ... gue—"
"Ssstt!" Erlangga meletakan jari telunjuk di depan bibirnya, menyuruh Rio agar tidak berisik dan membangunkan Grael yang tertidur pulas di sofa.
Erlangga menyuruh Rio untuk melepas perban di lengannya, agar dia bisa memindahkan Grael ke atas tempat tidur. Secara perlahan dia menyelimuti Grael dengan selimut lalu keluar dari kamar untuk berbicara kepada Rio.
***
Dua jam lebih Grael tidur siang bersama Erlangga dalam satu selimut yang sama, dia mengeratkan pelukannya ketika dia merasakan rasa nyaman pada aroma tubuh Erlangga dengan ciri khasnya sendiri. Dia meraba-raba apa yang dia sentuh, lalu membuka matanya untuk memastikan apa yang dia sentuh.
Alangkah terkejutnya Grael saat melihat tangannya bisa menyentuh dan meraba-raba dada hingga perut sixpack Erlangga dengan leluasa. Dia menutup mulutnya sendiri ketika dia begitu nyenyak tidur beralas lengan Erlangga sebagai bantal kepalanya.
Perlahan Grael bangun agar tidak membangunkan Erlangga yang masih tertidur lelap di sampingnya, tetapi Erlangga sudah menarik tangan Grael terlebih dahulu sehingga gadis itu jatuh kembali ke dalam pelukannya.
"Kak Er?" Grael mencoba untuk memberontak tapi Erlangga terus memeluknya menggunakan satu tangan.
"Tetaplah seperti ini, sebentar aja!" pinta Erlangga yang masih memejamkan matanya.
Grael hanya terdiam tanpa membalas pelukan dari Erlangga, hidungnya terus mencium aroma ciri khas dari tubuh pria itu yang mengusik pikiran jernihnya.
"Peganglah sesuka kamu, karena yang ada padaku adalah milikmu." Erlangga menuntun tangga Grael menyentuh perut sixpack sepuasnya.
'Astaga ... ya Tuhan! Kenapa gue gak bisa menolaknya sedikit pun? Sadar Grael ... dia itu Kaka ipar lo, lo gak boleh serakah! Ingat Rangga,' batin Grael saat jarinya perlahan menikmati perut kotak-kotak tersebut.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan dengan suasana yang begitu mendukung, Erlangga membuka matanya dan melihat Grael yang sedang memandangnya sembari mengelus perutnya yang menjadi incaran kaum wanita.
Erlangga pun memajukan wajahnya, untuk mencium bibir ranum tersebut, akan tetapi Grael lebih dulu membuka suaranya. "Aku minta restu dari Kakak, untuk hubunganku dengan Rangga."
Bagaikan disayat oleh sebuah belati, belaian dari tangan Grael begitu perih di perutnya. Dia menahan tangan gadis itu agar berhenti untuk menyentuh dan menanyakan soal perasaan yang dirasa oleh Grael.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Erlangga dengan nada yang dingin.
__ADS_1
To be continued...