
Rangga berlari menuruni anak tangga, ketika mengetahui bahwa Grael telah sampai di kediaman rumah utama, hatinya begitu senang walaupun hanya sekedar dekat dengan Grael sebagai ipar. Tidak masalah baginya, asal dia bisa setiap hari bertemu dengan wanita yang dia cinta.
Deru napas Rangga pun tersengal ketika sampai di bawah anak tangga, dia berusaha mengontrol dirinya agar tidak aneh di depan Grael. Namun, saat pintu yang menjulang tinggi itu terbuka, matanya menangkap sosok wanita yang dia cintai berada di dalam gendongan Erlangga sembari terpejam.
Rangga berusaha untuk tetap tenang, ketika Erlangga melewatinya begitu saja di hadapannya, dia mengepalkan tangan sangat kuat saat melihat begitu banyak tanda kemerahan di bagian leher Grael yang begitu jelas.
Sungguh sakit mengetahui bahwa mereka benar-benar sudah melakukannya. Kecewa, itulah yang Rangga rasakan ketika hatinya terus menebak-nebak yang ada di dalam benaknya.
"Aaaakkhhh ... kenapa kamu tega sama aku, El? Semudah itukah kamu menggeser posisi aku di hati kamu? Sampai kamu dengan cepatnya menyerahkan apa yang semestinya aku dapat!" Rangga menyingkirkan semua benda yang ada di lemari pajangan, saat dia sudah berada di dalam kamar.
"Aku mencintai kamu, El!" Rangga duduk di lantai sembari terisak dalam tangisannya.
"Astaga ... Rangga! Kamu kenapa, nak?" Kylie mendekat ke arah anaknya yang sudah terlihat berantakan.
"Nggak usah perduli sama, aku! Ini kan, yang Mama mau dari Rangga?" bentak Rangga yang menepis tangan Kylie.
Rangga langsung mengambil jaket dan kunci mobilnya, lalu pergi meninggalkan sang mama begitu saja. Kylie berteriak memanggil namanya sekali lagi. Namun, dia tidak begitu perduli dan tetap pergi menaiki mobilnya.
...----------------...
Hari ini hari pertama masuk sekolah usai berlibur kenaikan kelas, suasana di ruangan makan pun terasa hening dan sangat hambar, ketika Rangga memasang wajah masamnya sembari memamerkan leher yang terdapat bekas ciuman.
Grael sama sekali tidak berani menatap Rangga lama-lama, hanya sekilas dia melihat tanda merah itu begitu jelas di leher Rangga seperti yang ada di lehernya.
"Ngga," panggil sang ayah ketika dia berniat memanggil Erlangga tetapi Rangga yang menyahut.
"Ah ... hmm, kamu dan Grael berangkat sekolah pake mobil Papi karena mobil itu akan Papi suruh Carly untuk betulkan mesinnya," dusta Josua.
"Dan kamu, Erlangga ... Papi tidak mau bila kamu membuang ponsel istri kamu begitu saja!" kesal Josua yang tidak bisa menanyakan kabar menantu Kesayangannya.
"Pih!" jawab serempak Erlangga dengan Rangga yang ingin protes dengan Josua.
"Papi tidak mau ada bantahan!" Josua langsung menyelesaikan sarapan paginya lalu melangkah menuju mobil yang siap mengantarnya ke tempat kerja.
__ADS_1
"Pih ... biar Erlangga yang mengantar El!" tolak Erlangga yang masih mencegah tangan Grael untuk masuk satu mobil dengan Rangga.
"Nanti kamu telat ke kantor bersama Papi! Ingat, Papi tidak suka calon pemimpin perusahaan yang suka tidak tetap waktu!" Josua menyuruh Erlangga masuk ke dalam mobil bersamanya dan membiarkan Grael pergi sekolah bersama Rangga.
"Kak ... percayakan sama aku?" Grael langsung mencium pipi seraya tersenyum.
Erlangga berdecak kesal, kemudian dia memberikan izin kepada sang istri agar bisa berangkat sekolah bersama adik tirinya. Akan tetapi, Erlangga menarik dagu Grael untuk menautkan ke dua bibir mereka di depan semua orang.
"Dasar anak kurang ajar! Berani-beraninya dia berbuat seperti itu di depan umum?" umpat Josua yang kesal melihat Erlangga tanpa malu mellumat bibir sang istri.
"Kabarin aku!" pinta Erlangga.
"Kabarin apa? Ponsel aja aku nggak punya!" sahut Grael.
Erlangga menyentil kening sang istri, untuk melampiaskan rasa kesalnya atas perbuatan sendiri, dia pun berkata, "Biar Rio yang menjemput kamu usai pulang sekolah!"
"Jangan berani-berani ganjen, apa lagi tebar pesona!" timpal Erlangga.
"Erlangga ... buruan, naik!" teriak Josua yang kesal menunggu begitu lama.
Mobil ke duanya pun, sudah berjalan ke arah tempat tujuan masing-masing, begitu mobil yang di tumpangi oleh Grael dan Rangga sampai di tempat sekolah. Rangga berpesan agar jangan terlalu menjaga jarak dengannya dan Grael menyetujui permintaan Rangga.
"Ciie ... yang makin lengket aja!" goda Ernata melihat ke arah Rangga dan Grael turun dari mobil bersaman.
Semua teman-teman Grael tidak ada yang tahu bila Grael dan Rangga sudah putus, bahkan Grael sudah menikah dengan Erlangga, seorang artis papan atas yang menjadi idola siswi sekolah tersebut.
Veby yang melihat ternyata hubungan Rangga dan Grael baik-baik saja, membuat dirinya semakin cemburu dan semakin ingin menyakiti Grael. Dia lebih memilih masuk ke dalam kelas dengan perasaan yang begitu kesal.
Rangga pun tersenyum karena dia bisa mengambil kesempatan ini untuk merebut Grael dari tangan Erlangga. Begitu banyak rencana yang sudah dia susun agar bisa dekat dengan sang wanita cantik berambut panjang itu.
Jam terus berputar, tanpa terasa jam istirahat telah tiba. Grael bersama Ernata berniat ke kantin utama, tetapi Grael meminta izin terlebih dahulu kepada Ernata untuk bisa ke toilet. Mereka pun berpisah saat Grael berbelok ke arah kanan sedangkan Ernata menuju kantin yang berada di sebelah kiri.
Langkah Rangga mengikuti kemana Grael melangkah, hingga dia nekat masuk ke dalam kamar mandi wanita dan mengunci pintu kamar mandi itu dari dalam.
__ADS_1
Begitu selesai, Grael membuka pintu toilet itu, betapa terkejut dia saat melihat Rangga sudah berdiri di depan kaca westafel dengan sorot mata yang menakutkan.
"Rangga? Ka–kamu, nga—"
Belum selesai Grael berbicara, mulutnya sudah dibekap oleh tangan Rangga. Rangga pun memberi kode pada Grael agar jangan berisik dan melawannya, tetapi Grael terus memberontak dan tidak mau menurut kepada Rangga. Sehingga Rangga terpaksa membekap mulut Grael dengan bibirnya.
Rangga yang sangat merindukan Grael menjadi lepas kontrol, dia tidak bisa mengendalikan dirinya ketika bibirnya mencium bibir Grael, tangannya terus menenahan kedua tangan Grael agar tidak bisa memberontak saat dia cium, lidah Rangga menari di dalam mulut Grael seakan mengabsen setiap rasa kerinduan itu.
Sesekali Rangga melepas ciumannya memberikan kesempatan kepada Grael untuk bernapas, kemudian mellumatnya kembali dengan sedikit buas
Sangat terlihat jelas, Rangga melahap bibirnya penuh napsu. Tidak ada ruang yang tersisa di mulut Grael yang terlewat oleh Rangga, Pria yang sedang kalut itu begitu menikmati bibir wanita yang dia cintai.
Tanpa sadar Rangga sudah menanamkan benih kebencian di hati Grael, bagaimana tidak, Rangga mengisap bibirnya sepuasnya bahkan hampir memperkosanya saat birahi Rangga memuncak dan membuka resletingnya. Tiba-tiba Grael memukul tepat di aset paling berharga milik Rangga.
"Rangga? Rangga ... Rangga!" teriak Anjas di telinga Rangga begitu kencang, sehingga membuyarkan lamunan mesuum tentang dirinya bersama Grael.
"Astaga ... kenceng banget sih, udah kaya toak mulut Lo!" Rangga memasukan satu jari di telinganya agar menghilangkan rasa berdengung.
"Lagian, Lo ngelamun di depan toilet cewek! Wah ... jangan-jangan, Lo mau ngintip, ya?" Anjas menatap sinis ke arah Rangga.
Tidak lama kemudian, Grael pun ke luar dari kamar mandi wanita, dia pun melihat Anjas dan Rangga sudah berada di depan toilet tersebut.
"Rangga? Anjas? Kalian, ngapain di sini?" tanya Grael penuh curiga.
"Ah ... gue tau, Lo pasti ma—"
"Kita, cuma lewat kok! Ya, kan!" Rangga menutup mulut Anjas lalu segera pergi dari sana.
"Aneh!" ucap Grael.
To be continued...
bonus visual
__ADS_1
Rangga Louis