
Selang infus sudah terpasang di lengan gadis remaja tersebut, dokter pun sudah memberikan beberapa obat kepada keluarga pasien, agar diberikan tepat waktu. Grael yang sudah berada di rumahnya, di antar oleh Rio, langsung mendapatkan penanganan oleh dokter pribadi Josua.
Mendengar kabar berita tentang Grael yang memutuskan untuk membatalkan hubungan mereka, membuat Josua langsung terbang ke tanah air dan melihat keadaan mantu kesayangannya.
Josua sudah membujuk Grael, agar mau dirawat di rumah sakit. Namun, Gadis itu masih dengan keras kepalanya memilih untuk tetap berada di rumah.
"El, untuk sementara kamu harus memikirkan kondisi kamu! Papi mau, kamu sehat. Papi minta maaf atas nama Rangga! Papi harap setelah kamu sembuh, kamu sudah memaafkan segala kesalahan Rangga dan tetap melanjutkan pernikahan ini!" pinta Josua yang hanya mendapat senyuman lesu dari raut wajah Grael.
"Bu Karina, saya titip Grael, kalau ada perlu sesuatu jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya!" ucap Josua.
"Terima kasih, Pak Josua sudah menjenguk Grael. Untuk soal pernikahan, saya akan mencoba membujuk Grael," lontar Karina yang begitu sedih mendengar keputusan Grael.
Usai pamit, Josua pun kembali ke kediamannya, sedangkan Rio juga berpamitan kepada Grael dan juga keluarga gadis itu.
***
Di rumah utama, kediaman Louis. Rangga yang berdiri mematung tepat di belakang sang Ayah, dengan perasaan yang takut dan cemas. Hampir setengah jam Josua memaki anak kebanggaannya untuk pertama kalinya.
"Bagaimana kamu bisa kembalikan rasa kepercayaan dia?" tanya Josua yang sudah emosi sampai ke ubun-ubun. Namun, Rangga masih bergeming membuka mulutnya.
"Bagaimana bisa kamu mempermalukan Papi seperti ini! Hah! Jawab!" bentak Josua dengan nada tinggi.
"Maaf, Pih ... semua di luar kemauan Rangga!" ujar Rangga dengan nada yang tidak bersalah, sudut bibirnya sudah terluka akibat menerima pukulan dari Josua.
"Di luar kemauan kamu? Hah! Papi benar-benar kecewa kali ini sama kamu!" Josua mengangkat vas bunga dan akan memukul Rangga, tetapi kali ini Kylie menahan tangan Josua tepat waktu sebelum sang suami benar-benar kehilangan kendalinya.
"Papi! Stop ... Pih, sadar! Dia anak kamu!" teriak Kylie yang berhasil menahan tangan Josua.
"Anak? Seharusnya kamu bisa didik anak kamu dengan baik, agar tahu bagaimana cara menjaga kehormatan orang tuanya!" Josua membanting vas bunga ke lantai.
Suara pecahan vas bunga dari ruang kerja Josua, mengundang teriakan Kylie yang begitu ketakutan melihat amarah dari sang suami, bagaimana tidak. Ini pertama kalinya Kylie melihat Josua dengan amarah yang meluap-luap.
__ADS_1
"Kurang apa Grael sama kamu, sampai kamu tega menyakitinya? Kamu tahu ... akibat ulah kamu, dia membatalkan pernikahan kamu, dan diraw—"
"Pih, lagian Rangga cuma ciuman sama Veby! Bukan tidur bareng!" bela Rangga pada dirinya sendiri saat memotong pembicaraan Josua.
"Rangga bukan Alena, yang tidur bareng sama Johan! Mungkin kalau Rangga tidur bareng sama Veby, baru Papi malu punya anak kaya Rangga!" timpal Rangga yang tidak mau terus disudutkan.
"Jangan membela—"
"Bener apa kata Rangga, Pih!" sela Kylie dari ucapan Josua.
"Diam, kamu! Saya bilang, jangan bicara sekata pun saat saya sedang bicara sama anak kamu!" bentak Josua yang menunjuk wajah Kylie.
"Bagaimana aku bisa diam, sedangkan Papi terus menyalakan Rangga, bahkan sampai tega memukul anaknya sendiri! Papi itu yang sudah kelewatan, belain terus anak kampung yang udik itu! Ya, biarin aja pernikahan mereka batal, Mami lebih senang kalau Rangga batal nikah sama anak udik itu! Masih banyak, Pih ... anak yang berasal dari latar belakang terhormat mau menikah dengan Rangga!" Kylie yang sudah geram melihat Josua terus memarahi Rangga, mulai turun tangan dan mengeluarkan segala emosinya.
"Tutup, mulutmu, Kylie!" Josua menampar pipi sang istri dengan keras.
"Pih! Papi boleh memukul Rangga, semau Papi, tapi jangan melampiaskan rasa kesal Papi ke Mami!" Rangga menopang tubuh sang Ibu dalam dekapannya.
Dentuman suara bantingan pintu tertutup terdengar di telinga Josua, dia begitu kesal dengan Kylie yang tidak mau mengerti dirinya. Tangannya mengepal kuat, mengumpulkan segala emosi yang akan dia keluarkan memalui teriakan sehingga membuat dia merasakan frustasi.
Suara tepukan tangan dari balik lemari besar begitu nyaring mengisi ruang itu, Erlangga yang baru saja keluar dari balik lemari pajangan, memasang raut wajah senang dan takjub mendengar adegan drama keluarga yang sangat luar biasanya.
"Wow, wow, wow!" ucap Erlangga yang perlahan mendekat ke arah sang ayah.
"Sejak kapan kamu berubah profesi menjadi tukang nguping?" sindir Josua yang duduk di kursi kerjanya.
"Sejak Papi memukul adik kesayanganku tepat di bibirnya, bbuugh!" Erlangga menirukan suara pukulan dari mulutnya.
"Papi lagi tidak ada waktu untuk meladeni kamu, jadi jangan buat Papi tambah emosi, mending kamu keluar dari ruangan Papi!" pinta Josua.
"Tapi, sayangnya ... anak pertama dari istri pertama kamu tidak mau keluar!" Erlangga merebahkan tubuhnya di sofa, sembari mengangkat kakinya dengan santai.
__ADS_1
Melihat tingkah anak pertamanya yang begitu kurang sopan santun, dia langsung berdiri dan berteriak, "Erlangga!"
"Oke, oke, oke ... Erlangga akan keluar, tapi ... Erlangga yang akan menggantikan Rangga menikah dengan Grael." Erlangga merubah posisinya dan melihat ke arah sang ayah dengan serius.
"Apa maksud kamu?" tanya sang Ayah yang menatap tajam ke arah anaknya.
Senyum Erlangga terukir sempurna di raut wajah yang tampan itu, ketika dia berhasil memasang umpan kepada mangsanya, Erlangga yang mengetahui kelemahan sang ayah tentang Grael, mencoba memberikan kesepakatan yang membuat Josua tidak bisa menolaknya.
"Deal?" Erlangga menaikan satu alisnya kepada sang ayah.
"Deal!" Josua menjabat tangan Erlangga dengan wajah dinginnya. Dia tidak habis pikir, akan melakukan kerja sama dengan anak pertamanya.
***
Hari semakin berlalu, sudah tiga hari Grael mendapatkan perawatan medis dirumah. Sejak kejadian yang membuatnya jatuh sakit, Grael tidak mau berbicara kepada Rangga sedikitpun, dia memilih untuk diam dan tidak menanggapi baik itu pesan, telepon atau menemui Rangga.
Sudah berulang kali Rangga menghubungi Grael, tetapi tidak ada tanggapan dari sang gadis. Rasa putus asanya semakin menyiksa dirinya saat mengingat hari pernikahanya tinggal beberapa hari lagi.
Rangga berusaha membujuk Grael untuk bertemu tapi selalu saja gagal, hingga hampir saja dia bertekat menculik Grael ketika kesempatan untuk berbicara pada kekasihnya tidak ada. Namun, saat Rangga ingin menyerah, dia melihat sepercik harapan saat sang empu akhirnya keluar bersama Gracia.
Perlahan Rangga mengikuti ke mana Gracia membawa Grael pergi, hingga kakinya berhenti melangkah saat tiba di sebuah taman yang tidak jauh dari rumahnya. Dia pun mengambil kesempatan untuk menghampiri gadis itu ketika Gracia pergi membeli sebuah minuman.
"Ay," panggil Rangga yang duduk di bangku taman dan menggeser kursi roda Grael agar bisa berhadapan dengannya.
Grael yang sudah cukup merasakan sakit hati, berniat memanggil sang kakak. Namun, dicegah oleh Rangga.
"Ay, please ... kasih aku kesempatan untuk bicara sama kamu!" Rangga membekap mulut Grael agar tidak berteriak.
Air mata Grael langsung menetes ketika dia harus melihat wajah orang yang ingin dia lupakan. Rangga pun mengusap air mata gadis itu lalu menggenggam tangan yang masih berbekas dengan infusan.
To be continued...
__ADS_1