
"Hai, Kak Erlangga!" ucap serempak semua teman-teman Grael yang menunjukkan diri mereka ke layar ponsel agar suami dari sahabat mereka tidak salah paham, kecuali Irfan.
"Kak, kita pinjam Grael dulu ya, sebentar," celetuk Ernata meminta izin sekilas lalu duduk kembali.
Namun, Erlangga tidak menanggapi ucapan Ernata, dia hanya berdiri di belakang sang istri seraya melipat ke dua tangannya di dada sembari menatap Irfan yang juga menatapnya
"El, kenapa kamu nggak jawab?" tanya Erlangga sekali lagi dan tentu Grael langsung membisukan sambungan Video call karena terlihat canggung dengan intonasi suara Erlangga.
"Apanya yang mesti dijawab? Toh Kakak sudah dapat jawabannya sendiri dari teman-teman aku yang menyapa Kakak! Lagian, ngapain Kakak di sini? Kan ada sekretarisnya di bawah, mending temenin dulu tamunya, jangan ganggu aku yang lagi belajar!" ucap Grael yang masih santai tapi sebenarnya, di dalam hati dia masih tersimpan api cemburu.
Grael pun kembali meng-aktifkan bisu-nya lalu kembali melanjutkan sesi belajar mengajarnya. Di mana Irfan langsung bertanya pada Grael tentang soal nomor 18 dan Grael pun mencoba memberitahu pada Irfan. Namun, Grael yang melihat Irfan salah mengerjakannya dia langsung menegur Irfan.
"Bukan begitu, kamu jabbarin dulu satu persatu baru kamu hitung!" ucap Grael yang berbicara pada Irfan dengan lemah lembut.
"Begini bukan?" tanya Irfan tanpa malu memperlihatkan hasil jawabannya.
"Betul, pintar sekali!" ucap Grael dengan senyuman manjanya yang dia sengaja tunjukkan pada Irfan.
"Bodohnya!" sindir Erlangga yang hanya di dengar oleh Grael, dia langsung mengambil kotak p3k dan menyuruh istrinya untuk mengobati lukanya, tetapi Grael menolak dan menyuruh Erlangga untuk meminta mengobati lukanya pada Sherly.
"El, istri aku tuh kamu! Apa salah suaminya minta di obat?" ucap Erlangga dengan lembut agar tidak terdengar oleh teman-teman Grael, lalu menimpal ucapannya dengan berbisik, "Kalau kamu tidak mau, jangan salahkan aku nekat cium kamu di depan pria keriting itu!"
Grael langsung meletakan pensilnya di atas buku lantas mengambil kotak p3k untuk membuka dan mencari antiseptik pada luka suaminya. Irfan dan teman-teman yang lain begitu iri melihat keromantisan pasutri antara siswa dengan artis terkenal.
"Aaakk, pelan-pelan ... Sayang!" ucap Erlangga dengan manja, sembari tangannya mulai nakal mengelus paha Grael.
__ADS_1
"Kak!" ucap Grael sedikit meninggi ketika tangan suaminya mencuri kesempatan. Namun, Erlangga hanya tersenyum nakal seperti tangannya saat ini yang ingin memancing gairah istrinya.
"Dah, selesai! Sekarang mending Kakak temani dulu Sherly di bawah!" ucap Grael, dia punn merapihkan kotak P3k dan mendorong tubuh suaminya agar menjauh dan tidak mengganggunya belajar bersama teman-temannya, saat itu juga Erlangga tertawa sembari menjauh, tapi beberapa menit kemudian dia kembali.
"Iiissh, Kakak ngapain sih? Sempit tahu, meja aku nggak muat! Sana di ruang kerja Kakak aja!" ucap Grael, dia tidak percaya bila suaminya justru ikut satu meja untuk mengerjakan tugas kantornya.
"Kenapa sih? Teman kamu aja nggak protes!" ucap Erlangga dengan nada sedikit keras agar semua teman-temannya tahu.
"Nggak apa-apa, El ... kita usah kebal kok liat keromantisan kalian berdua!" ucap Ernata yang menyenggol lengan Gea tapi gadis itu tetap saja fokus pada soalnya.
Erlangga hanya tertawa penuh kemenangan, dia langsung membuka laptopnya dan melihat data asisten baru yang akan menempati posisi Rio.
"El, kaya begini bener nggak?" tanya Irfan.
"Mana coba liat?" tanya Grael tapi Irfan justru memperlihatkan dari jarak jauh. "Fan, kurang jelas! Deketin lagi bukunya!"
Tentu saja dengan refleks tangan Erlangga menahan paha istrinya agar tidak maju lebih dekat ke arah layar yang diperintahkan oleh Irfan. Istrinya menengok ke arahnya, kemudian Erlangga melihat hasil jawaban soal milik Irfan yang ternyata benar.
"Dah, lanjut! Jangan banyak tanya, itu benar semua kok," ucap Erlangga tanpa melihat ke arah layar ponsel Grael, tapi tanganya bergerak mengelus paha istrinya sembari melihat data-data calon karyawan yang melamar sebagai posisi Rio.
Irfan hanya terdiam dan tidak memberikan komentar apapun setelah Erlangga yang berucap, dan semua pun menjadi canggung ketika sikap Grael langsung terdiam seraya mengigit bibir bawahnya seakan menahan sesuatu yang sedari tadi mengusiknya.
"Kak!" Grael melihat ke arah suaminya memohon agar berhenti untuk menganggu saat dia sedang belajar.
"Apa, Sayang?" Erlangga tersenyum senang ketika dirinya mampu membuat Grael hilang konsentrasi, meski tanganya selalu mendapat cubitan dari sang istri agar berhenti mengelus area sensitif tersebut, tetapi Erlangga terus mengelus dengan lembut dari luar kain segitiga.
__ADS_1
"Jangan bersuara, kalau kamu tidak mau mereka tahu!" bisik Erlangga yang menggoda Grael. "Apakah enak? Hmm?"
Erlangga membuka lebar-lebar kaki istrinya yang dia tahan pakai kaki kiri lantas jari tengahnya dia seludupkan masuk ke dalam kain segitiga Grael sembari tangan satunya mengetik pada laptop, pandangannya terus pada hasil ketikan yang tidak pernah salah.
"Ok, selesai! 2-1, El ... jangan lupa janji, lo!" ucap Anjas dengan cepat sembari tertawa karena dia bisa mengalahkan Grael lebih dulu menyelesaikan tugasnya.
"Aaah," dessahan Grael keluar dari mulutnya saat Anjas mengucapkan selesai dengan semangat, karena Grael sudah tidak tahan saat tangan suaminya menggesek dengan cepat, dan sontak membuat teman-teman nya langsung melirik Grael terutama Erlangga, mengetahui dirinya kelepasan. Dia pun langsung mengelak, "Aaakh, ya ... maksud gua, Lo me–menang!"
Erlangga pun tertawa mendengar alibi yang di lontarkan istrinya, hingga semua teman-temannya juga tertawa garing, kecuali Irfan yang sudah mulai panas karena cemburu.
"El, Lo kenapa?" tanya Irfan yang melihat aneh ekspresi Grael.
Erlangga pun yang mendengar Irfan begitu peduli langsung memasukan kedua jemarinya ke liang bawah sana dengan gerakkan yang begitu cepat, sampai Grael merasakan keringat dingin dengan deru napas yang tersengal.
"El?" tanya Irfan sekali lagi dan menambah kecepatan pada gerakkan keluar masuk dari tangan Erlangga.
"STOP!" bentak Grael yang tidak kuasa menahannya dan mencengkram kuat tangan suaminya sebelum dia lepas kendali, dia mengatur deru napasnya seraya melirik ke arah Videocall dan juga suaminya yang sedang mengangkat alis.
"Sorry, guys! Baterai gua lemah, sampai di sini dulu ya!" Grael langsung mematikan sambungan Video call-nya tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya.
Begitu video mati, Grael langsung menarik tengkuk leher suaminya dan melahap habis bibir tersebut seraya membuka baju tidurnya. Dia duduk di atas pangkuan Erlangga seraya menjadi komando dalam sesi kali ini.
Perlahan tapi pasti karena Grael sudah terbakar gelora asmara, bibirnya terus mencium tubuh Erlangga dari atas sampai ke perut sixpack-nya, tangannya membuka cellana tidur Erlangga sambau asetnya terlihat menjulang tinggi.
"Aaarrgghh, keep going ... Honey! Hmmm, your sucking is so delicious!" rancau Erlangga dengan tidak karuan seraya memegang kepala sang istri.
__ADS_1
To be continued...