
Seteguk demi seteguk Grael hampir menghabiskan satu gelas susu buatan suami, dia memang sengaja untuk berlama-lama berada di dapur agar bisa berduaan dengan Erlangga, karena dirinya merasa bosan selama berada di dalam kamar.
"Besok, Kakak balik lagi ke lokasi syuting?" tanya Grael, perlahan menaruh gelasnya di hadapannya.
"Iya, cepat habiskan susunya. Kita tidur," ujar Erlangga.
"Kenapa? Kakak, sudah ngantuk? Atau ... nggak mau lama-lama sama, aku?" Grael menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan sang suami.
"Kamu harus banyak istirahat!" Erlangga mengelap sisa susu yang berada di sudut bibir Grael.
Pandangan mata Grael mengikuti ibu jari Erlangga yang mengusap bibirnya secara halus, Grael pun berinisiatif untuk memberikan rangsangan pada sang suami, agar bisa mencium bibir Erlangga dengan cara mengecup jemari sang empu. Namun, Grael hanya mendapat balasan biasa saja dari suaminya. Dia juga melihat sang suami hanya tersenyum lalu menyuruhnya untuk menghabiskan susu.
Helaan napas Grael menandakan bawa usahanya menyerah untuk bisa mencium sang suami, dia pun memutuskan untuk tidak mengambil inisiatif walaupun itu hanya sekedar ciuman dan tidak lebih.
"Boleh, aku ikut?" Grael menarik baju Erlangga saat kakinya melangkah mengekori sang suami menuju kamar.
"Kamu baru pulang dari rumah sakit, lagian juga, Senin besok udah mulai masuk sekolah lagi, kan?" Erlangga membalikan badannya dan mencubit pipi sang istri dengan gemas.
"Iya, seharusnya kan, hari ini kita berangkat honey—"
"Gak jadi, ya sudah kalau nggak boleh ikut!" Grael melewati Erlangga begitu saja dan masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.
Erlangga tahu maksud dari Grael, hanya saja dia ingin memberi waktu ruang di hati istrinya untuk benar-benar mencintai dia, karena itu dia sudah berjanji tidak akan memaksa sampai Grael membalas cintanya walaupun hasrat nalurinya ingin sekali menerkam sang istri saat itu juga ketika dia selalu digoda oleh kelinci kecilnya.
Langkah Erlangga pun bergerak cepat, ketika hatinya menyetujui permintaan Grael yang ikut pergi ke lokasi syuting. Tangannya membuka handle pintu, lalu melihat Grael yang sudah memejamkan mata seraya menangis.
"Hai ... jangan nangis! Tidurlah," ucap Erlangga yang masuk ke dalam selimut bersama istrinya seraya mengecup bahu Grael.
"Jangan cium-cium! Nanti ketularan sakit lagi," ketus Grael sembari sesugukkan.
"Berjanjilah, jangan marah! Bila aku hanya memperkenalkan kamu sebagai adikku bukan istriku saat di sana." Erlangga membalikan tubuh Grael lalu mendekapnya dalam pelukan.
__ADS_1
"Adik? Bukan, istri? Terus tidurnya pisah?" Grael mendongak ke atas melihat wajah Erlangga yang sudah memejamkan mata.
"Aku tidak sanggup bila tidur pisah denganmu saat kamu berada didekatku!" ucap Erlangga yang masih terpejam.
"Terima kasih," ucap Grael dengan suara lembut, dia pun menaruh kepalanya di lengan kekar Erlangga dan ikut terpejam bersama sang suami.
...----------------...
Pagi hari, suasana di ruang makan begitu canggung saat Rangga dan Kylie juga makan bersama mereka, begitu perhatiannya Erlangga memberikan banyak sayur untuk sang istri ke dalam piringnya, tidak jarang pula Erlangga menyodorkan satu potong omlet telur ke mulut Grael.
"Makanlah yang banyak, biar kuat sampai di kota N," ledek Josua yang tersenyum memberikan sandwich kepada Grael.
"Makasih, Pih," ucap Grael dengan suara yang lembut.
Sontak membuat Rangga tersedak makanan, dia pun menerima air minum dari tangan Kylie, dan menatap wanita yang ada di depan matanya. "Kamu, mau pergi? Kamu kan baru pulang dari dari rumah sakit, Ay!"
Semua orang langsung menatap ke arah Rangga saat melontarkan panggilan untuk Grael yang sudah menjadi istri Erlangga, Grael pun tersedak atas ucapan Rangga, dia pun mendapat tatapan sinis dari dari sang suami.
"Maaf," ucap Rangga yang menyadari kesalahannya.
"Aku udah kenyang, kak!" ucap Grael yang menundukkan kepalanya.
Kylie menatap menantunya dengan tatapan penuh kebencian, sangat terlihat jelas di senyum angkuhnya, sedangkan Josua menghela napas panjangnya seraya berkata, "Papi antar kalian sampai di depan."
Erlangga bergegas meninggalkan ruang makan bersama istrinya, ketika mereka berdua sudah keluar dari kamar dan berjalan menuju halaman rumah. Erlangga menatap mata istrinya dengan heran, seakan mencari seseorang yang ingin dia lihat.
"Cari siapa?" tanya Erlangga, dia mengoper tas kopernya kepada Rio.
"Hemm ... Pak Rudin, kemana?" Grael masih melihat ke area sekitar halaman depan rumah.
"Kenapa tanya, dia? Kamu kenal, dia?" tanya Erlangga dengan curiga.
__ADS_1
Grael hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, niat hati setelah sepulang dari kota N, dia akan menanyakan soal kejadian saat dia terjatuh ke kolam. Akan tetapi, Erlangga mendekatinya seraya memicingkan matanya.
"Tidak mau jujur?" Erlangga terus menyudutkan tubuh sang istri hingga mentok ke badan samping mobil.
"Aku hanya ... ing—"
Belum sempat Grael melanjutkan ucapannya, sang suami sudah memotong pembicaraannya dan berkata, "Yo, taruh kembali koper warna me—"
Grael pun langsung menarik kerah kemeja Erlangga, lantas mencium bibir sang suami sebelum Erlangga menyuruh manager pribadi menurunkan koper miliknya. Dapat Grael lihat jelas, kedua manik mata sang suami yang berwarna biru itu membulatkan matanya saat bibir Erlangga dia lummat hingga lidahnya untuk pertama kali menjillat lidah Erlangga yang berada di dalam mulut sang suami.
Debaran jantung berdegup sangat kencang, ketika Grael begitu berani mencium bibir sang suami di depan Rio, kini dia tahu mungkin rasa cintanya untuk Erlangga sudah hadir saat pertemuan pertama, hanya saja belum sepenuhnya mengusir posisi Rangga di hatinya.
Morning kiss yang diberikan oleh sang istri tentu membuat Erlangga merasa terkejut, apalagi Grael menggunakan lidahnya untuk mellumat bibirnya di depan Rio, dia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dan langsung membalas ciuman yang terasa manis itu di pagi hari.
"Astaga ... pagi-pagi udah pamer kemesraan aja, mentang-mentang pengantin baru! Sue, bener jadi kacung!" Rio menutup bagasi belakang mobil dengan kencang lalu melangkah masuk ke dalam mobil duduk di samping Pak Beni yang bertugas sebagai sopir pribadi sekaligus asisten pribadi Erlangga.
"Katakanlah, sebelum aku nekat melakukannya di sini!" ancam Erlangga saat melepas tautan bibir mereka.
"Oh, ya? Coba saja!" goda Grael yang hanya bercanda. Namun ternyata, sang suami pun nekat membuka resleting celana jeans miliknya, tetapi belum sempat resleting itu terbuka lebar, Josua sudah menghampirinya.
"Er ... Papi titip, El! Jaga dia baik-baik, dan ini untuk bekal perjalan kalian!" Josua menyuruh Carly untuk memberikan beberapa kantung makanan untuk Grael.
"Pih, kita bukan piknik! Ngapain bawa begitu banyak makanan? Norak banget," celetuk Erlangga dengan intonasi kesal.
"Makasih ya, Pih! Papi, tahu aja kalau Grael suka ngemil banyak diperjalanan." Grael mencium tangan Josua dan Kylie seraya berpamitan kepada mereka.
Erlangga langsung menarik lengan Grael saat mengetahui Rangga menatap istrinya tanpa berkedip, mobil mereka pun berjalan dan semakin menjauh dari pandangan Rangga. Rasa sesak semakin mencekik Rangga, ternyata dia masih belum bisa kehilangan Grael secepat itu dan merelakan wanita itu untuk kakak tirinya.
To be continued...
bonus visual, author tak pandai pilih jadi mohon maaf bila tak sesuai 🤭
__ADS_1
Grael Arabella.