
Erlangga memijat bahu Rangga yang sedang mengeluarkan isi perutnya, ketika mereka menepikan motornya kembali. Dia juga mengoleskan minyak angin pada bahu sang adik sembari tertawa tiada habis-habisnya.
Bayangkan saja, saat Rangga mencium pipi Susanti, tanpa di sangka-sangka oleh mereka berdua waria itu justru membalas ciuman Rangga dengan mencium seluruh wajah Rangga hingga mengecup bibirnya.
"Anjrriit, males gue sama Lo, Kak!" umpat Rangga yang sudah mengeluarkan keringat dingin pada tubuhnya, saat menyaksikan Erlangga terus menertawainya.
"Dah, dah ... ayo, buruan! Kasian istri gue, kelamaan nungguin!" Erlangga menyalahkan mesin motornya lagi dan menyuruh Rangga untuk segera naik.
Setelah sampai di sebuah mini market, Erlangga pun bingung mencari etalase yang mendisplay produk wanita, dia sudah berkeliling mencari setiap lorong etalase, tetapi tidak menemukan yang dia cari.
Rangga pun heran melihat tingkah Erlangga seraya mengerutkan keningnya ketika dirinya sudah mengambil banyak kebutuhan untuk dirinya tetapi sang kakak masih belum mendapatkan apa yang ingin dia beli. "Lo, cari apaan sih, Kak?"
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai penjaga mini market tersebut.
"Ah ... hmm itu," ucap Erlangga yang bingung menjelaskannya seraya menggerakan tangannya untuk memberitahu apa yang ingin dia cari. Namun, pegawai itu bingung mengartikan apa yang di maksud oleh Erlangga.
Erlangga pun menghela napas panjang, lalu membuka maskernya seraya mendekat ke arah pegawai itu dan membisikkan kata didekat telinganya.
Pelayan itu terkejut saat yang ada di hadapannya ternyata artis idolanya, dia pun menutup mulutnya karena terkejut sembari mendengarkan apa yang diucapkan oleh Erlangga, kemudian menganggukan sebagai tanda mengerti dan mengarahkan tempat pembalut wanita.
"Ya ampun ... ternyata mau beli pemba—"
Mulut Rangga langsung ditutup oleh tangan Erlangga, dia pun mengucapkan kata terima kasih pada pelayan toko tersebut dan menatap tajam ke arah sang adik.
Rangga pun tersenyum seraya mengangkat kedua jarinya sebagai tanda berdamai, dia juga membantu sang kakak untuk memilih pembalut untuk Grael.
Cukup lama keduanya memilih, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membeli semua merek dan berbagai macam ukuran yang ada di etalase tersebut, kemudian membayar barang belanjaan mereka.
Antrian pun semakin panjang ketika pegawai kasir yang menghitung total jumlah belanjaan dibantu oleh rekannya untuk mengantongi barang belanjaan ke dua pria tersebut. Usai selesai Rangga pun langsung mengambil kunci motor dari saku kakaknya dan langsung menaiki motor Erlangga tanpa izin terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ngga, jangan macem-macem, Ngga! Turun, nggak!" bentak Erlangga pada sang adik.
"Dah, tenang aja! Gue yang bawa motornya, gantian! Pasti bakalan selamat sampai tujuan!" ucap Rangga dengan bangga.
"Awas salah tujuan!" ancam Erlangga yang naik di belakang.
Rangga pun mulai melajukan motor untuk kembali ke arah jalan pulang, dia membawa kecepatan motornya hingga kecepatan lima puluh kilometer per jam dalam keadaan senggang, tanpa hambatan, tanpa kendala apapun, hanya saja hampir menambrak badut mampang di persimpangan jalan.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di kediaman rumah utama dengan selamat. Rangga pun dengan bangga memuji ke ahliannya sendiri dalam mengendarai motor, tetapi Erlangga memberi tantangan pada sang adik untuk langsung memarkirkan motornya ke dalam bagasi motor tanpa lecet sedikit pun pada motor kesayangannya.
Tentu saja Rangga menerima tantangan tersebut, dengan percaya diri, Rangga pun menancapkan gasnya dari gerbang utama sampai ke bagasi motor, begitu sempurna dia mendaratkan motor sang kakak tepat di samping motor gede milik Josua.
Erlangga pun langsung memuji ke ahlian tersebut lalu turun dari motor, begitu juga dengan Rangga. Namun, pujian dari Erlangga untuk pertama kalinya membuat Rangga lupa menurunkan standard pada motor sport milik Erlangga hingga akhirnya saat Rangga turun dari motor dia kehilangan keseimbangan.
"Eeeh, eeh, eehh!" ucap Rangga saat mencoba menahan motor sport tapi karena posisi dia berdiri belum siap, hingga akhirnya motor itu jatuh mengenai badannya dan juga motor milik sang ayah.
Suara motor jatuh pun terdengar oleh Erlangga yang baru saja membalikkan tubuhnya, dia pun kembali melihat Rangga yang sudah jatuh bersama ke dua motor.
"Kak, bantuin! Berat, nih!" keluh Rangga yang melihat reaksi sang kakak lebih menghawatirkan motor dari pada dirinya.
Sontak Erlangga pun membantu Rangga dengan menurunkan standard pada motorya lalu melihat motor milik Josua begitu banyak goresan akibat terjatuh. Keduanya pun panik karena itu motor kesayangan ayah mereka.
"Wah ... gila, Lo, Ngga! Nah loh, nah loh ... gue nggak tahu! Bukan gue," ucap Erlangga yang mundur secara perlahan dan mengambil barangan belanjaanya.
"Anjriet, bantuin gue, Kak!" Rangga mengangkat motor ayahnya untuk berdiri seperti semula.
"Wah ... mampus, Lo, Ngga! Bisa di gantung Lo, sama tuh, Aki-Aki!" Erlangga pun langsung masuk ke dalam tanpa membantu Rangga.
"Sue, Lo, Kak! Sial, berat banget, njirrr!" umpat Rangga yang memaki kakaknya sekaligus menggrutu motor sang ayah karena begitu berat.
__ADS_1
...----------------...
"Yank ... kamu masih di dalam?" Erlangga mengetuk pintu kamar mandi.
Grael pun membuka pintunya dengan tatapan menakutkan, dirinya begitu kesal karena menunggu Erlangga begitu lama di kamar mandi.
"Lama, banget sih! Belinya, di mana? Paris? London? Apa Jerman? Hah!" maki Grael dalam hatinya, ketika dia sudah kedinginan di kamar mandi. Namun, kenyataanya dia hanya bisa tersenyum ke arah Erlangga dan berkata, "Makasi, ya, Kak!"
Grael pun menutup pintunya kembali dan melihat isi kantung yang begitu banyak merek serta ukuran dan modelnya.
"Astaga, dia borong semuanya? Banyak banget!" ucap Grael yang bingung.
Beberapa menit kemudian, Grael keluar dari kamar mandi seraya memegang perutnya yang kram efek dari datang bulannya.
"Kak!" keluh Grael saat perutnya begitu kram berbeda dari biasanya.
"Ya Tuhan, kamu kenapa? Sakit? Mau ke dokter? Atau mau aku panggilin Tante Nadin?" ucap Erlangga yang begitu panik saat sang istri mengeluh kesakitan seraya memegang perutnya.
Grael pun menjelaskan bahwa ini sudah biasa saat lagi masa haid, tetapi ini pertama kalinya dia merasakan begitu sakit. Grael hanya ingin perutnya di usap oleh sang suami agar merasa nyaman, tetapi reaksi Erlangga terlalu berlebihan.
Erlangga langsung menelepon Dokter Nadin saat itu juga, walaupun Grael sudah melarangnya kalau sakit yang dia rasakan akan segera menghilang dan tidak perlu memanggil Dokter Nadin.
Ketiga pria yang berkuasa di rumah itu begitu panik, termasuk para maid yang ditugaskan untuk siap siaga menjaga dan melayani Grael selama 24 jam.
Sebelum memberitahu kepada Erlangga, Rangga dan juga Josua, Nadin mengambil napasnya dalam-dalam lalu dia keluarkan secara perlahan. "Nyonya Grael hanya mengalami kram perut biasa yang sangat normal bagi kaum wanita saat masa menstruasi-nya datang, tidak perlu cemas! Cukup buatkan minuman air hangat, atau teh chamomile, dan ini saya kasih pereda rasa nyeri bila rasa sakitnya tak kunjung mereda."
"Terima kasih," ucap Josua yang merasa lega, begitu juga dengan Erlangga dan Rangga.
"Sama-sama kalau gitu, saya pamit dulu. Semoga lekas sembuh!" Nadin tersenyum melihat ke arah Grael yang menutupi sebagian wajahnya untuk menahan rasa malu ketika dirinya hanya sakit keram perut karena masa haid-nya. Akan tetapi, dia mendapatkan perlakuan luar biasa bagaikan seorang ratu.
__ADS_1
"Ciih! Cuma keram perut doang, sampai heboh seisi rumah! Kirain mau koit!" ucap Kylie yang memasang wajah ketidaksukaan terhadap Grael.
...To be continued... ...