Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
36. Kedekatan Rangga dengan Veby


__ADS_3

Suara klakson dari setiap kendaraan yang saling sahut menyahut menjadi ciri khas tersendiri di kala macet, sangat terlihat jelas di mata Grael yang saat ini tengah duduk di kursi penumpang bus sekolah.


Pagi ini memang sengaja Grael datang ke sekolah lebih pagi, demi menghindar dari rasa menunggu dijemput oleh Rangga. Grael yang duduk didekat jendela mencoba untuk melihat pemandangan kepadatan kendaraan di pagi hari.


Sesampainya di sekolah, Grael mencoba pergi ke perpustakaan sendiri, karena hari masih terlalu pagi dan sahabatnya yang bernama Ernata itu pun belum terlihat batang hidungnya. Namun, pada saat langkah kakinya menuju arah perpustakaan. Dia melihat dari lantai dua, bahwa mobil Rangga baru saja tiba di parkiran.


Tertangkap sosok wanita yang dia kenal, dia adalah Veby yang baru saja turun dari mobil Rangga. Hatinya begitu kecewa dengan sikap Rangga, tapi untuk saat ini tidak terlalu sakit melihat mereka berdua berjalan beriringan. Apa karena dia juga selingkuh dari Rangga?


Menikmati cumbuaan dari Erlangga? Itulah yang Grael rasakan saat ini. Dia pun melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan dan bertemu dengan Irfan yang sedang duduk didekat jendela. Semenjak Irfan sudah merelakan Grael bersama Rangga, dia lebih fokus untuk belajar kenaikan kelas nanti.


"Serius amat bacanya," ucap Grael.


"Biasa aja, loh sendiri gak sama Rangga?" tanya Irfan yang berbisik didekat. Namun, Grael hanya terdiam.


Tidak lama kemudian, Rangga dan Veby datang, Irfan dan Grael pun melihat ke arah mereka yang baru saja masuk ke perpustakaan sembari bercanda, tetapi mereka tidak melihat ke arah Irfan dan Grael.


"Ngga—"


Irfan berniat memanggil Rangga tetapi Grael sudah menarik tangan Irfan agar tidak memanggilnya, Irfan pun melihat sikap Grael dengan curiga tetapi Grael mengalihkannya dengan cara bertanya pada Irfan.


"Ini gimana sih, gue masih gak ngerti." Grael menunjuk soal matematika kepada Irfan.


"Lo lagi gak ngeledek gue kan, El?" Ifan bingung kepada Grael, pasalnya anak dengan IQ di atas rata-rata bertanya pada dia yang hanya memiliki IQ yang pas-passan.


"Gue serius," ucap Grael yang meremas ujung buku perpus saat melihat Veby tanpa bersalah menggandeng tangan Rangga di muka umum, yang semua orang tahu bahwa Rangga adalah tunangannya.


"Lo, lagi gak berantem sama Rangga, kan?" tanya Irfan yang melihat ke arah Rangga yang sedang berjalan ke arah meja mereka.


"Fan, anterin gue ke toilet, yuk!" Grael menarik lengan Irfan agar segera bangun dari duduknya.


"Toilet?" tanya Irfan yang tambah heran dengan sikap Grael, bagaimana bisa Grael memintanya menemani dia ke toilet sedangkan dia dan Grael berlawanan jenis.

__ADS_1


"Loh, mau kemana?" tanya Rangga dengan senyuman tanpa dosa kepada Grael dan Irfan. Matanya pun melihat tangan tunangannya itu megang lengan Irfan, sontak Irfan melepaskan tangan Grael dari lengannya agar tidak terjadi salah paham.


"Nah, Lo minta sama Ve—"


"Aaakkh ... aaww, aaaw!" teriak Irfan yang merasa kesakitan mendapat cubitan dari Grael di pinggangnya, sontak mereka mendapat teguran dari petugas perpustakaan agar tidak berisik.


Grael pun memilih untuk duduk kembali bersama Irfan, sedangkan Veby dengan Rangga. Kini dengan wajah liciknya, Veby membalas rasa sakitnya pada mantan sahabatnya itu secara pelan-pelan.


"Ngga, yang ini aku masih belum ngerti," ucap Veby dengan manja tapi Rangga menyuruh Veby agar bertanya dengan Grael.


"El, yang ini gimana sih?" tanya Veby, Grael pun mau tidak mau menjelaskan kepada Veby secara perlahan dan benar. Namun, Veby masih saja tidak mengerti, dia pun meminta Rangga untuk menjelaskan.


Rangga pun menjelaskan secara bertahap pada Veby, dan di anggukan oleh dia. "Oh, sekarang gue paham, tadi sama Grael gue kurang paham!"


"Dari tadikan gue juga udah ngenjelasinnya gitu kali!" sahut Grael yang mendapat teguran kembali dari petugas perpustakaan dan Grael kali ini lebih memilih untuk keluar.


Rangga pun berniat menyusul Grael tapi Veby menahannya. "Ngga, gue masih takut!"


***


Jam pulang sekolah, Ernata yang hari ini tidak masuk sekolah karena alasan keluarga, membuat Grael kurang semangat berada di sekolahan. Dia pun melihat Veby yang masuk ke dalam mobil Rangga dan mobil itu berjalan keluar saat Grael bersembunyi dibalik dinding sekolah.


Begitu mobil Rangga pergi, Grael pun keluar dari persembuyiannya agar tidak terlihat oleh Rangga. "Ngapain, gue sembunyi?"


"Aduuhh ... kasian, Upik Abu kalah saing sama anak korup," celetuk salah satu siswa yang melihat Grael di tinggal oleh tunangannya.


Grael hanya terdiam saat beberapa siswi menertawainya, Irfan yang melihat dari kejauhan berlari ke arah Grael agar bisa pulang bersama tapi belum sempat dirinya dekat, Lucy dan Sylvia mendekat ke arah Grael.


"Lo gak apa-apa?" Lucy merapihkan anak rambut Grael yang berantakan akibat ulah beberapa siswi.


"Thanks, gue gak apa-apa kok!" ucap Grael tersenyum.

__ADS_1


"Lo tuh bego atau gimana si? Tunangan Lo direbut sama anak korup diam aja!" bentak Sylvia, dia mendapat senggolan dari Lucy.


"Sorry, gue gak bermaksud untuk—"


"Gak apa-apa, ya udah gue duluan ya, thanks sekali lagi!" Grael tersenyum dan pergi meninggalkan Lucy dan Sylvia.


Suara klakson berbunyi, terlihat jelas raut wajah Irfan saat sang pemilik mobil membuka kaca mobil dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam.


"Gak gratis loh," ucap Irfan sembari tertawa.


"Tenang! Berapa?" sahut Grael dengan nada bercanda.


"Gak mahal kok, cukup balas cinta Abang aja!" Irfan melajukan mobilnya dan hanya dibalas candaan oleh Grael.


Mobil pun berjalan menuju rumah Grael, sesampainya di depan rumah gadis itu, Grael pun mengucapkan rasa terima kasih kepada Irfan. Mata Irfan tertuju pada pergelangan tangan Grael, dia pun menahan tangan Grael dan melihat gelang yang dipakai oleh gadis itu.


"Safira," ucap Irfan.


"Hah?" tanya Grael yang bingung dengan ucapan Irfan.


"Ah, gak ... gelangnya bagus, dari Rangga?" tanya Irfan yang memastikan gelang yang dipakai oleh Grael.


"Bukan, cuma hadiah pemberian dari teman," jawab Grael dan Irfan pun langsung tersenyum sebagai tanda mengerti.


Di saat itu juga, tiba-tiba Rangga mengetuk kaca mobil Irfan dengan aura yang kesal. Irfan pun melepaskan tangan Grael dan membuka kaca mobil yang ada di samping Grael.


"Turun!" pinta Rangga dengan intonasi yang sedikit menekan.


Grael melirik ke arah Irfan sebelum dia membuka pintu mobil. Akan tetapi, Rangga yang tidak sabar menanti sang gadis turun, terpaksa membuka pintu mobil dan menarik paksa Grael untuk turun.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2