Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
101. Sesi CEO dan anak SMK.


__ADS_3

Selama perjalanan menuju rumah Emira, keduanya menjadi canggung, bagaimana tidak. Mereka terhanyut dalam buaian manisnya ciuman yang mereka buat. Hingga Rangga hampir lepas kontrol saat mencium bibir manis Emira.


Selama itu pula, Emira berpikir apa yang sudah dia lakukan adalah kesalahan besar. Bagaimana pun juga, dia wanita yang sudah memiliki status. Tidak sepantasnya dia memiliki perasaan suka terhadap pria lain selain Steven apalagi menikmati ciuman dari pria lain.


Akal sehat dan hati Emira saling bergelut dalam lamunan, entah siapa yang menang. Namun, dia berharap bisa menjadi jati dirinya sendiri, tanpa harus menjadi orang lain. Dapat Emira rasakan ketika dia bersama Rangga, dia tertawa bebas tanpa beban.


"Tuhan, apa aku boleh memilih? Jika aku bisa memilih, aku ingin bersama laki-laki yang ada di sampingku saat ini!" batin Emira.


Setelah sampai di depan gerbang rumah, melihat mobil Ayah—Steven sudah terparkir di halaman rumahnya membuat harapan Emira langsung musnah, dia pun melihat Steven mengetuk kaca mobil dan menyuruhnya untuk turun.


"Aku antar kamu turun." Rangga membuka sabuk pengamannya tapi dicegah lebih dulu oleh Emira.


"Tidak usah, Kak ... nggak apa-apa! Terima kasih sudah mau mengantar aku! Dan ... maaf, soal ciuman tadi, anggap saja itu hanya kecelakaan yang tidak sengaja." Emira tersenyum getir ke arah Rangga dan membuka sabuk pengaman tapi Rangga menahannya.


"Maksud kamu apa?" tanya Rangga dengan tegas sembari menahan tangan Emira agar tidak membuka sabuk pengaman sebelum menjelaskan pada dia.


"Kak, lepas!" pinta Emira dengan raut wajah yang memohon.


"Jelasin dulu maksudnya apa?" tanya Rangga, sontak Steven menggedor kaca mobil Rangga dengan kencang saat melihat mereka berdua masih berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Kak! Kalau kamu sayang sama aku, kali ini tolong ngertiin posisi aku!" Emira meneteskan air matanya berharap Rangga mau mengerti.


"Ok, aku lepasin kamu saat ini, tapi besok ... aku nggak janji bakalan lepasin kamu!" ancam Rangga dengan serius. Dia melepaskan Emira yang sedang mengelap air matanya dan melihat gadis itu turun lalu memeluk Steven di depan matanya.


Rangga mencengkram kuat-kuat stang mobil saat Steven merangkul memeluknya sembari menatap tajam ke arah dirinya. "Shyiit!"


Rangga langsung menginjak pedal gas pada mobilnya lalu melajukan kecepatannya begitu cepat seraya berteriak, "Aaaakk! Bang sat!"


***


Perusahaan Grup Jaya, Ini kedua kalinya Grael menginjakkan kaki di perusahaan tersebut, dia yang di temani oleh Pak Beni, mulai melangkahkan kakinya untuk berjalan menuju lift pribadi khusus Erlangga.


"Lewat sini, Nyonya!" ucap Pak Beni yang begitu formal dan sangat sopan mempersilahkan Grael untuk masuk lebih dulu ke dalam lift.


Grael menjadi merasa bersalah ketika dia pernah beradu debat dengan pria paru baya itu, dia pun menundukan kepalanya seraya naik ke dalam lift terlebih dahulu setelah itu melihat Pak Beni menekan tombol yang cukup tinggi dari lantai satu.


Begitu lift terbuka, Pak Beni mempersilahkan untuk Grael keluar terlebih dahulu, kemudian pria paru baya itu memberi salam kepada sekretaris wanita yang dulu pernah Grael lihat pertama kali.


"Ya ampun, segitunya menjadi fans fanatik Erlangga!" cibir wanita bertubuh seksi itu yang terdengar oleh Grael. Pak Beni langsung menatap tajam kemudian membuka pintu untuk Grael.

__ADS_1


"Makasih, Pak Ben." Grael tersenyum ke arah Pak Beni setelah menatap tajam ke arah wanita itu kemudian melangkah masuk ke dalam setelah Pak Beni menutup pintunya.


Grael pun perlahan berjalan sembari melihat-lihat ruangan Erlangga, cukup besar dan terdapat sekat ruangan yang hanya dihalangi oleh lemari pajangan besar yang bisa melihat Erlangga duduk di kursi singgah sana melalui celah-celah lemari tersebut.


Grael pun tersenyum lalu merapihkan rambutnya agar terlihat rapi ketika ingin menemui suaminya yang masih belum sadar ketika dia berada di dalam ruangannya.


Perlahan tapi pasti, langkah Grael semakin mendekat ke arah Erlangga. Dia pun mencoba untuk mengetuk meja kerja suaminya seraya berkata, "Permisi, Pak! Boleh saya melamar pekerjaan?"


Erlangga langsung melihat ke arah sumber suara yang mengganggu konsentrasi, ternyata sang istri sudah berada di depan matanya. Dia pun tersenyum sumringah lalu menarik tangan Grael untuk berada di pelukannya.


"Ya ampun, Sayang! Kenapa nggak bilang kalau sudah sampai di sini, biar aku jemput dibawah." Erlangga mengeratkan pelukannya karena sangking senang bila Grael datang.


"Berati kamu yang suruh Pak Beni untuk culik aku ke kantor kan?" Grael mencubit hidung sang suami.


"Bukan aku sih, lebih tepatnya Papi," ujar Erlangga yang tersenyum, dia menarik tubuh sang istri agar duduk di atas pangkuannya.


"Kak, ini kan di kantor! Nanti kalau ada yang lihat, bagaimana?" Grael hendak turun dari Pangukan Erlangga tapi sang suami justru makin mengeratkan nya.


"Mau coba?" tanya Erlangga dengan senyum jahilnya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2