
Begitu Rara keluar, suara ponsel Grael berdering dan pemiliknya pun melihat nama Karina di layar ponselnya. Langsung saja Grael memasang suara cerianya.
"Hallo, Ma?" salam Grael dan Karina pun menjawab salam sang anak dari seberang telepon.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Karina yang mempunyai perasaan tidak enak pada anaknya.
"Grael baik Mah!" dusta Grael.
"Apa suamimu kerja?" tanya Karina.
"Iya," jawab Grael dengan hati sedih karena harus berbohong.
"Terus kamu tidak sekolah?" tanya Karina.
"Ah, i–iya mah, El, hanya kurang enak badan saja Mah!" elak Grael, tapi Karina tahu bila anaknya sedang menutupi sesuatu darinya.
"Mah, Grael hanya kecapean, lagian Kak Erlangga juga kerja di ruang kerjanya, Mama jangan khawatir! Kak Erlangga tidak pernah kasar kok sama Grael, mungkin kalau marah iya, itu juga karena mungkin El-nya yang nggak nurut," sambung Grael yang berdusta hanya untuk tidak membuat Karina tidak begitu khawatir.
Sementara dari balik pintu, Erlangga sudah mendengar percakapan sang istri dengan mertua, di mana Grael sama sekali tidak mengadu perihal masalah semalam dan terus berbicara baik tentangnya.
"Tuan belum masuk? Kenapa bengong?" tanya Rara yang mengangetkan Erlangga dan hampir menumpahkan separuh air di atas nampan berserta buburnya.
"Hah? Hmm—”
Erlangga jadi hilang fokus karena Rara tiba-tiba berada di sampingnya, tentu saja hal itu membuat Grael langsung memutuskan sambungan teleponnya buru-buru.
"Sini, biar saya aja Tuan yang bawakan buburnya." Rara berniat mengambil nampan dari tangan Erlangga karena dia tahu bila Nyonya-nya tidak mau di ganggu oleh Erlangga.
Erlangga pun berpikir sejenak, mungkin kalau dia yang bawa bubur, Grael tidak akan mau memakannya. Sehingga Erlangga memutuskan untuk Rara yang memberikan bubur pada sang istri.
"Pastikan dia mau makan!" pinta Erlangga yang langsung mendorong tubuh Rara masuk ke dalam.
"Baik, Tuan!" ucap Rara yang terkejut pada Tuhan-nya yang tidak sabar.
Rara pun masuk dengan membawa nampan yang berisikan bubur dan air hangat untuk Grael, dia menaruh di atas nakas lalu mencoba untuk membujuk Nyonya-nya agar mau makan.
"Saya bilang, nanti ... Ra!" ucap Grael dengan suara yang sedikit dipaksakan.
__ADS_1
"Nyonya, saya mohon ... sedikit saja, ya!" Rara berusaha menyodorkan satu sendok bubur ke depan mulut Grael.
"Ra, saya mau bubur yang ada di persimpangan jalan depan!" ucap Grael yang beralasan tidak mau makan masakan yang dibuat oleh suaminya.
"Tapi, Nyonya ... ini bubur sudah dibuat sa—”
"Ra!" bentak Grael dengan nada pelan.
"Baik Nyonya!" Rara pun akhirnya mengalah, dia menunduk dan berjalan ke luar.
Erlangga yang mendengar permintaan sang istri langsung menyuruh anak buahnya untuk membelikan bubur sebelum Rara memberitahu, dia pun masuk begitu saja saat Grael bangun dari tempat tidurnya dan berjalan perlahan ke arah pintu kamar mandi.
"Aku bisa sendiri!" Grael menangkis tangan Erlangga begitu saja. Namun, Erlangga tetap memaksa tanpa membalas ucapan sang istri.
"Aku bilang, aku bisa sendiri!" ucap Grael dengan nada yang gemetar ketika tenaga yang dia kumpulkan, hilang seiring dengan dorongan yang dia berikan pada Erlangga.
"El, bisa nggak, jangan keras kepala? Kamu masih sakit!" Erlangga memaksa Grael untuk dia gendongnya menuju kamar mandi.
Grael yang tenaganya sudah habis, hanya bisa menangis saat Erlangga memaksanya. Bahkan saat ini suaminya menurunkan cellananya meski dirinya sudah melarang tangan Erlangga.
"Tutup matanya!" ucap Grael yang sudah mati kutu saat suaminya menemani hingga berdiri di hadapan Grael yang tengah duduk di closed.
"Aku bilang, TUTUP! Atau KELUAR!" bentak Grael, dirinya begitu kesal dalam situasi saat ini. Ingin rasanya dia menghilang dan menjauh saat itu juga, tapi tenaganya masih belum cukup pulih.
Erlangga mendessah pelan lalu berbalik menghadap tembok, begitu telinganya mendengar suara siraman air pada closed. Dia pun hendak berbalik tetapi tangan sang istri menahan pinggangnya supaya jangan membalikan badan terlebih dahulu.
"Aku belum selesai!" ucap Grael.
Di saat yang bersamaan, Beni memberitahu bila Josua meneleponnya. Erlangga pun berasumsi bila sang ayah menelepon karena dia tidak ke kantor hari ini.
"Keluarlah, aku bisa sendiri!" ketus Grael.
"Buruan!" ucap Erlangga yang masih mematung berdiri di depan Grael.
"Tuan muda, Tuan besar sudah menunggu!" ucap Beni sekali lagi, dia berdiri dibalik pintu kamar mandi.
Erlangga tahu, bila menyangkut Josua Beni pun tidak akan segan-segan menganggu waktu Erlangga dan Grael di manapun pasutri itu berada.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, jangan keluar sebelum aku datang!" Erlangga pun mengikuti arah Beni melangkah.
Sementara Grael pun merasa lega, dia buru-buru keluar dari dalam kamar mandi dan menuju tempat tidurnya. Namun, Erlangga datang lebih cepat dan menghampirinya.
"Kenapa susah banget sih di bilangnya?" Erlangga langsung menuntun Grael untuk sampai ke tempat tidur.
Tidak banyak bicara apalagi menolak, untuk saat ini Grael hanya bisa terdiam dan mengumpulkan tenaganya agar dia bisa lepas dari pewaris tersebut. Ya, hatinya belum bisa memaafkan atas apa yang sudah Erlangga lakukan, setiap kali Erlangga menyentuh dirinya, pasti bayangan di mana suaminya mencumbu dirinya dengan kasar lalu dihempaskan begitu saja bagaikan seorang pellacur.
"Makan, dulu!" ucap Erlangga yang ingin menyuapi sang istri tapi Grael justru diam saja.
"El," ucap Erlangga yang memohon.
"Biar aku sendiri!" Grael langsung mengambil buburnya dan hanya makan beberapa suap bubur.
Setelah itu, Grael memutuskan untuk kembali tidur. Namun, belum sempat dia masuk ke dalam alur mimpi, tiba-tiba bibirnya telah menempel pada bibir Erlangga.
Grael berusaha untuk memberontak tapi tenaganya masih lemah, tidak bisa menyingkirkan Erlangga dari atas tubuhnya. Hingga akhirnya, rasa obat dari cairan mulut Erlangga begitu terasa di lidah Grael saat perlahan demi perlahan cairan obat itu habis tak tersisa di dalam mulut Erlangga.
"Hhmp!" Grael berusaha untuk melepaskan ciuman itu saat obat telah habis, tapi Erlangga justru mengambil kesempatan untuk mellumat bibir mungil dirinya.
Tangan Erlangga menggengam erat jemari sang istri saat lidahnya terus menyesap menyampu bersih sisa rasa pahit di lidah masing-masing.
Grael hanya meneteskan air mata, saat dirinya mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya. Di mana Erlangga selalu memaksanya meski dia dalam keadaan sakit.
"Maafkan aku, El!" ucap Erlangga di depan wajah istrinya yang menangis sambil mengelap air mata Grael.
"Kamu egois, Kak!" Tangisan Grael pecah dikala Erlangga juga menangis memeluknya dan kepalanya tepat di leher dirinya.
"Maafkan, aku. Aku tahu, aku salah, El ... please, maafkan aku!" Erlangga mempererat pelukannya.
"Aku benci sama kamu, lepasin aku! Aku jijik sama kamu!" bentak Grael di telinga Erlangga.
"Aku nggak tidur sama dia! Percayalah sama aku, Sayang! Bila perlu Rio dan Beni yang menjelaskannya." ucap Erlangga yang berderai air mata. Namun, Grael tetap saja masih bergeming.
"Aku harus apa agar kamu mau memaafkan, aku? Sherly? Iya? Aku akan pecat dia sekarang juga!" Erlangga bangun dari atas tubuh sang istri lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Beni saat itu juga.
Semua yang Erlangga lakukan di mata Grael tiba berati apa-apa, dia hanya ingin sembuh dan segera keluar dari rumah itu. Iya, rumah mewah harta berlimpah suami yang terpandang, mungkin di kata orang Grael beruntung tapi bagi Grael. Dia tidak lebih dari seekor burung yang terkurung di sangkar emas.
__ADS_1
To be continued...