
“Astaga! Gue minta maaf, terus gimana?” tanya Rangga yang pura-pura merasa bersalah.
“Gimana, gimana, gimana! Ya, tanggung jawablah! Pake tanya lagi.” Emira mendorong tubuh Rangga dengan kencang karena kesal.
“Ah? Tanggung jawab? Nggak mau! Orang nggak sengaja juga,” elak Rangga dengan berdusta.
“Iih, ngeselin banget sih, gue aduin ke kepsek kalau—“
Rangga langsung membekap mulut Emira dengan cepat sebelum gadis itu melanjutkan ucapannya dan berkata, “Iya, gue bakalan tanggung jawab! puas?”
Bibir manis milik Emira langsung menirukan ucapan Rangga dengan kesal, tentu saja itu menjadi kesenangan Rangga sendiri saat rencananya kali ini berhasil menangkap mangsanya.
“Ciieee ... prikitiw!” sorak murid-murid yang melihat adegan di mana Rangga menggendong Emira dengan cara bridal style.
“Pelan-pelan! Sakit!” Emira merangkul leher Rangga dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Rangga untuk menutup rasa malunya.
“Apaan sih, pelan-pelan! Belum juga jadi suami, udah minta pelan-pelan aja!” bentak Rangga dengan pura-pura ketika bibirnya menahan senyuman.
“Iiih, otaknya tuh ngeres banget! Orang sakit juga.” Emira menarik kuping Rangga dengan kesal karena ucapan dari kakak kelasnya begitu menjerumus.
Suara meringis kesakitan Rangga terdengar jelas di telinga Emira ketika dia tidak hanya menarik telinga Rangga tetapi juga mencubit lengan ketua tim futsal itu dengan kencang.
“Aakkh sakit! Turunin nih!” ancam Rangga dengan gemas.
“Turunin aja kalau berani!” balas Emira yang menatap mata Rangga dengan berani.
Raut wajah Emira yang sedang kesal begitu menggelitik hati Rangga, ingin rasanya saat itu juga dia menerkam mangsanya langsung di hadapannya saat itu juga. Namun, Rangga mencoba untuk bersabar menunggu waktu itu.
Senyum jahil pun muncul di wajah Rangga ketika dia menyuruh Emira membuka pintu mobilnya, tetapi gadis pirang itu menolaknya karena Emira ingin Rangga membawanya ke ruang UKS bukan ke mobil.
“Katanya, harus tanggung jawab. Ini gua mau tanggung jawab! Gimana sih?” ujar Rangga yang bingung dengan Emira.
“Tanggung jawab apa? Kenapa malah ke mobil? Bukannya ke UKS ngobatin luka!” kesal Emira.
“Ya sudah buka dulu pintunya!” pinta Rangga.
__ADS_1
“Nggak mau!” Emira tetap pada pendiriannya.
“Buka nggak!” bentak Rangga yang mulai terasa pegal pada lengannya, dia juga memajukkan bibirnya sebagai ancaman kalau Emira tidak membuka pintu mobil, maka Rangga akan menciumnya saat itu juga.
“Iya, iya, iya! Tuh, puas?” Emira membuka pintu mobil Rangga.
Rangga pun tersenyum senang, lantas menaruh Emira secara perlahan di kursi samping pengemudi. Namun, seseorang dari luar tanpa sengaja menyenggol belakang Rangga hingga akhirnya dia mendaratkan bibirnya tepat di bibir Emira.
“Nggah, sorry gue nggak senga—”
Anjas yang sedang bercanda dengan Irfan berebut naik mobil, langsung terdiam sebelum ucapannya selesai karena Rangga memberikan kode atau isyarat menggunakan tangannya untuk mengusir temannya agar segera pergi dari sana.
Irfan langsung tersenyum sinis saat melihat Rangga mengecup bibir Emira, dia langsung menarik baju Anjas ketika mendapat perintah dari Rangga untuk pergi dari sana.
Kedua mata Rangga dan Emira membulat sempurna ketika saling pandang memandang dengan jarak yang begitu dekat, mengisyaratkan bahwa mereka berdua begitu syok saat bibir keduanya menempel.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Rangga memejamkan matanya lalu berniat menjulur lidahnya agar bisa merasakan manisnya bibir Emira. Akan tetapi, Emira yang tahu akal licik Rangga yang ingin mengambil kesempatan langsung mendorong dada bidang Rangga dengan kencang hingga kepala itu membentur atap mobil.
“Aakkh, galak banget sih, jadi cewek? Sakit tahu!” keluh Rangga. Dia mengusap kepalanya yang terasa sakit.
“Siapa yang pakai lidah? Orang nggak sengaja! GR banget jadi cewek!” elak Rangga, dia juga mengelap bibirnya.
“Pakai, nggak mau ngaku segala! Jelas-jelas tadi pakai li—“
“Rangga,” panggil Veby yang memotong ucapan Emira.
Rangga langsung menengok ke sumber suara yang memanggil namanya, rasa kesal kembali muncul ketika Veby datang menghampiri Rangga yang sedang berdebat dengan Emira.
“Ngapain Lo, kesini?” Rangga membuang mukanya ketika melihat wajah Veby.
“Ada waktu sebentar?” tanya Veby dengan lembut.
“Nggak ada, gue sibuk!” Rangga langsung menutup pintu mobil lalu berlari mengitari depan mobil untuk masuk dan duduk di kursi pengemudi.
“Nggah, tunggu! Ada yang mau gue sampaikan ke Lo!” Veby mengejar Rangga dan menahan tangan itu agar tidak masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
“Lepasin nggak?” Rangga melirik tangan yang dipegang oleh Veby.
“Nggak mau ... please, Ngga! Kali ini aja!” mohon Veby yang memperlihatkan mata yang berkaca-kaca
Air mata Veby membuat Rangga muak melihatnya, karena raut wajah itu yang sudah membuat Rangga lengah hingga hubungannya berakhir dengan orang yang dia cinta.
“Ngomong apa sih? Besok aja, sekarang gue nggak ada waktu! Itu juga kalau gue inget!” Rangga langsung menangkis tangan Veby dengan kasar lalu masuk ke dalam mobil.
Emira yang melihat adegan drama di depan matanya hanya tersenyum tidak suka, mungkin orang akan menganggap Veby tulus. Namun, dibalik wajah polosnya tersimpan kemunafikan yang sangat membuat orang membencinya.
Satu helaan napas keluar dari hidung Emira dengan pelan, dia melihat betapa kesalnya Rangga dengan sosok wanita yang bernama Veby.
“Jangan terlalu membencinya, nanti suka Lo, kalau aku lihat ... Kak Veby cantik dan juga pintar,” ucap Emira yang memecahkan keheningan di dalam mobil ketika mobil itu sudah berjalan.
“Jangan bicara seperti itu, nanti menyesal lagi, calon suaminya di jodohkan dengan wanita lain!” sindir Rangga yang memberi isyarat kepada Emira.
“Menyesal? Calon suami? Maksudnya kamu calon suami—aku, gitu?” Emira tertawa mendengar candaan dari Rangga.
Suara tawa gadis pirang itu menular ke Rangga sampai dia terus memperhatikan tawa itu dengan tawanya juga. Rangga pun langsung mengatakan, “Iya!”
Sejenak suasana menjadi hening seketika, ketika Rangga secara tidak langsung mengatakan bahwa Rangga mengungkapkan rasa cintanya. Namun, bukan Emira namanya jika percaya dengan omongan laki-laki selain kakaknya sendiri—Rio, dia tidak akan mudah percaya begitu saja terhadap ucapan laki-laki termasuk Steven—kekasihnya.
Tawa Emira kembali memecahkan keheningan, membuat Rangga merasa heran dengan sikap gadis pirang itu. Rangga pun mengatakannya sekali lagi. “Aku serius!”
“Iya, aku tahu kamu serius ... tenang saja! Serius, bercandanya!” Emira mulai tertawa dengan bebas di hadapan Rangga tanpa ada rasa malu, karena ketika dia bersama Steven dia sangat menjaga image-nya.
“Emira, aku serius! Bukan bercanda! Aku serius kalau aku mau jadi calon suami kamu!” Rangga menghentikan mobilnya, dia berpikir akan lebih baik bila dia jujur kepada Emira. Namun, semakin Rangga menunjukkan rasa sukanya, semakin gadis itu tertawa terbahak-bahak.
Emira pun menunjukkan jari manisnya sebelah kiri di depan Rangga sembari tertawa, bahwa dia sudah di lamar oleh Steven.
“Kamu mau jadi calon suami aku? Terus taruh cincinnya di mana?” Emira masih terus tertawa lepas di depan Rangga. Namun berbeda dengan Rangga.
Bagaikan pisau belati yang menyayat relung hatinya, lalu ditaburi garam oleh Emira, itu yang dirasakan oleh Rangga. Dia melihat cincin tunangan Emira begitu melekat pada jemari manis gadis itu.
To be continued...
__ADS_1