
"Hai, Kak!" Senyum Rangga ketika menyapa Erlangga dengan ramah agar tidak salam paham.
"Tiga puluh menit cuma bikin teh?" tegur Erlangga ketika dia melihat jam ditangannya.
Rangga pun angkat tangan, seraya tidak mau ikut campur dan berniat ke kamarnya, tetapi Erlangga menarik bahu Rangga agar tetap di posisinya.
"Segitunya masih susah move on, sampai kulkas jadi korban cabul, Lo?" Erlangga melihat sang adik yang tidak memakai baju dan hanya memakai celana bokser.
Grael menahan tawanya saat mendengar ucapan sang suami, ternyata Erlangga mendengar semuanya sehingga dia tidak perlu takut bila suaminya salah paham terhadap dia dan Rangga.
"Wah, wah, wah, penghinaan, Lo Kak! Lo sama kaya istri, Lo! Gila, masa iya gue sama kulkas! Yang bener aja, Lo Kak!"
tangkis Rangga yang kesal dengan Erlangga, dia pun hendak melangkah lagi tapi Kakaknya menyuruhnya untuk duduk dan memperhatikan dia membuat teh yang benar.
Grael dan Rangga seakan menjadi murid Erlangga ketika melihat begitu ahlinya gerakan Erlangga seperti sekarang chef saat membuat minuman, tidak perlu membutuhkan waktu lama minuman teh yang diracik oleh Erlangga telah jadi.
Erlangga menyodorkan di hadapan Rangga dan juga Grael untuk mencicipinya, dan membandingkan minuman yang dibuat oleh Rangga.
"Hmm ... enak, Kak!" ujar Grael saat minum buatan sang suami. Erlangga pun tersenyum seraya mengelap sudut bibir Grael agar tidak belepotan.
"Terus ae, pamer!" kesal Rangga yang langsung meminum teh buatan kakaknyayang masih panas membuat bibirnya kesakitan. "Panas-panas!"
__ADS_1
Erlangga pun tertawa seraya mengusap kepala Rangga seperti anak kucing, tentu hal itu membuat Grael terkejut apalagi dengan Rangga, menyadari perbuatannya yang refleks mengacak rambut adiknya, Erlangga langsung mengganti topik.
"Mau cemilan malam?" tawar Erlangga yang membuka lemari pada kitchen set, lalu mengeluarkan satu bungkus makanan yang akan dia sulap menjadi makanan yang menggiurkan.
"Mau," ucap Grael yang semangat.
Melihat senyum Grael, bisa Rangga rasakan bila wanita yang hampir menjadi istrinya sudah melupakannya dan mencintai Kakaknya dengan tulus, hatinya pun sekarang tidak sakit melihat kebahagian mereka. Kali ini Rangga benar-benar sudah mengikhlaskan wanita yang ada di sampingnya bahagia bersama pilihannya.
Setiap kali Erlangga menunjukan aktraksi memasaknya, entah itu memotong sayuran atau mengaduk makanan yang berada di atas kuali, dia mendapat suara tepukkan tangan dari istri dan adiknya.
Begitu hidangan telah tersaji, Erlangga langsung menyuapi sang istri seraya membalas senyuman Grael. Dia pun memasukan makanan ke dalam mulutnya dengan sendok yang sama bekas Grael.
Berbeda dengan Rangga yang langsung lahap menyantap makanan yang di masak oleh sang kakak, baru kali ini dia makan masakan buatan sang kakak.
"Sejak kapan Kakak menyukainya?" tanya Rangga yang mengambil minuman kaleng bersoda.
"Sejak dia tertawa memetik bunga diladang kebun Papi!" Erlangga mengambil minuman dari tangan Rangga.
"Jadi dia, kelinci kecil yang Lo namain? Sepertinya memang benar, gue yang telah merebut cinta pertama Lo!" ujar Rangga yang menenggak minuman bersoda.
"Baru sadar?" Erlangga menaikan satu alisnya dan menatap ke arah Rangga.
__ADS_1
"Ya ... biar bagaimanapun juga, gue nggak salah! Mana gue tahu, kalau dia kelinci kecil, lo!" ujar Rangga yang masih dengan pendiriannya.
Erlangga tertawa mendengar penjelasan dari adiknya, dia pun bertanya, "Kapan mau kenalin Emira?"
Baru Rangga menenggak minuman, tetapi dia sudah tersedak dengan pertanyaan dari sang kakak ketika menyebut nama Emira.
"Kakak kenal Emira?" tanya Rangga.
"Tentu, sangat dekat, apalagi kekasihnya yang bernama Steven! Dia bukan sembarang orang! Kalau kamu mau merebutnya, kamu harus punya skil yang lebih tinggi dari dia!" Erlangga menepuk bahu adiknya lalu membopong sang istri untuk dipindahkan ke dalam kamar.
Rangga termenung sejenak, mencerna kata-kata dari kakaknya sampai dia menyadari bahwa tinggal dia sendiri yang berada di dapur.
"Kak, tunggu dulu! Gue masih belum ngerti maksud Lo, apa?" Rangga mengejar Erlangga menaiki anak tangga.
"Tidurlah sudah malam!" Erlangga menyuruh Rangga untuk masuk ke dalam kamarnya dengan lirikan mata.
"Kak, gue nggak bakal bisa tidur kalau belum tahu! Lo, buat gue penasaran ... Lo kenal Emira di mana? Lo, nggak suka kan sama dia? Jangan bilang Lo pernah suka sama dia!" cecar Rangga dengan begitu banyak pertanyaan sembari mengekori sang Kakak masuk ke dalam kamar.
Begitu menaruh Grael di atas kasur Erlangga mendorong Rangga keluar. "Kalau Lo, mau dapetin Emira, Lo ambil dulu hatinya Rio!"
Usai memberi bocoran pada sang adik, Erlangga langsung menutup pintu kamar. Dia membiarkan Rangga termenung di luar pintu kamarnya, mencerna setiap ucapan yang dia lontarkan.
__ADS_1
To be continued...