
"APA?" Erlangga langsung berdiri dari duduknya. Membuat sang istri yang berada di sampingnya terkejut saat makan malam bersama.
"Ada apa, Kak?" tanya Grael yang ikut terkejut mendengar teriakan dari suaminya.
Debaran jantung Erlangga tidak karuan saat mendengar kabar dari Josua bila Rangga masuk ke rumah sakit akibat ulah Steven. Orang yang ingin mengambil istrinya saat bulan madu mereka.
"Baik, Erlangga akan ke sana, Pih!" ucap Erlangga seraya menutup panggilan teleponnya.
"Kak, ada apa sih?" tanya Grael yang melihat ekspresi wajah suaminya.
"Rangga masuk ke rumah sakit, aku akan ke sana sebentar, kamu tunggu di rumah, ya!" Erlangga memaksakan bibirnya untuk tersenyum agar istrinya tidak terlalu khawatir.
"Aku ikut!" ujar Grael.
"Hai, kamu yakin mau ikut pergi ke rumah sakit?" tanya Erlangga sekali lagi untuk memastikan kondisi Grael yang habis di gempur habis-habisan oleh dirinya.
Grael terdiam sejenak, apa yang dikatakan oleh Erlangga benar juga, kakinya masih lemas untuk sekedar berdiri lebih lama. Namun, dia ingin sekali ikut bersama suaminya meski niatnya tidak mau berjauhan dari Erlangga.
"Kamu jangan khawatir, di sini kamu aman, ada Anne yang akan menemani kamu 24 jam. Aku akan segera pulang, tidak lama," ucap Erlangga yang kemudian di anggukan oleh Grael.
"Pintar, makan yang banyak, ya! I love you." Erlangga mengusap pucuk kepala Grael lalu mencium bibir istrinya sebelum dia pergi meninggalkan istrinya di rumah baru.
...----------------...
Dalam ruangan kamar rawat, Erlangga melihat adiknya yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur dengan raut wajah yang sudah tidak berbentuk akan ketampanan seorang Rangga.
Erlangga mendengarkan ucapan Josua dengan serius, begitu juga yang di ucapkan oleh Irfan dan juga Anjas, mereka membahas soal penangkapan Steven.
Begitu selesai, Erlangga terus memperhatikan Irfan yang seakan mencari seseorang ketika dia baru saja datang, batinnya tahu bila Irfan pasti mencari istrinya.
"Kalian boleh pulang, terima kasih sudah mengantar anak saya ke rumah sakit!" ujar Josua.
"Sama-sama, Om, Tante ... kita pamit pulang dulu!" ujar Anjas yang mencium tangan ke dua orang tua Rangga.
"Pamit dulu, Bang!" ucap Anjas dengan sopan seraya menjabat tangan Erlangga yang diikuti oleh Irfan yang hanya tersenyum kepada Erlangga.
"Ngga, cepet sembuh Lo! Kita cabut dulu ya!" ujar Irfan yang membuang pandangannya dari Erlangga dan bernada basa-basi dengan Rangga.
__ADS_1
"Thanks ya, Bro!" ucap Rangga kesusahan saat bibirnya terdapat jahitan.
"Tungguin adik kamu sebentar! Papi sama Ma—"
"Ya, ya, ya, sana!" ucap Erlangga yang mengusir, dia malas mendengar kata Mami ditelinganya.
Setelah ke dua orang tuanya keluar dari ruangan, tinggalah Rangga dengan Erlangga berdua dalam ruangan tersebut, Erlangga tampak menahan tawanya melihat adiknya babak belur di rumah sakit sedangkan calon istrinya diculik.
"Tawa, tawa aja, Bangs ... aaakh!" ucap Rangga dengan kesal, baru saja dia ingin memberi umpatan pada kakaknya tapi dia merasakan sakit luar biasa di sudut bibirnya.
Tidak segan-segan Erlangga tertawa terbahak-bahak melihat kondisi adiknya begitu puas, tidak ada rasa ingin menahan lagi agar sang adik tidak tersinggung.
"Emang, Kakak nggak punya akhlak, lo!" Rangga memegang bekas jahitan yang di perban.
"Aaahh ... payah Lo!" Lanjut Erlangga yang tertawa. "Bisa kecolongan jaga tunangannya sendiri, nasib apes Emira dapet calon suami kaya, Lo! Untung dia lebih pintar dari Lo, bela dirinya. Malu, Boy!"
Erlangga tiada henti-hentinya meledek Rangga, kemudian melanjutkan ucapannya, "Apaan ini? Perban? Jahitan? Alaaaaa ... banci! Emira aja nggak luka, bisa numbangin sepuluh siswa, masa Lo ... aaahh, payah!"
"Ya Tuhan, Kak ... Lo nggak lihat adek Lo babak belur gini? Ngomong aja susah! Hibur kek, apa kek! Gue di keroyok, Njing! Lagi lengah, gua syook liat Emira berkelahi dengan laki-laki! Apalagi dia pecahin kaca mobil, Steven!" ujar Rangga yang menjelaskan.
"Apaan tuh, syok? Bukannya Lo udah tahu Emira pinter bela diri?" tanya Erlangga, dia pun menjadi tersadar dengan ucapan Rio, bila Steven yang menganggu acara bulan madunya ternyata Steven mantan calon tunangannya Emira.
"Astaga Kak, Lo mau perang?" tanya Rangga ketika mendengar perintah Erlangga pada Beni.
"Gara-gara Lo yang ngerebut Emira, dia jadi ngincar istri gua!" bentak Erlangga.
"Apa, serius Lo?" tanya Rangga yang terkejut dengan ucapan Erlangga. "Kak, bantuin gua, buat bujuk Kak Rio biar gua bisa tahu keadaan Emira gimana."
"Tanya aja sendiri!" kesal Erlangga.
"Gua nggak dibolehin Kak, sama Rio! Please, Kak!" melas Rangga dengan intonasi rendah.
"Itu resiko lo, Nyook (bonyok/babak belur)! Jelas Rio nggak ngizinin lo, dia marah sebagai Abang karena Lo lalai menjaga adiknya! Untung Emira langsung bisa menghubungi Rio, coba kalau nggak, Lo tahu sendiri Steven bakal ngelakuin apa saja sama Emira!" bentak Erlangga penuh emosi.
Rangga terdiam sejenak, dia menyadari dirinya bisa bodoh karena tidak bisa melindungi Emira, meski dia tahu bila Emira bisa menjaga dirinya sendiri tanpa dirinya, tetap saja harga dirinya sebagai pria dipertaruhkan.
"Kak, please ... tanyain kabar Emira!" Rangga menatap mata Erlangga dengan memohon.
__ADS_1
Tidak tega dengan adik—bodohnya meski Erlangga kesal, dia langsung menelepon Rio untuk menanyakan kabar Emira. Sorot matanya melihat ke arah Rangga seraya berbicara pada Rio dengan serius, meski Rio masih tidak mengijinkan Rangga untuk bicara setidaknya Erlangga melauspeker obrolannya dengan Emira.
"Aku nggak apa-apa, kak! Untung Kak Rio datang tepat waktu!" ucap Emira di seberang telepon yang didengar juga oleh Rangga.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Erlangga, sorot matanya masih menatap Rangga.
"Kak Rang ... ga, gimana kondisinya, Kak?" tanya Emira hati-hati saat menyebut nama Rangga.
"Kamu mengkhawatirkannya?" ledek Erlangga dengan nada tertawa.
"Ya, jelas aku khawatir Kak, dia dipukulin sampai hampir pingsan," sahut Emira yang berhasil membuat Rangga sedikit mengangkat senyumnya.
"Apa kamu suka dengan Pria lemah?" tanya Erlangga yang berhasil mengubah raut wajah Rangga menekuk dengan ucapan dirinya.
"Kok, Kakak gitu ngomongnya? Kadang suka bener kalau ngomong, karena dia lemah, Kak ... mangkanya aku mau melindunginya!" Perkataan Emira membuat Rangga langsung turun drastis imagenya. Tentu saja Erlangga selalu di bikin tertawa dengan ucapan adik—Rio.
"Kalau gitu, datanglah besok ke sini untuk melindunginya dari amukan Kakakmu!" ujar Erlangga yang masih tertawa.
"Serius, Kak? Ya sudah sampaikan salam untuk Rang—"
Belum sempat Rangga mendengar ucapan selanjutnya dari Emira, sambungan telepon sudah terputus lebih dulu, ada rasa senang di hati Rangga ketika calon istrinya baik-baik saja, meskipun harga dirinya anjlok di mata Emira.
"Dah puas kan?" Erlangga memasukan Kemabli ponsel ke dalam sakunya.
"Kak!" panggil Rangga tanpa menjawab ucapan sang kakak.
"Hhmm?" sahut Erlangga yang masih tertawa.
"Ajarin gue seperti pria kuat kaya lo!" pinta Rangga, usai mendengar ucapan Emira hatinya sedikit tersinggung bila wanitanya yang melindunginya, benar kata Erlangga dirinya begitu banci.
Erlangga sempat berpikir sejenak mendengar ucapan Rangga. "Boy, Pria kuat itu tidak harus punya skill di ranjang! Masih sakit pikirannya udah ke sono aja!"
"Astaga, bukan itu yang gue maksud Kak! Gue nggak mau jadi breng sek, Kak! Masa Lo nggak ngerti!" ucap Rangga dengan kesal.
"Boy, sejatinya Pria itu harus brengs3k! Tapi, Pria yang benar, memiliki sisi brens3knya bukan pada wanita, apalagi wanita yang Lo sayang, melainkan menjadi Pria kejam terhadap musuhnya tanpa kenal ampun dan bermain licik! Lo harus punya skill itu!" ujar Erlangga yang menasihati sang adik.
"Mangkanya, ajarin gua!" ucapan Rangga kali ini membuat Erlangga terdiam.
__ADS_1
To be continued...