
"Lo, nggak apa-apa kan?" tanya salah satu senior sebagai ketua ospek.
"Thanks ya, kak!" ucap Grael seraya berterima kasih kepada orang yang telah membantunya.
"Sama-sama, siapa namamu?" tanya pria itu.
"Grael, panggil aja, El." Grael tersenyum ke arah orang yang sudah menolongnya.
"Diego!" Diego mengulurkan tangan sembari tersenyum, kalau bertanya, "Di mana rumahnya? Biar sekalian aku antar!"
"Nggak usah, Kak! Terima kasih, aku naik taksi aja," ucap Grael.
"Oh, oke kalau begitu. Biar gue antar sampai naik taksi aja!" ujar Diego.
Mereka pun keluar dari kampus, Diego langsung pergi menjalankan mobilnya setelah melihat Grael masuk ke dalam mobil taksi. Ya, Grael memang tidak dijemput oleh Erlangga karena sang suami tengah memghadiri pertemuan dengan klien penting.
Joshua memang sengaja mengatur jadwal pertemuan Erlangga dengan clien dari kota NY secara langsung agar kerjasama yang mereka jalani selama lima tahun berjalan semakin baik, dia juga menyuruh Noel untuk membantu Erlangga.
Setibanya di rumah, Grael disambut hangat oleh Evelyn, meski mereka baru sehari tinggal di sana tetapi Evelyn dan Noel selalu ramah dan menganggap sebagai anaknya sendiri.
"Apa Erlangga sudah pulang?" tanya Grael pada Evelyn saat mereka sudah berada di meja makan.
"Belum, Tuan masih menemui rapat bersama Noel," ucap Evelyn.
Grael akan menunggu suaminya pulang ke rumah baru mereka akan makan bersama, dia menyuruh Evelyn untuk menyimpannya terlebih dahulu dan menghangatkannya ketika nanti Erlangga sudah datang.
Evelyn mengangguk lantas menyimpan kembali makanan yang ada di atas meja, dia pun membuatkan minuman hangat untuk Grael karena bisa dilihat sendiri penampilan dari wanita muda itu terlihat berbeda dari saat dia pergi berangkat ke kampus.
Sementara di dalam kamar usai dari dapur, Grael memilih untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi dia keluar melihat Evelyn masuk seraya membawa susu hangat dan cemilan.
__ADS_1
"Maaf, Nyah saya lancang telah masuk tanpa seizin Nyonya!" Ucap Evelyn merasa bersalah.
"Tidak apa-apa!" Grael tersenyum lantas pergi ke ruang ganti baju.
Evelyn pun keluar dari kamar, dia begitu senang ketika istri dari Erlangga begitu baik padanya. Sosok Grael mengingatkan dia pada mendiang ibu Erlangga, sama persis sikap ramah, baik hati dan cantik seperti Calista.
Pada saat Evelyn berada di ruang tamu dan menuju dapur, dia bertemu dengan Erlangga dan Noel. Dia melihat Erlangga dengan raut wajah lelahnya ketika menemui klien bersama suaminya.
"Grael di mana, Bik? Sudah pulang?" tanya Erlangga yang membuka jas.
"Baru selesai mandi, Tuan!" jawab Evelyn dengan penuh sopan santun.
Erlangga tersenyum dan mengizinkan untuk kedua pasangan suami istri tersebut untuk pulang karena mereka tidak tinggal bersama dengan Erlangga dan juga Grael. Evelyn dan Noel hanya bertugas untuk membantu menjaga dan membersihkan rumah, selebihnya Grael yang mengurus karena itu permintaan Grael.
Rumah di NY memang tidak besar sehingga tidak perlu memerlukan pelayan yang banyak, meski terbilang rumah yang sederhana tapi rumah itu terlihat tentram dan nyaman. Rumah peninggalan Calista yang Erlangga sendiri tidak tahu bahkan ibu sambungnya pun juga tidak tahu, Joshua merahasiakan rumah tersebut karena itu adalah rumah kesayangan Calista.
Rumah pertama yang Calista beli dengan hasil jerih payahnya sendiri, setelah menikah dengan Joshua mereka sempat tinggal di rumah itu beberapa tahun sebelum akhirnya mereka ke negara di mana kota tersebut menjadi kota kelahiran Erlangga.
"Sudah pulang, Kak?" tanya Grael.
Erlangga mengangguk seraya memeluk sang istri, dia mencium kening Grael sembari memeluknya. "Wangi!"
"Dah, mandi dulu sana aku tunggu di bawah ya kita makan malam!" ujar Grael yang membalas ucapan Erlangga.
Erlangga pun tidak menggubris ucapan sang istri dia justru menahan tengkuk Grael lalu menciumnya lagi agar lidahnya bisa menerobos sampai dalam, sedangkan tangannya memeluk erat tubuh yang masih ramping.
"Kak ... mandi dulu!" Grael melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh Erlangga.
Erlangga terkekeh lantas mencubit hidung mancung itu, kemudian pergi ke arah kamar mandi, sedangkan Grael memilih untuk menghangatkan masakan yang sudah dimasak oleh Evelyn.
__ADS_1
Grael turun lantas melihat Evelyn masih ada di dapur dia menghampiri wanita yang terlihat awet muda itu. Lantas bertanya, "Loh, Bik Evelyn belum pulang? Ini udah lewat malam loh, sini biar saya aja!"
"Nggak apa-apa, Nya! Lagian belum malam banget ... kasian, Nyonyah pasti cape seharian dari kampus." Evelyn tersenyum seraya mematikan kompornya.
"Terima kasih, ya! Kalau begitu kita ikut makan saja sekalian, pasti Pak Noel juga belum makan kan?" Grael menyiapkan piring untuk empat orang.
"Tidak perlu, Nyah! Biar saya sama istri saya makan di rumah saja," ucap Noel yang merasa tidak enak hati.
"Saya sedih loh, kalian menolaknya," ucap Grael dengan lirik.
"Kita makan bersama saja, Pak Noel!" ajak Erlangga yang baru saja turun dari tangga.
Noel pun mau tidak mau menerima ajakan dari Erlangga, hingga mereka pun makan berempat di meja makan yang sangat sederhana. terlihat jelas di mata Airlangga bila pasangan suami istri yang memasuki usia senja mereka, mereka masih terus tetap memberikan keharmonisan dalam rumah tangganya.
Menjadi panutan bagi Erlangga bila kelak nanti dia pun akan seperti itu terhadap istrinya, di tengah-tengah kehangatan mereka bercengkrama menikmati makan malam. Erlangga pun menanyakan soal anak Evelyn dan juga Noel.
"Ah, dia juga kuliah sama seperti Nyonyah, tapi sayang dia sudah semester empat." sahut Evelyn yang tersenyum melihat ke arah Noel.
"Kuliah di mana?" Tanya Erlangga.
"Universitas NB," sahut Noel.
Evelyn pun kembali menyambung ucapan sang suami bila nama anaknya adalah Samuel, satu sekolah dengan Grael. Dia juga menceritakan bila anak keduanya belum lama meninggal akibat overdosis.
Sehingga tinggal Samuel lah anak satu-satunya yang masih hidup, dari cara bicara Evelyn tentang menjelaskan siapa itu Samuel, wanita itu begitu senang semangat menceritakan data pribadi Samuel kepada mereka.
Bahwasanya bila Samuel adalah sosok anak yang bertanggung jawab menurut dan juga baik hati, Evelyn juga membangga-banggakan Samuel bila anaknya itu mau bekerja keras untuk membiayai kuliahnya sendiri dan tinggal sendiri.
Erlangga merasa terkagum mendengar semua cerita tentang Samuel sosok pria yang energik bertanggung jawab serta penyayang. Berbeda dengan mendiang adiknya Samuel. Berbeda dengan sang adik yang bernama Immanuel bertolak belakang dengan Samuel.
__ADS_1
Selalu berbuat ulah, dan bisanya hanya menghamburkan uang. Namun, tetap saja Noel dan juga Evelyn sangat menyayangi dan mencintai Immanuel.
To be continued..