
Grael memajukan sudut bibirnya seraya merajuk, dia tidak menyangka bila suaminya bisa terkenal sampai ke negeri ini. Bahkan sampai begitu banyak penggemar yang datang hanya untuk meminta sesi foto bersama.
Tiba-tiba rasa cemburu muncul begitu saja di relung hati Grael, ketika melihat semua wanita cantik dan seksi memeluk tubuh suaminya seraya yang minta foto bersama. Dia menjadi kesal sendiri dan mencoba untuk memanggil artis nge-top seperti suaminya.
"Waah ... Justin Beber!" teriak Grael seraya berjingkrak di depan pintu toko tersebut, sontak tentu saja semua wanita menengok ke arahnya. "Di sana! Aakhhh Justin Beber!"
Semua pada melihat ke arah Grael yang sedang menunjuk sesuatu tepat di mana dugaannya tersebut terdapat artis go internasional, mereka pun langsung bergegas pergi usai minta tanda tangan dan sesi foto bersama.
Setelah itu Grael langsung menarik tangan sang suami untuk pergi dari toko tersebut usai membayar barang belanjaan, apa yang dilakukan oleh dia membuat Erlangga tertawa. Setiap langkah kakinya melangkah suaminya masih terus tertawa.
"Iiihhh, Kak ketawa mulu ih!" Grael mencolek es krim ke arah hidung suaminya agar Erlangga berhenti tertawa.
"Habisnya kamu lucu! Emang ada dia di sini?" tanya Erlangga.
Grael pun tertawa dan menggelengkan kepalanya sembari berkata, "Gak ada!"
"Bisa aja, nih!" Erlangga langsung mengajak istrinya masuk ke dalam toko emas dan membelikan sebuah gelang tangan untuk istrinya.
"Suka?" tanya Erlangga yang ternyata mendapatkan anggukan dari Grael. Dia pun mengecup kening sang istri saat Grael menyukai pilihannya. "Abis ini kita mau ke mana?"
"Makan dulu! Laper ...." ucap Grael.
"Ok, kalau gitu kita let's go!" ajak Erlangga yang menggandeng tangan sang istri.
Mereka pun langsung keluar dari dalam toko tersebut usai membayar emas yang dibeli oleh Erlangga, berjalan menelusuri setiap toko untuk menemukan sebuah restoran. Begitu menemukan restoran yang cocok untuk mereka, keduanya masuk dengan mesra ke dalam restoran tersebut dan mencari tempat duduk.
Mereka disambut hangat oleh salah satu pelayan restoran atas kedatangan mereka mengunjungi tempat tersebut, Erlangga dan juga Grael melihat daftar menu yang diserahkan oleh pelayan tersebut.
Mereka memilih beberapa menu ciri khas negara tersebut dan juga beberapa dessert, selebihnya mereka menunggu dengan sabar.
"Sudah itu saja? apa ada yang mau ditambahkan lagi?" tanya sang pelayan.
"Nggak, udah itu aja!" jawab Erlangga.
__ADS_1
Sembari menunggu pesanan mereka, Erlangga selalu memperlakukan istrinya dengan manis. Terkadang candaan romantis pun keluar dari bibirnya dan membuat Grael berhasil menunjukkan ekspresi wajah yang tersipu malu.
"Kak Erlangga, ih!" Grael mencoba memukul tangan suaminya ketika sedari tadi suaminya terus menertawakan dirinya.
"Permisi Tuan dan Nyonya!" Salah satu pelayan pun menaruh makanan di atas meja.
"Terima kasih!" ucap Erlangga.
"Sama-sama, Tuan!" sahut pelayan itu. Namun, pada saat dia mengalihkan matanya ke arah wanita yang ada di hadapan pria tersebut dia pun terkejut.
"Kak Diego?" sapa Grael terlebih dahulu, ketika melihat yang mengantar makanannya itu adalah senior dia.
"Loh, Grael?" Diego menunjuk ke arah Grael seraya tidak percaya bila wanita pujaannya ada di depan mata bersama pria lain. "Kamu ke sini?"
Erlangga yang melihat interaksi di antara keduanya mengerutkan kening, apa yang terjadi di antara sang istri dengan pria yang dia ketahui itu adalah anak dari Evelyn sewaktu tadi pagi dia bertemu di depan rumah.
"Ya, kenalin dia Kak Erlangga! Sua—”
"Waw, sangat kebetulan ya bisa bertemu di sini! Saya Erlangga Louis, suami Grael!" Erlangga membalas uluran tangan Diego seraya menggenggamnya dengan erat.
"Ah ... iya!" jawab Diego yang putus asa ketika mengetahui dan mendengar bila dia adalah seorang artis yang terkenal sekaligus suami dari wanita incarannya.
Hati Diego langsung merasakan sakit yang begitu dalam seakan hancur diterpa oleh angin topan, kornea matanya pun berkaca-kaca dengan sedikit warna yang kemerahan.
Tubuh itu berubah menjadi kaku, seakan sulit untuk digerakkan. Sampai salah satu teman Diego yang sesama pelayan pun menyadarkan dia dari keterpurukannya.
"Saya permisi dulu!" Diego langsung pergi dari sana.
Erlangga hanya tersenyum kecut melihat tingkah anak—Evelyn, sangat terlihat jelas di matanya bila pemuda itu ternyata mengincar sang istri.
"Kamu sangat mengenalnya?" tanya Erlangga kepada sang istri.
"Ya, dia salah satu Kakak senior yang mengospek aku!" jawab Grael dengan secara santai menjelaskan kepada suaminya tentang Diego.
__ADS_1
"Dari caramu bicara sepertinya sangat dekat dengannya!" sindir Erlangga saat diam dulunya makanannya.
Grael yang hendak ingin menyuap langsung berhenti menaruhnya kembali, dia tahu dari nada bicara sang suami menandakan bila Erlangga tengah cemburu terhadap Diego.
"Hanya sebatas kenal, selebihnya aku tidak terlalu dekat dengannya! Di kampus juga kita tidak sering ketemu," ucap Grael yang masih santai menjelaskan kepada Erlangga.
"Tidak sering ketemu? Berarti berharap banget ya biar sering ketemu!" sindir Erlangga.
"Kak ... mulai deh, aku sama dia nggak ada apa-apa, hanya sebatas senior dan junior. Ya kalau misalkan ketemu ya udah ... kita juga nggak ngapa-ngapain kok," tutur Grael.
"Aku tidak suka, kalau perlu tidak usah bertemu dengannya bila dia, kalau kalian berpapasan ya sudah ... tidak usah menyapa!" ujar Erlangga dengan cemburu.
"Iya, Sayang!" Grael tangan sang suami seraya memberikan kepercayaan.
Erlangga pun langsung tersenyum ketika istrinya begitu penurut, memberikan suapan untuk Grael. Tangannya pun terulur ke depan seraya mengusap sudut bibir sang istri yang terdapat bumbu makanan.
mereka sangat terlihat manis, seakan menunjukkan pada dunia bahwa mereka begitu saling mencintai satu sama lain. akan tetapi, kebahagiaan mereka terselip rasa kebencian dari sepasang mata yang melihatnya.
Siapa lagi kalau bukan Diego yang ternyata kecewa, wanita yang ingin dia dekati ternyata sudah memiliki seorang suami. Dia pun menggenggam erat pisau yang ada di tangannya sembari melihat keromantisan mereka berdua.
Rasa kesal tepatri dengan jelas diraut wajah Diego, sampai potongan mentimun pun menjadi tidak beraturan. Tekanan dalam gerakan yang dia lakukan begitu kuat dan kencang membuat dentuman suara pisau yang menghantam talenan pun berbunyi.
"Askkh!" Tangan Diego terluka akibat teriris oleh pisau. Segera dia membersihkan luka itu dan menghisap jemari telunjuknya yang terkena pisau.
Mata Diego masih terus memperhatikan Bagaimana sikap suami Grael yang begitu romantis seakan-akan memamerkan menunjukkan bahwa wanita itu adalah milik Erlangga.
"Kenapa Lo?" tanya salah satu temannya yang melihat tangan Diego terluka, dia pun melihat sorot mata temannya mengarah ke arah meja di mana terdapat wanita yang tengah di suapi oleh pasangannya.
Tentu saja temannya Diego pun menganggap bahwa dia iri ingin disuapi seperti itu, langsung saja dia mengambil potongan timun yang tidak beraturan dan dimasukkannya ke dalam mulut Diego.
"Makan timun yang banyak ya, Sayang!" ucap sahabat Diego, tentu hal itu berhasil membuat Diego kesal dan menendang bokongnya.
To be continued...
__ADS_1