Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
163. Acara kelulusan


__ADS_3

Malam hari acara pelepasan siswa-siswi SMK pemersatu bangsa begitu meriah, semua siswa berkumpul di aula tengah. Mereka yang menggunakan baju bebas dan almamater kebanggaan sekolah tersebut, dengan patuh mengikuti acara dari awal sampai selesai. Di mana acara tersebut berisikan mengenai pembagian piagam penghargaan dan sertifikat kelulusan kepada seluruh siswa siswi kelas tiga.


Dalam acara tersebut juga mengapresiasikan bagi siswa atau siswi yang berprestasi selama di sekolah untuk maju ke atas panggung menerima penghargaan dari wali kelas dan juga kepala sekolah. Nama yang mereka panggil tentu saja tidak lain siswa teladan dan berprestasi selama ini.


"Kasih tepuk tangannya dulu dong ... yang meriah untuk anak kita, adik kita atau teman kita! Anjas Prasetya dan juga Grael Arabella!" ucap selaku pembawa acara begitu heboh.


Suara tepuk tangan pun bergemuruh di dalam aula tersebut, menyambut kedua siswa atau siswi yang menjadi maskot kebanggaan SMK pemersatu bangsa naik ke atas panggung. Tidak lupa juga suara teriakan yang meriah memberikan semangat kepada kedua siswa yang berprestasi itu untuk menerima sertifikat penghargaan.


"Selamat, ya!" ucap wali murid Grael saat usai memberikan selamat pada Anjas.


"Terima kasih, Bu!" Grael membalas pelukan wali muridnya. Kemudian, beranjak menerima piagam penghargaan dari kepala sekolah. "Terima kasih, Pak!"


"Sukses selalu, anakku!" ucap kepala sekolah usai menyerahkan piagam dan beasiswa luar negeri.


"Congrestulation!" Hans— anak kepala sekolah yang bertugas memberikan buket bunga kelulusan pada Grael lalu berbisik, "Hans, Hans Valentino!"


Itulah yang diucap oleh pemuda itu di telinga Grael saat Hans menarik jabat tangan Grael lebih dekat, perbedaan umur mereka hanya satu tahun. Hans yang lebih tua daripada Grael, membuat pemuda itu tertarik dengan wanita yang mendapat beasiswa.


Grael hanya memasang wajah senyumnya lalu melepas jabatan tangan itu dengan sedikit paksaan, lantas melihat ke arah Hans yang terkekeh. Dia memilih untuk turun di atas panggung daripada harus ikut pusing melihat cara Hans yang memberikan ucapan selamat untuknya.


"Iih, cakep banget besti!" ujar Gea yang melihat anak kepala sekolah ikut memberikan apresiasi. "Besti, nanti temenin kenalan ya?"


"Cupu ganjen? Sadar diri!" umpat Irfan yang kesal melihat sikap Gea yang lenje.


"Apa sih, Lo? Apa hak Lo? Biarin aja, biar cupu juga aset gua lebih gede dari punya lo!" Lirik Gea dengan sinis ke arah Irfan.


Irfan tidak menyangka bila Gea bisa berbicara seperti itu, begitu juga dengan kedua sahabatnya, Grael dan Ernata. Mereka pun mencoba mencerna perlahan apa yang dimaksud dengan Gea, sampai akhirnya Grael membuka suara.

__ADS_1


"Gea, Lo batang?" tanya Grael dengan polos dan berhasil membuat semua temannya yang mendengar pertanyaannya tertawa. Untung saja hanya kelima temen yang setiap hari dekat dengan Grael yang mendengarkan pertanyaan itu.


"Bu–bukan! Ma–maksud gua ... itu loh! Apa sih—"


"Huup, udah diam! Nggak usah dijelasin! Kita tahu kok, apa yang Lo maksud." Ernata seakan-akan menangkap ucapan Gea agar sahabatnya itu berhenti bicara.


Usai acara kelulusan telah selesai, mereka pun dikasih kepercayaan oleh guru-guru mereka untuk menikmati acara bebas. Seluruh siswa pun bebas untuk melakukan apa aja asal masih dibatas hal yang wajar.


***


"Hai, boleh ikut gabung?" tanya Hans pada ketiga wanita dan ketiga pria yang sedang berkumpul usai acara resmi.


"Boleh," ucap serempak ketiga wanita itu yang tentu membuat ketiga pria yang ada di hadapannya langsung memasang siaga keamanan.


Irfan langsung menatap tajam ke arah Gea agar wanita itu tidak berani macam-macam dan Anjas langsung melihat ke arah Ernata, memberikan isyarat bahwa dia percaya pada wanita yang dia sukai selama ini secara diam-diam tidak akan runtuh pertahanannya ketika Hans datang.


Sementara Rangga langsung menggeser posisi duduknya berada di samping Grael, karena dia tahu sorot mata Hans berbeda saat menatap ke arah Grael daripada melihat ke arah Ernata dan juga Gea. Menyadari ada yang aneh dari ketiga pria tersebut membuat Hans tertawa, dia pun mencoba mencairkan suasana dengan berbicara lebih dulu mengakrabkan dirinya pada mereka.


"Sudah ada plaining? Setelah ini mau apa? Kuliah atau kerja atau mau langsung nikah?" tanya Hans kembali.


"Kalau saya rencananya kuliah," jawab Irfan ketika Gea ingin berbicara tetapi sudah ditahan lebih dulu olehnya.


Hans mengangguk serayah mengerti, dia kembali mendengar satu persatu dari siswa tersebut di sambung oleh Anjas, Ernata dan juga Gea, usai Irfan lebih dulu menjawabnya, sedangkan untuk Grael, dia sudah tahu lebih dulu kalau wanita itu mendapatkan beasiswa sekolah luar negeri.


Perbincangan mereka pun semakin hangat di kala Hans ternyata bisa lebih membawa diri untuk akrab dengan keenam siswa tersebut, lambat laun dia pun bisa mengambil celah untuk berbicara kepada wanita yang dia incar, karena setiap kali harus bertanya pada Grael, pasti Rangga akan menjawabnya dengan senang hati.


"Nanti kalau misalkan sudah sampai sana, tinggal kabarin saya saja!" Hans menyerahkan nomor ponsel kepada keenam siswa tersebut walau sebenarnya dia ingin menunjukkan hanya kepada Grael.

__ADS_1


Ya, Hans menawarkan jika mereka ingin masuk ke universitas yang Grael dapatkan bersama Anjas secara beasiswa, boleh melaluinya karena dia bukan hanya sebagai mahasiswa senior di universitas tersebut melainkan juga panitia yang mengurus data calon mahasiswa baru.


"Oh iya, kebetulan saya bawa cemilan oleh-oleh dari negeri sana semoga kalian suka!" Hans mengambil paper bag lalu mengeluarkan cemilan yang ternyata cemilan tersebut kesukaan Grael.


"Wah, terima kasih Kak Hans!" ucap Gea dengan manis.


"Sama-sama," sahut Hans yang kini melirik ke arah Grael. "Gimana suka?"


"Suka!" Grael menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ke arah Hans.


"Syukurlah, kalau kamu suka!" Hans membalas senyuman Grael.


Melihat interaksi Hans yang selalu tertuju ke arah Grael, membuat Rangga semakin kesal. Dia pun akhirnya memakan makanan yang ada di tangan Grael, sebelum kakak iparnya itu menghabiskan kue pemberian Hans.


Grael tersedak atas tindakan apa yang dilakukan oleh Rangga, dan saat itu juga dia mendapat perhatian dari Hans dengan cara memberikan dia air minum. Tentu saja itu membuat adik iparnya kesal, dan menatap dia dengan tatapan sinis.


Tiba-tiba suara ponsel Grael berbunyi, terlihat pesan notifikasi dari Rangga. "Masuk nggak ke dalam kamar sekarang juga! Kalau nggak, gua aduin lo sama Erlangga!"


Pesan singkat itu Grael baca dengan hanya meliriknya saja, tetapi mampu membuat jantung miliknya berdegup dengan kencang. Dia melirik ke arah Rangga yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam seakan ingin menelannya hidup-hidup.


"Hmm, aku duluan masuk ke dalam kamar, ya!" Grael hendak bangun tapi tidak sengaja kakinya ke pentok kaki meja, hingga dia pun bertumpuh pada tangan Hans yang sudah siap menangkap tubuhnya. "Aaakhh, sakit!"


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Hans yang melihat ke arah kaki Grael, begitu dengan yang lainnya. "Biar aku yang antar kamu ke dalam kamar!"


Hans langsung menggendong Grael dengan cara bridal style, tetapi baru saja beberapa langkah dia melangkah, Rangga mencegahnya agar Hans menurunkan kakak iparnya.


"Terima kasih, kak Hans sudah mau berbaik hati pada Grael, tetapi biar pacar saya, saya yang membawanya!" Rangga langsung mengambil tubuh Grael dari tangan Hans dan meninggalkan lelaki itu berdiam diri usai mendengar ucapannya.

__ADS_1


To be continued...


Duh, Othor jadi iri, jarang-jarang dunia nyata punya adik ipar cowok akrab kaya Grael ini, apalagi mantan statusnya. 😂


__ADS_2