Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
143. Egois


__ADS_3

Erlangga langsung menarik tubuh istri agar segara bangkit dari bawah sana, dan dengan rasa menggebu-gebu Erlangga melucuti semua baju hingga yang melekat pada tubuhnya dan tubuh sang istri.


Meja belajar kini beralih fungsi menjadi tempat fitnes panas pasangan suami istri tersebut, karena begitu menggebunya, Erlangga tidak sengaja mengaktifkan video melalui laptopnya yang terhubung ke beberapa sahabatnya diantaranya Rio dan Ammar, termasuk juga dengan Rangga.


Semua mengangkat video itu dan menyaksikan bagaimana pergulatan panas Erlangga yang bringas di atas tubuh seorang wanita yang jauh lebih muda dari usianya di atas meja belajar.


Suara dessahan keduannya pun begitu intens di telinga mereka bertiga yang menyaksikannya, tapi beruntungnya tubuh Grael tidak begitu terekspos karena terhalang tubuh belakang Erlangga dengan pinggul yang begitu semangat memaju mundurkan asetnya.


Ketiganya tercengang melihat apa yang ada di layar masing-masing pada laptop mereka, Rio yang meminum kopi langsung memuncratkan semburan air hitam dari mulutnya, Ammar yang sudah lama tidak berkomunikasi dengan Erlangga langsung tercengang terdiam beberapa menit merasakan menelan saliva-nya begitu sulit, sedangkan Rangga yang sedang belajar begitu terkejut melihat adegan kakaknya.


Mengetahui hal tersebut, Rio pun menyuruh Beni untuk memutuskan sambungan internet agar Rangga tidak bisa menyaksikan adegan panas mantan kekasihnya lebih lama lagi.


Berapa kali pasangan tersebut mengubah posisi, mulai dari meja belajar, meja hias, sofa kamar, bahkan mereka bergerak bebas mengitari luas kamar itu dengan berbagai macam gaya.


"Kak, please ... Stop! I'm drowning!" keluh Grael saat dia bertumpuh pada tiang tempat tidur.


"Hold on, honey! I'll be out in a minute!" rancau Erlangga yang menjambak rambut panjang sang istri dengan pelan seraya memacu dengan kecepatan tinggi.


Hingga akhirnya, apa yang diharapkan oleh Grael pun tiba. Erlangga memuntahkan semua prajurit kecebong premiumnya.


"Ik hou van je, El!" ucap Erlangga dengan bahasa Belanda yang mengungkapkan perasaan cintanya terhadap sang istri.


Erlangga menggendong istrinya untuk di bawa ketempat tidur, dia pun memejamkan matanya untuk masuk ke dalam dunia mimpi istrinya, begitu matanya baru saja terpejam. Ponsel milik sang istri berdering, dia mengangkat panggilan dari orang yang dia kenal.


"El, Lo jahat sama gua! Gua udah suka sama Lo sejak dua tahun lalu sebelum lo jadian sama Rangga, gua udah suka sama Lo Lebih dulu, El! Kenapa Lo nggak kasih gua kesempatan?" ucap Pria yang sedang mabuk berat.


"Cari mati, Lo?" sindir Erlangga yang tahu bila orang yang mabuk itu adalah Irfan.


Ya, setelah Grael memutuskan sambungan telepon. Irfan langsung pergi dari rumah Ernata dengan perasaan yang kacau di lapisi rasa cemburu yang begitu besar, batas cintanya sudah limited tidak bisa di tahan lagi, dia melajukan mobilnya ke arah klub malam yang di ikuti oleh Anjas.


"Ow, ternyata artis sombong itu yang angkat? Kenapa posesif banget jadi suami? Gua tahu Lo sedang bercumbu mesra dengan wanita yang gua sa—"


"Tutup mulut Lo, Njing!" bentak Erlangga dengan keras dan membuat Grael terbangun.

__ADS_1


Irfan tertawa terbahak-bahak mendengar Erlangga marah, dia pun berkata, "Eh ... denger ya, gua bakalan nekat ngerebut Grael! Dia milik gua! Sekarang Lo puas-puasin dah, bentar lagi gua bakalan ngerebut dia dari Lo!"


"Ck! Bedebah!" Erlangga langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Why?" tanya Grael yang terkejut melihat suaminya marah-marah.


Erlangga langsung membekap mulut sang istri dengan kasar, dia pun berniat melampiaskan rasa cemburunya dengan mencumbu kembali tubuh sang istri.


"Kak, stop!" Grael mendorong tubuh Erlangga sekuat tenaga, tetapi suaminya itu sudah berada di atas emosi yang begitu cemburu.


"Akkhh, sa ... kiit! Kak!" Grael terus merintih kesakitan saat Erlangga memasukinya dengan kasar, air matanya keluar, hatinya bagaikan tersayat oleh pisau karena Erlangga saat ini sama saja memperkosa istrinya sendiri.


Bukan rasa nikmat yang dirasakan Grael, tapi rasa sakit di tubuh maupun batinnya. Berulang kali, Grael memohon agar Erlangga lebih lembut, tapi tetap saja suaminya seperti kerasukan yang sulit dikendalikan.


"Sekali lagi kamu berbicara satu katapun pada pria itu, aku akan kasih hukuman lebih parah dari ini!" ancam Erlangga yang telah puas menggauli istrinya kembali dengan bringas lantas pergi meninggalkan Grael yang masih menangis kesakitan.


Begitu selesai mandi Erlangga langsung pergi dari kamar itu, entah kemana Erlangga pergi tapi yang jelas hati Grael langsung remuk. Entah kesalahan besar apa yang sudah dia perbuat sampai suaminya tega seperti itu saat dirinya sudah berikan jatah.


Sejam dua jam Grael tidak tidur, dia masih menangis merasakan area sensitifnya yang lecet akibat permainan kasar oleh Erlangga. Dia pun memutuskan untuk membersihkan dirinya, ini pertama kali Grael merasakan jijik pada tubuhnya.


"Nyonya, makan dulu! Ini sudah hampir siang!" bujuk rayu Anne pada Grael, tapi wanita itu masih enggan berkomentar. Hatinya masih terlalu sakit mengingat kejadian semalam, ditambah melihat postingan Sherly yang menge-tag nama akun suaminya dengan caption. "Walaupun kamu sering menolakku tapi tetap jatuh ke pelukanku!"


Terlihat jelas bila Pria yang di peluk Sherly adalah suaminya dengan potongan rambut serta cincin pernikahan yang melingkar di jemari manis Erlangga.


"Bik, saya sudah kenyang!" ucap Grael yang menghapus air mata.


"Makan sedikit saja, Nyah!" Anne berusaha untuk menyuapi Grael.


Hanya tiga suapan Grael sudah tidak berselera, dia pun menyuruh Anne untuk meninggalkan dia yang ingin beristirahat. Meski matanya terpejam, tapi air matanya terus keluar dan mengalir.


Hingga malam pun tiba, Erlangga pulang ke rumah dengan baju yang masih sama, dia melihat ke arah sekitar yang hanya menemukan Anne menyambutnya.


"Di mana dia?" tanya Erlangga dengan ketus.

__ADS_1


"Ada di dalam kamar, Tuan! Nyonya tidak keluar dari kamar sama sekali!" ucap Anne dengan sedih.


"Bagus," sahut Erlangga yang menghampiri pintu Lift.


"Tapi, Nyonya juga belum makan malam, hanya makan siang, itu juga hanya tiga sendok, Tuan!" timpal Anne dengan perasaan bersalah, tapi Erlangga hanya mengangkat satu tangan agar Anne berhenti berbicara.


"Terima kasih sudah menjaganya, selanjutnya biar saya! Antar kan sop iga dan air hangat!" Erlangga masuk ke dalam lift.


"Baik, tuan!" ucap Anne sebelum pintu lift tertutup.


Begitu sampai di depan kamar, Erlangga masuk begitu saja ke dalam kamar dan melihat Grael yang hanya terdiam di balkon sembari menatap luar dengan tatapan kosong.


Erlangga pun memilih untuk mandi terlebih dahulu, lalu menhampiri sang istri dan memeluknya dari belakang. Akan tetapi, dengan kasar Grael menepis tangan Erlangga.


"Don't touch my! Aku sudah jijik sama kamu!" ucap Grael dengan tegas dan penuh emosi.


Erlangga langsung tertawa, dan kembali dekat dengan Grael. Namun, langkah terhenti saat sang istri mengarahkan pecahan kaca ke arah pergelangan tangannya.


"El, jangan bercanda! Buang!" bentak Erlangga dengan marah.


"Ck! Becanda? Jadi kemarin malam kamu juga bercanda, perkosa aku? Iya?" teriak Grael yang menjauh dari Erlangga sembari terus mengarahkan pecahan kaca ke pergelangan tangannya.


"Siapa yang perkosa kamu! Aku itu suami kamu, mana ada suami yang perkosa istrinya sendiri! Sekarang aku bilang buang!" ucap Erlangga yang kini bernada lembut.


"Enggak!" Grael semakin menangis saat dengar ucapan Erlangga.


"BUANG!" teriak Erlangga.


"Kamu egois, Erlangga! Kamu marah di saat aku dekat dengan pria lain, tapi kamu apa?" teriak Grael dengan emosi.


"JELAS MARAH! Aku suami kamu, mana ada suami yang diam saja melihat istrinya dekat dengan laki-laki lain?" ujar Erlangga dengan tegas.


"TAPI, KAMU DEKAT DENGAN SHERLY, ER! Bahkan kamu tidur sama dia, iya kan?" sahut Grael dengan emosi yang meninggikan suara dan mengecilkan suaranya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2