
"Sherly!" maki Erlangga yang berada di dalam kamar mandi.
Tidak lama kemudian, sekertaris itu datang setelah mematikan sambungan telepon dari Grael, dia berdiri tepat di pintu kamar mandi yang berada di dalam ruangan Erlangga. Detak jantungnya berdegup kencang mendengar suara Erlangga yang terdengar menyeramkan.
"I–iya, Pak!" sahut Sherly. Tangannya meremas satu sama lain untuk menutupi rasa takutnya.
"Saya tidak mau tahu, kamu bikin ulang semua laporan yang baru saja kamu rusak!" Erlangga membuka pintu kamar mandi dengan kasar lalu melewati Sherly begitu saja.
Betapa terkejutnya Sherly saat mendapat perintah dari Erlangga bahwa hari ini dia harus membuat ulang dokumen yang baru saja dia kerjakan selama seharian, karena ulahnya sendiri yang mencoba ingin menggoda Erlangga. Namun, kenyataan justru menumpahkan minuman ke atas dokumen yang begitu penting untuk perusahaan. Sehingga membuat celana Erlangga ikut terciprat minuman panas.
"Astaga, Pak! Mana ke kejar sore ini, Pak!" keluh Sherly saat melihat jam di tangannya yang menunjukan jam pulang kerja.
"Saya tidak mau tahu! Kamu kerjakan sekarang juga, sebelum pukul tujuh malam atau saya pecat!" ancam Erlangga yang sudah kembali duduk di kursi kembanggaannya.
"Ba–baik, Pak!" Sherly pasrah atas apa yang sudah dia perbuat sendiri.
"Sabar, Sher ... dikit lagi, Lo bisa merebut Erlangga dari anak ingusan itu. Gue yakin, sekarang dia sedang mengamuk akibat cemburu!" batin Sherly yang perlahan kakinya melangkah ke luar seraya tersenyum licik.
Jam terus berputar hingga menunjukkan pukul lima sore, Erlangga bersiap bergegas untuk pulang bersama Rio. Namun, Sherly langsung bangun dari tempat duduknya dan bertanya, "Bapak mau ke mana? Bukannya juga lembut hari ini?"
Erlangga dan Rio tidak menggubris pertanyaan dari Sherly, mereka berjalan begitu saja tanpa melirik sedikit pun pada sekertaris yang selalu memakai baju seketat mungkin untuk memperlihatkan bentuk lekuk tubuhnya.
Sayangnya, Erlangga justru sama sekali tidak tertarik dengan tubuh Sherly, meskipun sekertaris itu baru bekerja ketika Erlangga sudah ditetapkan sebagai pemegang saham perusahaan Grup Jaya. Erlangga bisa mendapatkan sekertaris itu karena Sherly adalah anak dari rekan bisnis Josua.
__ADS_1
...----------------...
Sepulang dari kantor Erlangga merasakan sikap Grael berbeda, setiap kali dia bertanya pasti istrinya hanya menjawab dengan singkat. Begitu juga pada saat makan malam, Grael lebih memilih untuk diam dan tidak banyak bicara.
"Bagaimana ulangannya sudah selesai?" tanya Erlangga saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Sudah," jawab Grael sembari menyisir rambutnya.
"Sudah libur?" tanya Erlangga, perlahan dia mulai mendekat ke arah sang istri.
"Belum, dua hari lagi, setelah itu libur selama seminggu." Grael tersenyum sepintas lewat cermin, lantas menyingkirkan tangan Erlangga yang memeluk bagian dadanya.
"Kamu kenapa? Lagi dapat?" Erlangga menyusul Grael naik ke atas kasur.
"Tidak, aku ngantuk! Mau tidur lebih awal," ucap Grael, dia menarik selimutnya dan mulai memejamkan matanya.
"Yank!" Erlangga mulai masuk ke dalam selimut Grael dan mencoba mengecup bahu sang istri dengan lembut.
"Aku ngantuk, Kak! Kapan-kapan aja, ya?" Grael membelakangi tubuh sang suami.
Deg, debaran jantung Erlangga langsung merasakan sakit akibat penolak dari Grael, dia mencoba mengetesnya kembali untuk memastikan sikap sang istri terhadapnya.
"Tapi, aku mau, Yank!" Erlangga terus memaksa mencumbu leher Grael agar sang istri bisa terangsang. Namun, bukannya terangsang justru Grael meneteskan air mata.
__ADS_1
Erlangga langsung berhenti mencumbunya dan bertanya pada sang istri. "Why? Apa aku melakukan kesalahan?"
"No," sahut Grael, dia mencoba untuk mengalihkan pandangannya dari mata Erlangga.
"Kamu berbohong, honey! Katakanlah, apa yang membuatmu seperti ini?" Erlangga langsung menarik tubuh Grael agar masuk ke dalam dekapannya.
"Pikir aja, sendiri!" ketus Grael. Dia mendorong tubuh Erlangga, lalu memberikan pembatas pada tempat tidur mereka.
"Yank," ucap Erlangga dengan lembut, tapi sang istri membalas tatapan sangar melihat dirinya.
"Jangan lewatin pembatas ini, awas aja kalau sampai lewat didenda selama seminggu berpuasa!" ancam Grael.
"Astaga, Yank! Kejam banget! Kamu nggak kasian apa sama si junior? Masa disuruh seminggu?" rengek Erlangga.
"Mangkanya jangan lewati, dah akh! Aku mau tidur, bye!" Grael langsung menutup tubuhnya dengan selimut
...----------------...
Sementara itu, di ruang lingkup penjara. Seorang wanita bertengkar dengan teman satu sel-nya. Mereka saling menjambak satu sama lain dengan kata umpatan yang begitu sakral didengarnya. Tidak hanya itu, mereka juga sempat saling tumpang tindih untuk melampiaskan rasa emosinya.
"Heh, denger ya, sampai kapanpun gue nggak bakalan tunduk sama, Lo!" Lydia membenturkan kepala Sarmini ke tembok.
"Lo, kira gue juga mau tunduk sama Lo? Ih, nanzis!" ucap Sarmini.
__ADS_1
Entah apa yang membuat mereka bertengkar yang pasti, membuat keamanan langsung memisahkan mereka berdua yang sedang bergelud di dalam sel.
To be continued...