Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
65. Biru, Merah


__ADS_3

Setelah Grael dan Rangga saling mengeluarkan segala isi hatinya, kini mereka sepakat untuk berdamai dengan masa lalu mereka masing-masing.


Rangga melihat tangannya sendiri yang terluka akibat gigitan cinta dari iparnya, dia memandangnya sembari tersenyum. “Cute!”


Langkah kaki Rangga pun kembali berjalan memasuki rumah utama, menyusul Grael yang sudah lebih dulu turun dari mobil, tetapi langkahnya terhenti saat melihat tingkah Grael yang mencurigakan.


Rangga mengikuti ke mana Grael pergi dengan cara mengendap-endap seperti ingin mengambil sesuatu tanpa ketahuan. Kecurigaannya semakin bertambah ketika Grael berlari ke arah gudang tempat penyimpanan barang sudah tidak terpakai.


Sementara di posisi Grael, dia terus memperhatikan gerak-gerik Lydia yang sedang terlihat ketakutan, Langkah kaki Grael pun mengikuti ke mana maid itu pergi, hingga sampai ke tempat gudang yang tidak terlalu jauh dari pintu samping rumah utama.


Alangkah terkejutnya Grael saat melihat Lydia sedang memarahi salah satu maid yang bernama Rani yang sangat terdengar jelas di telinga Grael.


Lydia tidak hanya membentak dan memaki maid itu, tetapi juga melakukan kekerasan pada Rani. Dia ingin merekam kejahatan yang dilakukan oleh maid itu sebagai barang bukti tapi sayangnya ponselnya tidak ada dan hanya memasang telinganya baik-baik untuk menguping pembicaraan Lydia dengan Rani.


Grael terus mendengar percakapan Lydia pada Rani, sampai dia mengetahui bahwa Rani yang sudah mendorongnya ke dalam kolam atas perintah Lydia.


Tubuh Grael gemetar dan menutup mulutnya saat melihat bahwa Lydia menampar pipi Rani dengan keras dan secara berulang-ulang. Begitu sadis, terutama saat Lydia memasukkan kepala Rani ke dalam bak yang terisi penuh dengan Air hujan.


Grael harus segera menyelamatkan Rani, meski dia tahu Rani Lah yang mendorong tubuhnya ke dalam kolam ikan tersebut. Akan tetapi, hati nalurinya berkata bila dia menyelamatkan Rani, maka otomatis maid yang disiksa oleh Lydia akan membantunya memberikan bukti yang kuat.


Baru saja Grael hendak keluar dari tempat persembunyiannya, untuk menghentikan aksi kejahatan yang dilakukan oleh Lydia. Akan tetapi, Rangga sudah datang terlebih dahulu.


“El!” panggil Rangga yang menghampiri Grael.


“Ngapain, sih. Kamu di sini?” Rangga melihat ke arah sekitar yang ternyata tidak ada siapa-siapa.


Grael pun menarik napas kasarnya seraya kecewa, karena Rangga mengacaukan rencananya untuk menangkap basah Lydia. Dia melihat ke arah gudang yang ternyata Lydia dan Rani sudah berhasil meloloskan diri.


“Nggak, hanya saja ... aku, salah lihat! Aku pikir hantu, ternyata lebih seram daripada hantu,” celetuk Grael.


“Kamu itu ada-ada saja! Ih ... takut, ah,” ledek Rangga yang meninggalkan Grael.

__ADS_1


“Iih ... Rangga, tungguin!” Grael segera menyusul Rangga masuk kembali ke dalam rumah.


“Dasar, sialan! Hampir saja ... kita lihat saja, aku atau kamu yang akan dipercaya?” batin Lydia seraya menatap tajam ke arah Grael yang semakin lama menghilang dari pandangannya.


Langkah kaki Rangga tiba-tiba berhenti dan itu membuat Grael menabrak punggung Pria itu. Ungkapan kata kesal pun keluar dari bibir merah merona itu, lantas melirik ke arah sorot mata Rangga memandang dan ternyata sudah ada sosok laki-laki yang berdiri tempat di depan mereka.


Erlangga Louis—suami Grael, sedang menatap ke arah istri dan sang adik dengan tatapan membunuh, bayangkan saja saat Grael lihat, aura dinginnya langsung keluar dari sela-sela pori itu, seakan menangkap basah sang istri yang tengah selingkuh.


“Ka?” ucap Grael yang tersenyum ke arah sang suami.


Tanpa mengucapkan kata sepatah pun, Erlangga langsung naik ke lantai atas dan disusul oleh Grael dan Rangga dari belakang. Setelah sampai di lantai atas, Rangga berbelok ke arah kiri, sedangkan Erlangga dan Grael berbelok ke arah kanan, tempat kamar mereka masing-masing.


Pintu pun ditutup dengan kasar oleh Erlangga, kemudian dia menarik tangan sang istri lantas menciumnya dengan menggebu-gebu, bibir Erlangga terus menyesap bibir yang kenyal tersebut dengan buas lalu berpindah menyesap ke dua gundukkan yang menjadi bagian favoritnya.


“Kak, aku baru pulang sekolah! Belum mandi!” ucap Grael yang menahan agar suara dessahan tidak keluar dari bibirnya.


“Apakah, kamu betah tinggal di sini?” tanya Erlangga.


“Aku dan dia ... sudah berakhir, Rang—“


Belum sempat Grael meneruskan ucapannya, Erlangga sudah menggigit bibir sang istri dengan napsu, sehingga Grael sedikit meringis kesakitan. Dia tidak mau bila sang istri menyebut nama laki-laki lain terutama Rangga.


“Aku punya permainan untuk kamu, bila aku sebut warna biru, itu tandanya kamu harus bersiap-siap menerima kejutan dariku, tapi ... bila aku sebut warna merah, itu tandanya kamu harus siap-siap untuk menerima hukuman!” Erlangga menatap mata Grael dengan sedikit menahan amarah.


Grael tahu bahwa dia akan mendapat warna merah dari sang suami, maka dari itu dia pun berkata, “Maaf, sir ... aku hanya ingin menjelaskan bahwa aku tidak berani bermain di belakangmu!”


Grael langsung mellumat bibir Erlangga dengan keahlian ciuman yang masih minim, walaupun begitu, dia tetap berusaha belajar untuk menyenangkan hati Erlangga agar tidak mendapatkan warna merah dari sang suami.


“Ganti bajumu! Biru,” ucap Erlangga saat ciuman itu telah usai, Erlangga pun mencubit bokkong sang istri dengan gemas.


Grael mendessah pelan, lalu memajukan bibir merah mudanya seraya kesal dengan sikap suami yang begitu messum. Dia pun melangkahkan kakinya untuk mengganti baju.

__ADS_1


"Biru? Kejutan? Kejutan apa?" batin Grael seraya mengingat tentang ucapan Erlangga yang mengucapkan warna biru.


Beberapa menit kemudian, Grael dan Erlangga keluar dari dalam kamar dan menuruni anak tangga, keduanya begitu mesra dan serasi, membuat Rangga yang tengah duduk di ruang televisi menjadi semakin cemburu melihat pasutri yang terpaut usia tujuh tahun itu.


“Kak, mau kemana?” tanya Rangga kepada Erlangga. Namun, Erlangga tidak menggubrisnya.


“Lihat ke depan, kalau jalan itu!” pinta Erlangga yang menarik dagu Grael agar tidak melirik ke arah Rangga.


Setelah mereka masuk ke dalam mobil, ternyata Rangga pun ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi tengah, pasangan suami istri itu pun melirik ke arah belakang, Erlangga yang menatap tajam ke arah Rangga, sedangkan Grael menatap heran kepada adik suaminya.


“Ikut!” pinta Rangga dengan senyuman manjanya sembari menaikan satu alisnya.


“Turun!” tegas Erlangga dengan dingin.


“Nggak! Gue mau ngerasain dimanja sama Kakak sendiri!" sindir Rangga.


...----------------...


Sebuah mall ternama di kota tersebut menjadi pusat perbelanjaan yang terkenal, tempatnya bergensi dan sebagi tempat surgawi bagi kaum wanita.


Erlangga terus merangkul pinggang sang istri dengan mesra lalu mengajaknya ke sebuah toko fashion wanita dan pria, begitu juga dengan Rangga yang ikut ke manapun sang kakak melangkah.


"Pilihlah yang mana kamu suka!" Erlangga membisikan kata di telinga sang istri seraya mengelus bokkong Grael dengan lembut setelah melanjutkan perkataanya, "Aku lebih suka bila kamu memilih baju transparan saat nanti dibawa untuk honeymoon."


Sontak saja itu membuat Grael terkejut, dia tidak menyangka bila suaminya begitu mesuum di muka umum. Grael pun mulai memilih-milih beberapa pakaian yang sesuai dengannya.


"Kak, sekalian bayarin punya gue!" Rangga mengangkat satu alisnya dan menuju kasir.


"Bedebah!" ketus Erlangga yang sampai kapanppun tidak akan pernah suka dengan sang adik tiri. Biarpun Erlangga selalu begitu, tetapi dia tidak pernah sekalipun memukul sang adik, dalam keadaan emosi tinggi. Akan tetapi mungkin saja nanti Erlangga bisa membunuh Rangga bila sang adik nekat menyentuh Grael.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2