Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
92. Mulai dekat kembali


__ADS_3

"Anjriiit, cuma ingat ciuman aja, gue uda On!" Rangga langsung bangun dan duduk. Dia membuka bajunya yang terasa panas kemudian mengambil minum yang ada di nakas, tetapi gelasnya kosong.


Rangga pun bangun dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamar menuju dapur bersih untuk mengambil air minum, satu kaleng minuman dingin ternyata tidak mampu mendinginkan aura panas yang ada di tubuhnya. Dia pun berencana untuk mendinginkan kepalanya agar jernih dari pikiran panas bersama Emira.


"Aakkhh, Rangga!" teriak Grael saat ingin membuatkan minuman hangat untuk suaminya. Namun, dia melihat Rangga yang tidak memakai baju sembari meletakan kepalanya di dalam mesin pendingin tersebut.


Suara teriakan Grael membuat Rangga terkejut hingga kepalanya membentur bagian atas kulkas dan membalikan tubuhnya seraya mengusap kepalanya yang sakit.


"Ya Tuhan, Rangga!" Tunjuk Grael pada bagian sang junior Rangga yang masih On seperti tiang yang begitu tegak sembari mengintip melalui sela-sela jemari yang terbuka saat menutup matanya.


Pandangan Rangga tertuju apa yang ditunjuk oleh Grael, dia pun segera menutup adik juniornya yang ternyata masih bangun.


"Eh, tu–tutup matanya yang bener! Jangan ngintip, nanti mau lagi! Bintintan baru tahu rasa!" perintah Rangga dengan gugup.

__ADS_1


"Siapa yang ngintip, Dodol! Lagian siapa juga yang mau! Masih gedean juga punya Kak Erlangga!" Grael memilih untuk membalikan badan lalu berjalan mundur untuk menggapai gelas yang ada di samping Rangga.


"Astaga, aku nggak nyangka sama kamu, El! Sakit hati aku, ucapan kamu suka benar!" ujar Rangga yang masih memperhatikan Grael yang ingin membuat minuman.


"Iiih, ngapain sih masih di sini? Dah, sana! Jauh-jauh!" usir Grael yang masih memejamkan matanya.


"Suka-suka, ye ... lagian, mau buat apa sih? Buat siapa?" tanya Rangga ketika matanya melihat tangan Grael mengambil bubuk kopi dan bubuk teh menjadi satu dalam gelas.


"Kepo banget, sih! Mau buat teh untuk Kak Er, puas!" bentak Grael yang ingin menuang air panas.


Mendengar ucapan dari Rangga membuat Grael membuka matanya dan melihat isi gelas yang sudah tercampur teh dan juga kopi, dia pun mengambil kembali gelas yang baru ketika Rangga menertawainya.


"Iiih, Rangga! Gara-gara kamu tahu! Malam-malam cabul sama kulkas!" bentak Grael yang kembali membuat minuman yang baru.

__ADS_1


"Astaga, siapa yang cabul!" Rangga masih tertawa dengan tingkah Grael, hatinya kembali lega ketika dia sudah bertegur sapa dengan Grael setelah enam bulan semenjak Erlangga memukulnya.


Rangga pun memberitahu kepada Grael bila Erlangga tidak suka terlalu manis, dia paling suka bila tehnya menambakan sedikit madu dan perasan jeruk. Begitu detail Rangga membuatkan minuman kesukaan Erlangga sampai dia sendiri yang membuatkannya.


"Tara ... jadi, buatan teh Rangga!" Rangga langsung memberikan satu gelas untuk Grael berikan dan gelas yang dibuat oleh Grael dia yang minum.


Grael begitu curiga ketika teh yang dibuat Rangga adalah teh kesukaan sang suami, tetapi dia menampik pikiran jelek tentang Rangga, dia pun mengambil teh itu. Namun Rangga mengambilnya kembali.


"Bentar, jampe-jampe dulu!" Rangga membaca mantra pada teh Erlangga agar sifat sombong, sifat galaknya hilang, yang ada tambah sayang sama dia seorang, tambah perduli dengan adiknya tak lupa dia meniup pada akhir mantra.


Grael pun tercengang dengan semua mantra yang diucap oleh Rangga, dia menjadi ragu untuk memberikannya kepada sang suami, dia pun langsung membalikan badan untuk bisa langsung memberikannya kepada Erlangga.


"Astaga naga!" Grael dan Rangga terkejut sampai air teh yang masih panas mengenai tangan Grael. Bagaimana mereka tidak terkejut saat mereka membalikan tubuh mereka, ternyata sudah ada Erlangga tepat di hadapan mereka dengan tangan yang dilipat ke dada dan sorot mata yang tajam sedang menatap mereka berdua.

__ADS_1


"Sudah bikin minumannya?" tanya Erlangga dengan dingin yang menatap jam ditangannya.


To be continued...


__ADS_2