Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
175. Masalah beasiswa


__ADS_3

"Maaf ya, menunggu lama, maklum kakaknya Emira pemalu," ucap Windy seraya memperkenalkan anaknya. "Bella ini keluarga Louis calon suami Emira!"


"Ala, pemalu ... penampilan kampungan aja, bangga! Dasar norak masa baju dan penampilan aja samaan, kaya gak punya style aja!" batin Kylie saat menunjukkan topeng sandiwaranya.


Bella dengan senyum manisnya dengan malu-malu mengulurkan tangannya ke arah kedua orang tua calon mertua Emira. Dia pun sedikit memainkan taktik lagunya dihadapan Joshua dan juga Kylie.


"Bella," ucap Bella yang mengembangkan senyuman termanisnya seraya mengulurkan tangan ke arah Rangga.


Rangga membalas uluran tangan Bella seraya tersenyum. "Rangga."


Emira menatap mata Rangga dengan perasaan yang tidak senang, bibirnya pun mengurutcut seperti anak kecil ketika merajuk. Dia langsung membuang pandangan saat kedua bola matanya bertemu dengan Rangga.


Mereka pun menikmati makan malam bersama seraya membahas soal pernikahan yang diundur, keluarga Rangga sudah menetapkan tanggal pernikahan jatuh pada minggu depan dan tidak bisa diundur kembali karena melihat kondisi Bella yang sudah membaik.


Semua pada setuju tentang keputusan tersebut, terutama Rangga karena dia yang meminta kepada kedua orang tuanya untuk tidak memundurkan jadwal pernikahan yang sudah ditetapkan.


Mendengar kabar berita tersebut bila rangga akan menikah dengan kamera seminggu lagi, bella langsung tersebut dengan makanannya. Sontak kedua orang tuanya panik dan bergegas untuk memberikan air minum secara bersamaan.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Windy.


"Nggak apa-apa, Ma. Maaf!" ucap Bella yang merasa bersalah.


"Gak pernah makan steak beef, ya? Mangkanya keselek! Lidah kok ikut kampungan!" batin Kylie yang terus memberikan umpatan pada ibu dan anak tersebut.

__ADS_1


Usai mereka makan bersama, mereka pun berpindah tempat ke ruangan keluarga. Di sana mereka menanyakan soal semua persiapan pernikahan, mulai dari catering makanan, MUA, sampai dengan kartu undangan. Ya, semua dipersiapkan secara matang walaupun mereka tidak mempublishnya karena kondisi Emira yang masih sekolah dan hanya orang terdekat saja.


Sama halnya seperti dengan pernikahan Erlangga dan juga Grael, yang dirasakan dari publish, usai itu mereka pun mengadakan jumpa pers.


"Loh, Pah? Undur aja dulu, setahun! Kasian Emira, masih sekolah ... ya kan Emira?" ujar Bella, dia memegang bahu adik tirinya saat duduk di sampingnya.


"Kita nggak sedekat itu!" Emira tersenyum ke arah Bella, ucapannya begitu pelan tetapi mampu menusuk telinga kakak tirinya itu.


Joshua pun ikut angkat bicara, dia tidak mau menunda-nunda lebih lama lagi. Dia ingin keduanya segera cepat dinikahkan karena dia tahu betul sikap anak sulungnya itu seperti apa, Joshua tidak mau bila Rangga menambah air yang akan menjatuhkan nama baik grup jaya.


Begitu juga dengan Kylie, entah angin apa yang masuk ke pikiran akal sehatnya membuat dia ingin cepat-cepat menikahkan Rangga dengan emira. Apalagi kalau bukan karena harta warisan, dia ingin Rangga segera memberikannya cucu, tidak peduli dari rahim siapa yang jelas dia ingin seluruh harta warisan grup jaya Louis jatuh ke tangannya melalui sang cucu.


"Kalau bisa, saya ingin besok kalian menikah!" canda Kylie yang tertawa. Semua orang pun ikut tertawa dengan ucapan Kylie, terasa berbeda dari wanita paruh baya itu begitu hangat menyambut calon menantunya emira dengan senang hati.


Setelah menemui klien penting Erlangga dan sang istri pulang ke rumah, selama perjalanan itu pula mereka membahas tentang beasiswa kuliah Grael. Erlangga berharap agar sang istri tidak pergi meninggalkannya.


"Sayang, kamu marah?" tanya Grael.


"Nggak, serah kamu! Itu impian kamu kan?" ucap Erlangga dengan nada dingin.


Ucapan Erlangga membuat hatinya sakit, padahal Grael berharap bila suaminya memberikan ucapan selamat atas beasiswa yang didapat ke luar negeri. Akan tetapi, Erlangga justru seakan-akan tidak senang bila dia mendapatkan beasiswa tersebut.


Grael meremas kuat ponsel yang dia genggam, apakah salah jika dia menginginkan beasiswa tersebut? Grael hanya ingin meraih impiannya untuk bisa setara dengan Erlangga. Dia tidak mau bila sampai orang menilai bila dirinya tidak bisa memberikan apa-apa untuk Erlangga, tidak sebanding dengan Erlangga.

__ADS_1


Ya, hanya memendam rasa kekecewaan dan kesedihan, dia berharap sang suami mau mengerti dirinya. Setidaknya terlalu bisa setara dengan Erlangga agar tidak membuatnya malu.


Sesampainya di rumah Grael melihat Erlangga masuk lebih dulu meninggalkannya dia masih berada di mobil, langkahnya sungguh berat belum lagi tentang masalah kehamilan. Ini membuat dirinya benar-benar frustasi.


Pada saat di dalam kamar, Erlangga masih mendiaminya, suaminya itu lebih memilih untuk tidur lebih dulu meninggalkannya yang masih terjaga. Apakah dia akan baik-baik saja ketika dia menolak beasiswa tersebut dan hanya menjadi ibu rumah tangga yang sampai saat ini pun belum memberikan keturunan untuk sang suami.


Tidak, Grael tidak mau seperti itu. Apalagi dengan status Erlangga yang saat ini adalah public figure, semua orang mengetahui identitas sang pewaris. Dia harus bisa menyesuaikan dirinya dengan sang suami agar tidak mencoreng jelek pewaris grup jaya.


"Kak, maaf bila aku terpaksa menerima beasiswa tersebut! Aku harap Kak Erlangga mau mengerti," ucap Grael yang berbicara saat tangan yang memeluk tubuh Erlangga dari belakang.


Erlangga yang mendengar itu menahan emosi dan amarahnya ketika sang istri nekat memilih untuk menerima beasiswa tersebut, hatinya kesal kenapa Grael tidak menolak beasiswa itu dan memilih untuk menjadi istri yang menurut di rumah?


Jam menunjukkan pukul 01 : 30 wib, Erlangga masih belum bisa memejamkan matanya, dia melihat ke arah sang istri yang sudah tertidur lelap di sampingnya. Wajah cantik dan ayu itu membuat dia terlena begitu juga dengan sikapnya, sikap yang dimiliki oleh sang istri sungguh luar biasa hingga menyentuh relung hati.


"Kenapa kamu memilih untuk pergi, El? Apakah salah bila aku menginginkan kamu tidak untuk pergi? Aku tahu aku egois, tapi aku hanya ingin setiap aku pulang kerja kamu selalu menyambutku dengan hangat, menungguku dengan manis! Aku tidak mau jauh dari kamu, El!" ucap Erlangga dalam hati saat tangan tanya mengusap pipi lembut Grael.


Erlangga mengecup kening sang istri seraya memeluk tubuh mungil itu, pantas dia pun kepikiran untuk menelpon Yogi. Dia menanyakan tentang jadwal dia selama sebulan ke depan agar dia bisa memiliki planning ketika istrinya itu benar-benar akan pergi meninggalkannya.


"Atur jadwal selama sebulan ke depan, kosongkan selama tiga hari setiap bulan berturut-turut. Aku tidak mau kamu mengacaukannya!" Perintah Erlangga kepada asisten pribadinya lantas menutup panggilan telepon tersebut.


"Hanya ini yang bisa aku lakukan, Sayang!" ucap Erlangga yang mengeratkan pelukannya. Dia benar-benar berharap bila istrinya tersebut mau membatalkan untuk pergi.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2