
Pagi hari di kediaman rumah Mahendra, Rio sudah memberitahu soal perihal keluarga Loius yang ingin mengajak pertemuan makan malam keluarga dengan sang Ayah—Joe Mahendra pada kemarin malam, dan kini Joe menjadi penasaran pada niat yang terselubung Josua.
"Ada apa? Sampai Josua sampai mengundang kita makan malam?" tanya Joe kepada anak pertamanya, ketika mereka sedang menikmati sarapan bersama.
"Mungkin ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh keluarga Louis, Pah!" sahut Rio yang menatap ke arah Emira.
"Mungkin Grup Jaya mau ber-join dengan perusahaan Papa!" ujar Windy—istri Joe sekaligus ibu sambung Rio dan Emira.
"Join? Mana mungkin, Mah! Perusahan kita kan tidak sebesar Grup Jaya, coba kalau anak kita mau mengurus perusahaan Papanya ... pasti perusahan kita juga tidak kalah bersaing dengan perusahan Grup Jaya! Tapi ... apa boleh buat, toh anaknya memilih untuk bekerja di perusahaan Grup Jaya," ucap Joe yang menyindir halus anak bungsunya.
"Papa yang tidak tegas, kenapa juga ngizinin anaknya menjadi sekertaris pemilik Grup Jaya!" ucap Windy.
"Papa ceritanya sindir Rio? Gitu?" tanya Rio.
"Ya ... kalau kamu merasa tersindir, berati bagus dong biar sadar dan mau mengurus perusahan Papa nya sendiri! Ya, kan, Ma!" tegur Joe pada istrinya.
"Betul sekali!" sahut Windy yang tersenyum kepada Rio.
Anak pertama Joe hanya melempar tatapan ke arah sang ayah dan Ibu sambungnya, dia enggan untuk meladeni ucapan sindir sekaligus permohonan sang ayah.
"Papa nggak tahu, alesan Kak Rio masih bekerja di samping Kak Erlangga?" tanya Emira yang perlahan memajukan kepalanya agar lebih mendekat ke arah ayahnya dan itu berhasil buat Rio berhenti mengunyah.
"Apa? Papa tidak tahu! Apa ada wanita yang sedang dia incar?" tanya sang ayah, Joe mendekatkan telinga Que wew w QQ ke arah anak perempuannya.
"Ya, namanya Kak Gra—"
Rio langsung menyumpal mulut sang adik dengan sandwich sebelum gadis itu memberitahu ayahnya, hal hasil itu membuat Emira tersedak dan buru-buru sang ayah memberikan air minum pada anak perempuannya itu.
__ADS_1
"Kalau lagi makan tuh, nggak boleh banyak bicara! Pamali!" Rio memelototi Emira agar menutup mulutnya rapat-rapat.
"Hai, kalian kok malah jadi berantem sih! Ayo cepat habiskan makannya, nanti semua pada telat!" ujar Windy yang menasihati anak tirinya.
Windy Septiana seorang janda memiliki dua anak, anak pertama perempuan masih sekolah di bangku SMK sedangkan anak ke dua meninggal setelah dilahirkan. Pernikahan Windy dan Joe baru dua minggu, dia menikah dengan ayahnya Rio karena bentuk tanggung jawab Joe.
Mobil Joe menabrak mobil Windy beserta anak perempuan yang saat itu ingin pergi ke bandara, saat itu Joe sedang bertengkar hebat melalui telepon genggam dengan ibu kandung Emira, sehingga konsentrasi Joe terganggu dan kecelakaan pun tidak dapat dihindarkan.
Kecelakaan enam bulan lalu, membuat Windy lupa ingatan dan anak perempuannya harus menjalankan operasi di bagian wajah dan juga kakinya. Selama masa pengobatan Windy dan sang anak membuat istri Joe langsung melayangkan gugatan cerai karena sudah mengira bahwa mereka adalah istri dan anak Joe yang selama ini ayah Emira sembunyikan.
Setelah Windy dinyatakan boleh pulang walaupun ingatannya belum pulih dan untuk menghindari fitnah, Joe menikahi Windy tapi mereka tidak mendapatkan restu dari kedua anak Joe. Hal itu membuat kedua anak Joe selalu mengabaikan Windy sebagai ibu kandungnya walaupun sikap Windy sangat baik memperlakukan ke dua anak Joe.
Sementara anak perempuan Windy tinggal di villa Ayahnya Emira untuk mendapat perawatan wajah yang cacat akibat kecelakaan. Dia tidak mau ikut pulang ke rumah Joe Mahendra dan bertemu dengan saudara tirinya sebelum joe menepati janji untuk memperbaiki wajahnya.
...----------------...
"El, itu adek ipar Lo, serius pacaran sama anak kelas sepuluh?" tanya Ernata penasaran.
"Tau, gue pusing lama-lama sama tuh anak!" Grael melipat ke dua tanganya di depan dada saat melihat Rangga terus memepet gadis belia tersebut ke mana pun Emira pergi.
"Eh, jemputan gue udah datang, gue duluan ya, El!" Ernata mencubit pipi Grael sebelum berlari kecil menghampiri mobil jemputannya.
"Hati-hati, Nat!" ucap Grael yang di lambaikan tangan oleh Ernata.
Tidak lama kemudian Irfan menghampiri Grael yang masih menunggu jemputan oleh Pak Beni, dia mendekat seraya berkata, "Hai, belum dijemput?"
Grael tersenyum kepada Irfan dan menjawab pertanyaan temannya itu, dia pun menanyakan balik kepada Irfan, kenapa Irfan tidak membawa mobilnya. Namun, belum sempat Irfan jawab Pak Beni sudah tiba lebih dulu.
__ADS_1
"Fan, gue duluan ya!" Grael hendak meninggalkan Irfan tapi dicegah oleh pria itu lebih dulu
"El, mau temani gue ke perpus sebentar? Ada yang mau gue tanyain sama Lo, soal ulangan besok." Irfan menahan tangan Grael agar Wanita itu tidak masuk ke dalam mobil.
Grael sempat terdiam sesaat, dia pun melirik Pak Beni yang menyuruhnya masuk ke dalam mobil, tapi Irfan memohon agar mengajarinya satu soal sebelum dia pulang.
"Please!" ucap Irfan yang memohon.
Sebelum menyetujui ucapan Irfan, Grael melihat ke arah Pak Beni sekilas dan menyuruh untuk menunggunya sebentar, tapi karena Pak Beni tidak mau membuat Tuannya marah, sopir pribadi Grael akhirnya mengizinkan istri Tuannya ikut bersama Irfan ke perpustakaan tapi bersama Pak Beni sebagai pengawas Grael.
Irfan hanya tersenyum getir, dan membiarkan sopir pribadi Grael mengikuti mereka pergi ke perpustakaan sekolah.
Sementara itu di dalam mobil, kedua pasangan kekasih sedang beradu mulut, saling mellumat bibir dan lidah mereka masing-masing sampai mereka terbakar gelora asmara yang mereka ciptakan.
Setiap lummatan yang Rangga berikan begitu lembut tapi penuh penekanan, dia mengabsen bibir Emira sampai gadis itu lupa caranya bernapas saat berciuman.
Tangan Rangga sengaja menekan tengkuk leher Emira agar memperdalam ciumannya, tangan satunya lagi dia gunakan untuk meremas jemari Emira, sedangkan sang gadis memeluk tubuh Rangga sembari meremas kepala Rangga menikmati ciuman lembut begitu panas.
"Putuslah dengan Steven secepatnya, Mir!" ujar Rangga yang masih mencumbu wanitanya di dalam mobil.
"Aakkh!" erangan Emira terdengar merdu di telinga Rangga saat pria itu memberikan tanda merah di leher Emira.
To be continued....
Halo, sobat readers, maap ya bila hari ini kurang feelnya, in sya Allah besok lanjut crazy up authornya masih sibuk RL karena lebaran 😂, mohon maaf lahir batin ya ... in sya Allah ada undian pls akhir bulan untuk readers yang dari awal ikutin cerita El dan Er, yang sudah kasih Komen tidak putus, like, hadiah, rate dan Vote.
salam manis untuk sobat readers maapkan author ya bila tulisan dan jalan cerita masih ammatir membuat kalian kesal 😂🙏
__ADS_1