Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
137. Kecurigaan Erlangga pada Rio


__ADS_3

Erlangga melihat tingkah Rio yang begitu aneh saat memandangi istrinya, entah kenapa dia melihat sorot mata asistennya itu menunjukkan arti yang berbeda. Hatinya menjadi cemburu melihat cara tawa Rio seiring tatapan yang melihat ke arah Grael.


Sampai akhirnya, Erlangga mencoba mengetes apa yang dia pikiran itu benar atau salah. "Sungguh menggemaskan."


"Benar, aku menganggap itu berani!" ucap Rio yang masih tertawa seraya kembali duduk.


"Karena itulah, aku mencintainya!" ucap Erlangga dengan tegas sembari menatap setiap ekspresi Rio.


"Kamu benar!" Rio tanpa sadar menjawab kata yang ambigu untuk Erlangga cerna, dia pun menyesap minuman pada gelasnya dan melihat ke arah Erlangga yang ternyata memberikan tatapan serius.


Rio pun hanya tersenyum membalas tatapan Erlangga dia enggan sekali menanyakan untuk membahas ke arah yang dia sendiri tahu bila Erlangga sudah mulai curiga dengan dirinya, tapi sebisa mungkin Rio untuk menganggapnya biasa saja.


"Kak, ini cemilannya, maaf ya cuman kue." Grael menaruh di atas meja di hadapan Erlangga dan juga Rio.


"Makasih ya, Sayang!" Erlangga menarik pinggang istrinya agar sang istri mau mengecup pipinya.


"Sama-sama," ucap Grael dengan lembut sembari mengecup pipi suaminya.


Pada saat itu juga Erlangga melihat ke arah Rio yang membuang muka saat Grael mencium dirinya, terlihat jelas bila Rio berusaha menutupi rasa cemburunya.


Sementara itu, kedua pasangan kekasih sedang pokus saling memberi perhatian di mana Emira sedang mengganti perban pada luka Rangga, dengan pelan-pelan Emira memberikan obat luka.


Bila boleh jujur saat ini, Rangga ingin berteriak sekuat tenaga karena begitu sakit saat Emira memberikan obat pada lukanya. Akan tetapi dia tetap berusaha menahannya agar tidak terlihat lemah di mata wanita yang dia cintai.


"Apakah sakit?" tanya Emira, tangannya terus memberikan usapan lembut pada luka yang diberikan salep obat.


"Tidak, tidak seberapa di bandingkan saat dia membawamu pergi!" ucap Rangga, tangganya mengepal erat pada seprai untuk meluapkan rasa sakit yang teramat dalam pada lukanya.


Emira tertawa ketika Rangga menutup rasa sakitnya saat dia memberikan obat, begitu selesai dia pun meraih tangan Rangga agar tidak meremas seprai terlalu kencang dan memberikan usapan lembut pada tangan pria yang dia cintai.


"Sudah selesai, jadi tidak perlu meremas sprei lagi! Wajar kok, bila anak laki-laki menangis karena luka!" Emira tersenyum sembari meletakan tangan Rangga di pipinya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kenapa kamu selalu buat aku lemah si? Seenggaknya kamu diam aja walaupun kamu tahu aku lemah, biar harga diriku tidak jatuh-jatuh banget!" ucap Rangga dengan cemberut.


Emira tertawa melihat sikap Rangga, dia pun mengusap pipi yang tidak terluka sebagai bentuk permintaan maaf. "Maaf bila kamu tersinggung, asal Kak Rangga tahu, bila aku cinta dan sayang sama Kak Rangga itu, apa adanya, jadi jangan ngambek lagi ya, Sayangku!"


"Maaf bila aku tidak bisa melindungimu dengan baik!" Rangga meraih tangan Emira dan menciumnya dengan lembut.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan, fokus kesehatan Kakak ya, besok aku datang lagi." Emira mengambil tasnya dan berniat bangun dari tempat tidur, tapi dengan cepat Rangga menarik tangan Emira lalu mengecup ringan bibir manis kekasihnya.


"Ehem!" Rio berdeham keras saat melihat adiknya di cium oleh Rangga. "Sudah selesai kan? Kita pulang!"


Emira malu setengah mati karena ternyata terciduk oleh kakaknya sendiri walaupun itu hanya sebuah kecupan ringan, dia pun berpamitan pada Grael dan juga Erlangga. "Aku pulang dulu ya, Kak!"


"Ngga, kita juga langsung pamit ya," ucap Grael yang menggandeng tangan Emira.


"Loh, Kak. Kalian juga pergi? Nggak nginep apa di sini? Seenggaknya temenin gua sih!" protes Rangga yang melihat semuanya keluar dari dalam kamarnya.


"Biasanya juga Lo sendiri kan?" sahut Erlangga yang menutup pintunya.


...----------------...


Malam hari di kamar, Erlangga mendapat kabar bahwa penangkapan pada Steven gagal, karena keluarga Steven yang terbilang cukup terpandang ditambah Steven masih sekolah jadi memudahkan Steven lolos berkali-kali dalam penangkapan.


Erlangga membanting ponselnya ke atas meja belajar Grael, dia berdacak pinggang seraya membuang napas kasarnya. Dia tidak akan tenang bila Steven dibiarkan begitu saja.


Jalan satu-satunya adalah dengan Erlangga menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengawal sang istri di saat dia sedang bekerja.


"Why?" Grael yang baru saja keluar dari walk in closed dan duduk di depan meja rias.


"Wangi," ucap Erlangga tanpa menjawab pertanyaan sang istri, dia terus mencium bahu sang istri yang begitu harum ketika selesai mandi.


"Mesum!" Grael memukul kepala Erlangga saat tangan sang suami memelintir pucuk dadanya.

__ADS_1


Erlangga mengeluh kesakitan, dan memutar kursi rias yang di duduki oleh Grael. "Kenapa kamu tidak menggunakan kartu yang aku kasih?"


"Maaf, aku hanya ingin mengunakan uang Kakak dengan sebaik mungkin," jawab Grael dengan jujur, hatinya merasa bersalah karena ternyata Erlangga cukup kecewa. Padahal niatnya hanya ingin menggunakan uang suaminya tidak terlalu boros.


"Sayang, boleh nggak saya minta sama kamu untuk berhenti menulis? Maaf, bukan maksud aku untuk mengekang kamu, hanya saja ... aku ingin kamu—"


"Iya, El akan berhenti," ucap Grael dengan lembut tanpa keberatan.


"Kamu nggak marah sama aku?" tanya Erlangga yang terkejut dengan jawaban sang istri yang begitu cepat.


"Kenapa harus marah? Grael hanya ingin menjadi istri yang patuh dan menurut apa kata suami, menjadi istri idaman Kakak, kalau Kakak mau Grael berhenti, ya ... Grael akan berhenti." Grael mengusap pipi Erlangga dengan lembut.


"Terima kasih, Sayang," ucap Erlangga yang tersentuh dengan ucapan istrinya. Dengan begitu dia yakin bila Grael akan berhenti menggunakan uangnya sendiri dan menggunakan uang yang dia kasih setiap bulannya.


...----------------...


Keesokan pagi di perusahaan Grup Jaya, Erlangga tengah fokus mengerjakan tugas perusahan, tiba-tiba Rio datang membawa surah pengunduran diri sebagai asistennya.


Erlangga hanya melirik surat yang ada di depan matanya, lalu kembali fokus pada layar datar yang ada di hadapannya. Sampai akhirnya, Erlangga berani membuka suara dan mengeluarkan apa yang ingin dia pastikan dari bibir sahabatnya.


"Sejak kapan lo suka sama dia?" tanya Erlangga yang tetap elegan meski aura panas sudah gemuruh ingin meledak.


"Gua nggak ngerti maksud Lo apa? Gua cuma mau kasih surat resign," ujar Rio yang masih berdiri tegap di hadapan Erlangga.


Erlangga langsung tertawa mendengar ucapan sahabatnya. "Rio, Rio ... jangan Lo pikir bisa menutupi perasaan Lo ke gua! Kita sudah bersahabat hampir dua puluh tahun, gua kenal lo! Jadi jangan menghancurkan persahabatan kita dengan kemunafikan Lo!"


"Ck, munafik? Siapa yang munafik? Gua apa Lo? Lo sudah punya istri tapi masih aja main sama Sherly!" Rio membalas tawa Erlangga.


Erlangga mengebrak meja dengan keras seraya bangun dari kursinya, matanya menatap sinis ke arah sahabatnya untuk pertama kalinya. Begitu juga dengan Rio, dia melempar balik tatapan sinis Erlangga.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2