
...Warning!!...
...Terdapat adegan unsur dewasa, dan dilarang meniru adegan ini bagi khusus yang bukan makhrom, bijaklah dalam membaca!!...
"Aakh, sakit ... Ngga!" Grael mencoba untuk melepaskan cengkraman Rangga, tetapi sang empu semakin mengeratkan pegangannya.
"Masuk!" perintah Rangga, tetapi Grael menolaknya.
"El, aku lagi gak mau berdebat sama kamu. Aku bilang masuk, ya masuk!" ucap Rangga sekali lagi. Namun, Grael memilih untuk duduk di kursi belakang mobil.
Rangga pun menutup pintunya dan menjalankan mobilnya menuju tempat paviliun pribadi miliknya. Usai sampai di sana, Grael disuruh turun oleh Rangga dan masuk ke dalam paviliun itu.
"Mau ngapain kamu, ngajak aku kesini?" tanya Grael dengan ketus.
"Aku cuma mau berdua sama kamu!" Rangga menaruh kunci mobil lalu menarik tangan Grael agar bisa menatapnya dengan lekat.
"Ngga, aku mau pulang! Gak ada waktu untuk membahas yang gak penting sampai harus kesini! Bentar lagi kenaikan kelas!" Grael membuka pintu tapi pintunya sudah terkunci oleh Rangga.
"Kamu kenapa sih? Salah aku apa sama kamu, sampai dua hari ini kamu menjauh dari aku!"
"Ngga! Aku cuma mau pokus untuk ulangan!" elak Grael.
"Ck! Kenapa? Nyesel tolak Irfan?" tanya Rangga.
"Kenapa bawa-bawa orang lain? Toh, aku gak bawa-bawa cewek kamu!" Grael menatap sinis ke arah Rangga.
"Cewek? Siapa?" tanya Rangga yang bingung.
"Dah, lah ... Ngga! Aku mau balik, buka pintunya!" Grael mulai malas dengan sifat laki-laki yang selalu menutupi kebohongan.
"Gak jelas kamu! Bilang aja kamu suka sama Irfan kan?" bentak Rangga yang menarik bahu Grael dengan kasar.
"Gak jelas? Heh!" Grael menghempaskan tangan Rangga dengan malas.
Rangga yang tidak terima dengan jawaban Grael langsung mendorong Grael hingga mentok ke pintu, tanganya pun menahan tangan Grael ke atas pintu.
__ADS_1
"Jawab!" bentak Rangga kesal dengan sikap Grael yang sulit dia tebak.
"Jawab apa? Kamu mau dengar apa? Suka, gitu? Terus kalau aku bilang suka sama Irfan kamu mau bilang kalau kamu suka sama Veby gitu? Ya sudah! Silahkan!" mata Grael sudah berkaca-kaca menatap Rangga, trauma yang di buat kakak tiri Rangga masih tersimpan dibenaknya bagaimana dirinya dipaksa untuk bercumbu.
"Apa hubungannya dengan Veby? Astaga! Demi Tuhan, aku sama sekali gak suka sama dia!" Rangga langsung melepas pegangannya dan berbalik membelakangi Grael.
Grael yang begitu kesal dengan sifat laki-laki yang begitu egois mau menang sendiri, mencoba menceritakan semua yang dia lihat bersama Ernata, dia juga tahu kalau Rangga pernah mengajak Veby ke sini.
"Jangan egois jadi cowok, Ngga! Kamu gak ngaca kan? Kamu ngelarang aku buat jangan dekat dengan Irfan, tapi kamu sendiri? Ck!" Grael tertawa sinis melihat Rangga.
"Demi Tuhan, Ay ... aku gak pernah cium dia! Apalagi selingkuh dari kamu!" Rangga mencoba menjelaskan kepada Grael.
"Ay ...," ucap Rangga.
Perlahan tangan Rangga memeluk bahu Grael, dia mengecup pucuk kepala sang kekasih sembari menjelaskannya sejujur-jujurnya, bahwa dia sama sekali tidak pernah mencium Veby apalagi memiliki perasaan kepada Veby.
Rangga menjelaskan bagaimana dia bisa mengantar jemput Veby yang hanya semata kebetulan, dan niat dia menolong Veby karena merasa kasihan, Rangga juga menjelaskan bahwa Veby tidak pernah datang ke paviliun pribadinya yang saat ini bersama Grael, karena Rangga mengajaknya ke paviliun khusus Kylie meluangkan hoby untuk melukis.
Begitu juga dengan di sekolah, Veby meminta tolong kepada Rangga agar berada didekatnya supaya tidak ada yang berani membully dia. Bukan karena Rangga yang mau dekat dengan dia.
"Please, percaya sama aku! Kamu percaya kan?" Rangga melihat ke arah Grael dengan wajah yang senduh.
Rangga tersenyum, dia kembali memeluk kekasihnya dengan erat. Sebelum akhirnya, Rangga mengajak Grael ke kamarnya.
"Mau ngapain?" tanya Grael yang mulai panik saat Rangga mengajaknya masuk ke dalam kamar pribadinya.
"Mau minta kompensasi!" Rangga menarik tangan Grael hingga gadis itu terjatuh bersamaan dengan Rangga.
Kini posisi mereka berada di atas tempat tidur, di mana Grael berada di bawah Rangga, matanya pun perlahan dia tutup agar bisa menikmati sensasi yang ingin dia rasakan bersama Grael.
"Ngga! Bentar lagi mau malem! Aku mau pulang!" Grael mendorong bibir Rangga.
"Bentar doang! Udah lama gak dapat jatah," rengek Rangga yang menaruh kepalanya di bahu Grael, agar sang gadis tidak bisa bangun.
"Apa sih! Jatah apa?" Grael tertawa mendengar ucapan Rangga, dengan manja, Rangga menunjuk ke arah bibirnya.
__ADS_1
"Bukannya udah ya, sama dia?" tanya Grael.
"Astaga! Dia siapa sih, hah!" Rangga menggelitik perut Grael hingga membuat gadis itu tertawa kegelian.
Mereka berdua saling menikmati candaan yang begitu menggelitik di tubuh mereka, sampai akhirnya Rangga mengunci tangan Grael dengan tanganya. Agar berhenti menggelitiknya.
Suara deru napas mereka masih menggebu-gebu saat usai dari candaan, kedua mata mereka saling menatap satu sama lain, bibir Rangga yang semakin mendekat membuat Grael memejamkan matanya sembari menarik tengkuk leher Rangga.
Untuk pertama kalinya Grael yang berinisiatif mencium Rangga terlebih dahulu, membuat sang empu tersenyum puas walaupun Grael tidak begitu lihai dalam berciuman, tapi mampu membangkitkan gairah Rangga.
Decapan demi decapan saling beradu dengan syahdu saat lidah mereka berdua saling membalas sentuhan, ini pertama kalinya Grael begitu agresif memberikan kepuasan pada Rangga, karena perasaan bersalahnya sudah berani selingkuh dari orang sebaik Rangga.
Grael akan memutuskan untuk menaruh hati sepenuhnya pada Rangga dan akan melupakan Erlangga sepenuhnya, bathinya selalu bertekat bahwa dia benar-benar mencintai Rangga buka. Erlangga.
Rangga merasakan sesuatu yang begitu dahsyat di aliran tubuhnya ketika sang kekasih berinisiatif membuka baju seragamnya, jemari lentiknya membangkitkan sesuatu yang semestinya tidak boleh bangkit dari sarangnya.
Iya, Rangga sudah terbakar api asmara yang sudah dihidupkan oleh Grael, trauma rasa sakit Rangga dengan kenangan pahit saat melihat Alena bercinta dengan sahabatnya sendiri kini sudah terobati dengan kehadiran Grael.
"El, aku mau!" ucap Rangga dengan suara berat ciri khas seseorang yang sudah dimabuk puncak asmara.
Tanpa menjawab ucapan Rangga, Grael langsung mellumat kembali bibir Rangga dengan buas, kini mereka berada dipuncak gairah yang semestinya tidak harus terjadi.
Perlahan Rangga membuka baju seragamnya lalu gesper, kemudian kembali menyesap bibir Grael secara bergantian dengan leher, Grael yang menikmati sentuhan dari Rangga tiba-tiba terlintas cumbuan Erlangga, sehingga tanpa sadar dia menyebut Rangga dengan sebutan lain.
"Ahh, kak!" ucap Grael yang langsung tersadar dari perbuatannya. Dia mendorong kasar tubuh Rangga hingga tubuh kekasihnya itu jatuh kesamping.
"Aah, ma–maf! Ngga ... a–a–aku ... a–aku," ucap Grael terbatah, dia meremas rambutnya untuk menyadarkan atas perbuatan dia.
Refleks Rangga memeluk Grael dan mengecupnya. "Sudah, gak apa-apa! Kita pelan-pelan saja."
Rangga mengancingkan baju Grael kembali lalu merapihkan rambut Grael sembari tersenyum. Bukan itu maksud Grael, tapi dia bingung kepada dirinya sendiri, semakin dia berusaha untuk melupakan Erlangga semakin dia menginginkan Erlangga yang menyentuhnya.
"Ngga, a–aku beneran minta maaf! A–aaku gak bermaksud untuk —"
"Hai, sudah gak apa-apa! Aku yang seharusnya minta maaf, kalau aku terlalu maksa meminta sama kamu! Aku akan mencoba bersabar, sampai kita mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan." Rangga mencoba menenangkan rasa bersalah Grael yang Rangga sendiri tidak menyadari maksud ucapan Grael.
__ADS_1
"Aku antar pulang ya! Karena kalau kamu kelamaan di sini, yang ada ... aku gak kuat nahan sampai kita sah di mata Tuhan," ujar Rangga yang mendapat senyuman garing dari Grael.
To be continued...