Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
187. bersyukur memiliki grael


__ADS_3

Mereka berjalan secara perlahan menelusuri pinggiran jalanan yang khusus untuk pejalan kaki, baru saja Diego ingin bertanya rumahnya di sebelah mana tetapi teman seperjuangannya sudah lebih dulu memanggil dia.


"Samuel!" teriak ketiga sahabat karib Diego.


Grael dan Diego menengok ke belakang secara bersamaan, hingga langkah mereka pun berhenti sejenak melihat ke arah sumber suara. Grael melihat Diego yang melambaikan tangan kepada ketiga pria yang berada di dalam mobil atap terbuka.


Lahan mobil itu menghampiri Diego dan menanyakan kenapa pria tersebut bisa jalan kaki sedangkan dia memiliki mobil, tiga pria itu mendengar jawaban dari pemuda yang menjadi sahabat mereka bahwa mobilnya sedang diperbaiki.


"Ala ... Alibi klise! Siapa doi?" Tanya salah satu sahabat Diego yang duduk di kursi pengemudi.


"Just friends," sahut Diego yang tertawa.


Seketika ketika pria itu tertawa mendengar alasan Diego yang artinya bahwa wanita tersebut akan menjadi salah satu incarannya. Mereka pun memandangi penampilan Grael dari atas sampai bawah yang memiliki nilai rata-rata delapa dan sembilan.


Itu artinya Grael sangat menarik meski tidak memiliki dada dan bokong yang semok, mengetahui hal tersebut sang empu rasa tidak nyaman dipandang seperti itu dia pun memilih untuk pamit lebih dulu kepada Diego seraya menutupi penampilannya dengan tas yang dia bawa.


"Mau di antar sekalian?" tawar para sahabat Diego.


"No, thanks!" jawab Grael sedikit ketus.


Mengetahui wanita incarannya marah, Diego pun mendekat ke arah Grael untuk meminta maaf atas sikap sahabat-sahabatnya, dia berjanji kejadian itu tidak akan diulangi lagi.


"Sam! Come on!" teriak para sahabatnya yang sudah menunggu untuk dia ikut bersama mereka.


"Kamu hati-hati di jalan, kapan-kapan aku akan mengantarmu sampai ke rumah!" ucap Diego.


Baru saja Grael ingin mengatakan bila itu tidak perlu Diego lakuka dan menjelaskan kesalahpahaman yang ada, tetapi pria itu justru sudah lebih dulu sehingga dia pun memilih untuk kembali berjalan menuju rumahnya.

__ADS_1


Sesampainya Grael berada di dalam rumah, dia disambut hangat oleh Evelyn wanita tua yang terlihat awet muda. Grael menanyakan tentang suaminya kepada Evelyn.


"Tuan masih rapat, Nyah di ruangannya!" ucap Evelyn.


"Oh, iya ... tapi sudah makan siang?" tanya Grael.


"Belum, Nyah! Saya masih belum berani karena sepertinya rapatnya penting." Evelyn menyerahkan segelas air minum kepada Grael.


"Terima kasih," sahut Grael dia pun meminumnya dan menyerahkan kembali gelas tersebut. "Ya sudah, kalau begitu ... Biar saya aja yang mengantar makan siangnya!"


Evelyn pun mundur secara perlahan ke belakang dan membantu Grael untuk menyiapkan makan siang Erlangga, dia melihat wanita muda itu begitu telaten mengetahui hal apa saja yang tidak disukai oleh suaminya. Termasuk menyingkirkan sayur buncis pada SOP iga tersebut.


"Sepertinya saya jadi de va ju dengan masa lalu!" Evelyn kembali mengingat bagaimana dulu istri dari Joshua begitu peduli dengan makanan yang disukai oleh Joshua.


"Maksudnya?" tanya Grael yang masih belum mengerti arah pembicaraan Evelyn.


Sehingga membuat Grael begitu banyak tanda tanya besar apa hubungannya Evelyn dengan mendiang ibu kandung Erlangga? Apakah wanita tua itu tahu tentang Kylie? Pikirannya pun menerka-nerka tetapi belum saatnya dia untuk bertanya karena saat ini dia ingin mengantar makan siang kepada sang suami.


"Saya tinggal antar dulu ya, Bik!" ucap Grael yang membawa nampan dan menuju ke arah ruang kerja Erlangga.


Tangan putih mulus itu mengetuk pintu ruang kerja Erlangga, dia membuka sedikit pintu tersebut dan melihat ke arah suaminya yang tengah menatap layar komputer dengan raut wajah serius, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Evelyn.


Pria yang memiliki jenggot tipis tersebut sedang serius memimpin rapat melalui situs online, dia pun berniat tidak mengganggunya dan hanya memberikan makan siang untuk Erlangga. Tangan itu menaruh mangkuk dan piring ke atas meja yang terdapat dua kursi panjang, tidak lupa dia meletakkan minuman di samping piring itu.


Grael memilih duduk di kursi untuk menunggu suaminya selesai rapat, dia pun memilih untuk menyelonjorkan kakinya sampai akhirnya matanya pun terpejam karena saking nyaman berada di sofa tersebut.


Sementara Erlangga yang melihat sang istri ketiduran di sofa tunggu di ruang kerjanya, begitu selesai memimpin rapat tersebut tanpa didampingi oleh Yogi dia pun mematikan komputernya.

__ADS_1


Bibir di wajah tampan itu pun melengkung seperti bulan sabit, perlahan dia bangun dari kursinya lalu mendekati Grael. Dia berjongkok untuk melihat wajah sang istri lebih dekat ketika sedang tertidur.


Tangan kekar itu menyibakkan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya, lantas mengecup kening sembari berdoa dalam hati. "Sabar ya, Sayang! Semoga Tuhan memberikan kita kepercayaan untuk segera memiliki anak! Aku akan selalu ada di samping kamu.


Tidak lupa saat Erlangga mengecup kening Grael seraya berdoa, tangan itu mengusap perut sang istri yang masih rata. Dia tidak perduli bila nanti Rangga dan Emira lebih dulu memiliki seorang anak dan harta warisan jatuh ke tangan anak Rangga, begitu juga Rangga yang akan menggantikan posisi dirinya saat anak Emira lahir lebih dulu.


Erlangga hanya ingin hidup bahagia meski tidak terlalu memiliki banyak harta, walaupun kemungkinan mereka akan susah memiliki seorang anak. Akan tetapi, bagi dia hidup bersama dengan Grael berdua itu sudah lebih dari cukup dari harta yang selama ini dia inginkan.


Rapat itu menyadarkan dia bahwa ternyata banyak yang berniat mengajaknya untuk berinvestasi terhadap perusahaan lainnya, dengan kata lain sebagian pembisnis besar yang berada di kota tersebut ingin merekrut dirinya menjadi pemimpin perusahaan mereka.


"Kak?" Grael terbangun dari tidurnya ketika dia merasa terusik dari tidurnya.


"Hai," jawab Erlangga yang tersenyum ke arah istrinya.


"Kakak sudah selesai meting-nya?" Grael bangun lalu mengubah posisinya untuk duduk, dia pun melihat suaminya duduk di sebelah sembari mengangguk. "Kalau begitu, makan yuk! Kakak pasti lapar."


Grael pun membuka sayur dari penutup dan terlihat jelas bahwa sayur tersebut masih hangat, dia pun menyerahkan sendok pada Erlangga lantas berdoa dalam hati.


Usai berdoa, Grael mengambil sayur yang berisikan potongan daging iga untuk dia berikan kepada Erlangga, tangan itu secara telaten menyuapi sang suami.


"Maaf, belum bisa menjemputmu tadi!" ucap Erlangga.


"Nggak apa-apa, aku tahu suamiku ini pasti sedang sibuk sekali mencari nafkah untuk istrinya ... karena itu, El tidak keberatan sama sekali! Jadi Kak Erlangga tidak perlu cemas!" ujar Grael.


Erlangga tersenyum sembari mengusap kepala istrinya dengan kasih sayang saat mulutnya tengah sibuk mengunyah makanan. Dia bersyukur bila istrinya selalu sabar dan tetap setia berada di sampingnya, membuat dia kembali merasa bersalah saat mengingat masa lalu yang pernah dia perbuat, yaitu berbuat kasar saat cemburunya begitu tinggi.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2