Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
177. Melakukan nya diata atap


__ADS_3

Selama makan siang bersama dengan Erlangga, suaminya itu terus menyuapi Grael menggunakan tangannya, tampa ada rasa jijik dia juga makan dengan tangan yang sama setelah menyuapi istrinya.


Setelah makan bersama Erlangga sembari bercerita tentang kejadian-kejadian yang dia alami dulu bersama Rio, Erlangga memutuskan untuk tidur sejenak di pangkuan sang istri.


Pewaris itu terlelap begitu cepat saat angin menerpanya dengan halus seakan menina bobokan dirinya, wajahnya pun di usap lembut oleh jemari lentik sang istri, membuat Erlangga semakin terhanyut dengan alur mimpi.


"Maaf, bila aku terpaksa memilih untuk tetap pergi mengambil beasiswa itu ... bukan maksud tidak mencintaimu atau tidak menurut menjadi istri, hanya saja ingin memantaskan diri ini untuk berada di sampingmu!" ucap Grael dengan suara pelan yang dia tahu Erlangga tidak mungkin mendengarkan ucapannya.


"Akupun juga ingin seperti Sherly yang mempunyai kemampuan untuk membantumu setiap kau butuhkan, bukan hanya sekedar partner ranjang yang memuaskan hasratmu di kala kau mau!" Tangan Grael terus memberikan rasa nyaman di kepala Erlangga.


Wajah tampan yang Grael idolakan sejak dulu kini tertidur lelap di pangkuannya, dia pun terpanah akan pesona yang dimiliki oleh suaminya, hingga membuat dia memberanikan diri untuk mencium bibir Erlangga saat sang empu tertidur lelap.


Satu kecupan pun berhasil mendarat tepat di atas bibir Erlangga, tetapi pada saat Grael ingin menjauh dari wajah itu, tengkuknya langsung ditahan oleh tangan kekar milik sang suami.


Grael membulatkan matanya saat melihat kelopak mata Erlangga terbuka dan menatapnya, tentu saja debaran jantung berpacu capat saat bibirnya di ***** lembut dari Erlangga. Hingga ciuman manis tersebut berlangsung lama.


Erlangga langsung mengubah posisinya hingga sang istri berada di atas tubuhnya, tatapannya terus mengarah ke arah Grael yang membalas melihatnya.

__ADS_1


"Tidak perlu memantaskan diri untuk selalu berada di sampingku! El, aku ngga sanggup jauh dari kamu, aku nggak bisa tidur memelukmu, Sayang!" ucap Erlangga yang masih melihat ke arah Grael. "Tapi aku juga tidak mau menghalangi cita-citamu!"


"Kalau kamu masih terus pergi untuk mengambil beasiswa, maka ijinkan aku ikut bersamamu! Boleh kan?" ujar Erlangga dengan manja.


"Lalu pekerjaanmu?" tanya Grael yang kini merangkul pundak Erlangga.


"Akan aku urus!" sahut Erlangga, perlahan dia kembali menyesap bibir manis tersebut dari lembut hingga panas.


"Kak, kita di luar!" ujar Grael saat Erlangga mulai menghisap dadanya.


"Tapi aku ingin! Mau coba di sini?" tanya Erlangga.


"Aakkhh!" Grael tersentak saat Erlangga memasukan miliknya tanpa permisi.


Pinggul Erlangga seiraama dengan suara dessahan Grael keluar dengan pelan di telinganya, bibirnya tidak henti-hentinya ******* habis bibir tipis tersebut.


"Aku mencintaimu, El!" Erlangga terus memompa di bawah sana dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Mata Erlangga terpejam seraya menikmati pelepasannya pada rahim Grael. Dia menekan kuat pinggulnya agar lebih dalam, tidak lupa bibirnya menyesap kuat benda kenyal yang bergelayut manja di depannya saat denyutan itu masih teras.


"Aahhkk," erangaaan Grael saat Erlangga meremas kuat seraya mengigit pucuk benda kenyal itu.


"Makasih, Sayang!" Erlangga terkekeh sembari mengecup kening sang istri saat permainan telah usai.


Grael tidak menyangka bila dia nekat melakukan hubungan suami-istri di luar seperti itu. Dia pun masih terdiam saat Erlangga sudah mengancingkan baju depannya.


"Nanti sore bersiaplah! Kita akan menghadiri acara makan malam bersama di rumah utama," ujar Erlangga, dia pun bangun dari atas tubuh Grael dan memasang ikat pingganya kembali.


Grael bangun dari tidurnya, dia merapikan bajunya yang sedikit berantakan akibat ulah suaminya. Bibir seksi itu mendapat sentuhan dari jari jempol sang suami ketika sisa air liur masih ada di sudut bibirnya.


"Nanti Yogi akan menjemputmu! Tunggu aku di rumah ya, Sayang!" Erlangga menarik tangan sang istri. Menyuruhnya untuk bangun.


Grael hanya tersenyum dan mengangguk seraya mengerti maksud dari ucapan sang suami, telinganya pun mendapatkan bisikan romantis saat langkah kakinya ingin menuruni anak tangga.


"Yank, nati lagi ya?" Erlangga menarik sang istri agar lebih dekat ketika berjalan.

__ADS_1


"Iish, ganjen!" Grael mencubit pinggang suaminya agar berhenti berbicara soal aneh-aneh.


To be continued..


__ADS_2