
Mobil yang ditumpangi oleh Grael ternyata tiba di rumah utama secara bersamaan dengan mobil yang dibawa oleh Rangga, begitu Pak Beni ingin memarkirkan mobilnya, ternyata dengan cepat Rangga menyalip lebih dulu, hingga Pak Beni mengerem secara mendadak.
"Ya, Tuhan!" Grael memegang keningnya karena terbentur jok depan.
"Maaf, Nyonya!" ucap Beni yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Pak!" balas Grael yang mengerti bila Pak Beni tidak sengaja melakukannya.
Grael pun turun dari mobil dan berpapasan dengan Rangga saat ingin memasuki pintu utama, dia melihat raut wajah Rangga yang begitu tidak bersahabat.
"Ngga, lo—"
Belum juga Grael menyelesaikan ucapannya tapi Rangga berlalu begitu saja di hadapan Grael tanpa melihat ke arahnya. Perasaannya berubah menjadi kesal saat Rangga dengan angkuhnya mengacuhkan dia begitu saja, dia pun memajukan sudut bibirnya seraya mencibir Rangga dengan pedas.
"Iissh, so iye banget jadi Ipar!" Grael mengepalkan tangan seakan ingin memukul Rangga.
Langkah Rangga berhenti mendengar umpatan dari Grael, dia pun memutar balikan tubuhnya lalu menunjuk ke arah iparnya tersebut sembari mengeluarkan kata yang membuat Grael tambah kesal. "Lo, Ipar so cantik!"
"Emang gue cantik sih, Yee!" balas Grael, dia langsung mengibaskan rambutnya ke wajah Rangga lalu berjalan begitu saja.
Rangga memejamkan matanya seraya menghirup wangi aroma rambut Grael dalam-dalam, dia pun menelan saliva-nya seraya membuka mata lalu memasang senyum sinisnya.
Sementara itu, saat Grael ingin menaiki anak tangga, dia melihat Kylie sedang berbicara pada tamu yang ternyata membawa anak perempuan seusia dirinya, dia pun hanya tersenyum sembari menyapa dengan ramah.
"Loh, ini siapa Jeng?" tanya sahabat—Kylie.
"Oh, dia? Hanya mantu biasa," ucap Kylie dengan nada mengejek.
Grael yang mendengar ucapan mertuanya langsung berhenti melangkahkan kakinya untuk naik ke atas tangga, dia tersenyum sinis ke arah Kylie.
__ADS_1
"Oh, menantu pertama, maksudnya? Loh, kirain anak saya ini yang mau dijodohkan sama anak pertama Jeng!" tutur sahabatnya.
"Jessica? Ya, dia cocoknya sama Rangga! Nah, itu dia anak kebanggaan saya! Rangga, sini, Nak!" ucap Kylie yang membalas menatap sinis ke arah menantunya lalu beralih melihat ke arah Rangga yang baru saja tiba di dalam rumah.
"Rangga sibuk, Mih!" Rangga langsung menaiki anak tangga sembari merangkul tangan Grael agar tidak meladeni ucapan ibu kandungnya yang akan membuat wanita itu kesal sendiri.
"Eh, mantu! Jangan lupa buatkan minum!" tegur Kylie yang meninggikan intonasi suara agar terdengar dengan Grael.
Grael sempat menengok sesaat lalu melihat ke arah Rangga ketika Rangga memberitahu pada dia, bahwa jangan mendengarkan ucapan sang Ibu.
"Biar itu urusan, maid!" timpal Rangga yang mengingatkan Grael.
Begitu sampai di kamar Rangga, Grael pun melepaskan rangkulan dari iparnya itu. "Jangan so akrab!" Grael masih kesal dengan Rangga, dia pun pun memajukan bibirnya seperti anak kecil, seraya berkata. "Apa lihat-lihat?"
"Eh, pecel Lele ... siapa yang sok akrab? Lagian serah gue, mata, mata gue! Bukannya terima kasih, gue bantuin malah marah-marah!" Rangga menyentil kening Grael dengan keras.
"Aak! Sakit ... Rangginang!" Grael ingin membalas sentilan Rangga tapi pemuda itu langsung menjulurkan lidahnya dan menutup pintu saat dirinya langsung masuk ke dalam kamar sebelum mendapat amukan dari iparnya.
Grael pun menghentakkan kakinya lalu meninggalkan pintu kamar Rangga dan berniat masuk ke dalam kamar, tapi belum sempat Grael membuka pintu sudah ditarik lebih dulu oleh sang mertua.
"Ngapain sih, kamu masih godain anak saya? Kegatelan!" bentak Kylie.
"Mami Kylie, saya tidak menggoda anak Mami! Rangga dulu—"
"Akkh, sudah, sudah, sudah! Saya tidak mau mendengar alesan kamu, mending kamu buatkan minuman untuk tamu saya!" Kylie mengibaskan kedua telapak tanganya untuk menghilangkan suara Grael dari wajahnya.
Grael menarik napas pelannya lalu memutarkan bola matanya sebelum dia mengucapkan, "Mih, kan ada Mbak Lala, maid Mami. Kenapa mesti aku?"
"Heh! Kamu itu yang sudah menyebabkan maid Kesayangan saya masuk penjara! Lagian kan kamu menantu saya, wajar dong bila saya menyuruh menantunya ...," sindir Kylie dengan sebelah sudut bibir naik ke atas.
__ADS_1
"Jadi, Mami sudah anggep aku menantu? Kalau gitu, Mami juga sudah anggep Kak Erlangga anak Mami juga dong?" Grael kembali menyindir Kylie yang ternyata hanya menganggapnya menantu di saat maunya saja.
"Terserah mau kamu bilang apa! Dah, buruan sana buatkan minuman untuk tamu saya! Ingat nggak pake lama!" ucap Kylie yang mendorong Grael agar turun kembali.
Grael pun mau tidak mau membuatkan minuman untuk tamu mertuanya. Sembari mengaduk teh yang dia buat, dia juga meniup ke atas cangkir itu setelah membacakan mantra agar sahabat Kylie menolak perjodohan anaknya dengan Rangga.
Grael melakukan itu semata-mata bentuk rasa perhatiannya sebagai ipar Rangga yang sedang berusaha untuk bertanggungjawab pada Emira, dia tidak mau bila Rangga bersama gadis itu.
Nampan yang berisi air minum untuk kedua tamu Kylie serta cemilan yang dia buat sendiri, Grael letakan di atas meja satu persatu. Dengan ramah Grael tersenyum sembari berkata, "Silahkan dinikmati teh manis dan cemilannya!"
"Ternyata menantu pertama keluarga Louis masih sekolah?" sahabatnya Kylie memperhatikan penampilan Grael dari atas sampai bawah.
"Ya, gitu deh Jeng!" jawab Kylie yang menyuruh Grael untuk naik ke atas karena tugasnya telah selesai.
"Saya permisi dulu!" ucap Grael dengan tutur bahasa sehalus mungkin.
Grael pun langsung masuk ke dalam kamar, dia melempar tasnya ke atas kasur lalu merebahkan tubuhnya di samping tas, dia rentangkan kedua tangan sembari memejamkan mata. Pikiranya melayang tentang sang suami yang berdekatan dengan Sherly.
Dalam beberapa detik Grael mengambil ponselnya dan menekan tombol nomor sang suami, sangat terlihat jelas pada layar ponselnya bila bacaan berdering. Namun, panggilan video call-nya belum juga di angkat.
"Halo?" jawab seberang telepon yang ternyata seorang wanita yang mengangkatnya.
"Loh, kenapa kamu yang angkat telepon?" Grael langsung bangun dari tidurnya.
"Maaf, Pak Erlangga nya sedang berada di kamar mandi, tuh! Ada apa ya? Nanti biar saya sampaikan!" Sherly tersenyum manis sembari merapihkan lipstik yang belepotan dan mengancingkan baju bagian atasnya.
"Tidak perlu disampaikan karena ini privasi suami istri antara Erlangga dan saya!" ucap Grael, dia menahan amarahnya dengan mengepalkan tangan dan tiba-tiba Erlangga memanggil sekertaris itu dari dalam kamar mandi.
"Oh, oke ... kalau gitu, saya matikan dulu ya, Pak Erlangga sudah memanggil saya!" ucap Sherly yang mengejek.
__ADS_1
"Eh, dasar sekertaris nggak tahu diri! Awas ya, kalau bener kalian bermain di belakangku, akan kupastikan Juniormu aku jadikan umpan ikan!" Grael melempar ponselnya ke atas meja belajarnya.
To be continued...