
Matahari mulai merangkak naik dengan tegak, menandakan jam istirahat sekolah yang ke dua telah tiba, Grael dan kedua temannya, kini berada di kantin utama sekolah, sembari menikmati makan siang mereka yang sudah disediakan dari pihak sekolah, Veby sibuk membicarakan artis idola mereka yang bernama Erlangga Louis.
"Ya ampun ... liat deh, Bew. Ganteng banget!" Veby memperlihatkan video kepada kedua sahabatnya saat Erlangga mengikuti reality show.
"Astagfirullah, gantengnya calon suami orang!" celetuk Ernata yang tidak terlalu ngefans kepada Erlangga.
Veby pun menyenggol lengan Grael, saat Ernata mengucapkan istighfar tanpa sadar. Grael pun hanya tersenyum menjawab senggolan dari Veby, pikirannya masih terfokus oleh kejadian tadi pagi saat Rangga mencium keningnya.
'Astaga ... lupain El, itu cuma kecelakaan yang tidak disengaja!' Grael menepuk pipinya sendiri agar tersadar dari kehaluannya.
Ernata dan Veby langsung terheran dengan sikap sahabatnya itu, mereka merasa aneh dengan tingkah Grael semenjak tadi pagi ketika dia tidak terlambat datang ke sekolah.
"Kayanya tuh anak, mending datang terlambat deh, Bew! Dari pada gak terlambat." Ernata memasang mimik wajah yang ketakutan.
"Kesambet kali, waktu di jalan," bisik Veby yang merasa takut dengan tingkah Grael.
"Hai, boleh kita ikut gabung?" tanya Irfan yang memotong pembicara Veby dan Ernata, dia membawa nampan nasinya sembari melihat ke arah Grael yang sedang pokus makan.
"Boleh," sahut Ernata yang menggeser tempat duduknya.
Sudah menjadi hal biasa saat Irfan memilih untuk duduk di samping Grael, sedangkan Anjas memilih untuk duduk di samping Ernata. Veby yang duduk di pinggir merasa kecewa saat Rangga memilih untuk duduk di samping Grael.
"Lagi nonton apa si?" tanya Anjas yang penasaran kepada kedua gadis yang ada di sampingnya terus tersenyum saat makan.
"Ala ... gantengan juga gue," elak Irfan yang melihat Erlangga sedang melangsungkan siaran langsung di salah satu televisi swasta.
"Nah, bener banget! Kali ini gue setuju sama loe." Grael langsung menjentikan jari telunjuk dan jempolnya hingga berbunyi.
Mendengar perkataan Grael yang lantang dan juga penuh emosi, Rangga yang duduk berada di sampingnya menjadi tersendat, begitu juga dengan teman-teman yang lainnya terutama Ernata dan Veby yang tercengang.
"Astaga, Ngga ... loe gak apa-apa?" Veby langsung berdiri memberikan segelas air minum kepada Rangga.
Grael yang melihat raut wajah Veby begitu khawatir terhadap Rangga, menjadi cemburu. Ada sedikit rasa yang aneh melihat sikap Veby begitu pengertian kepada Rangga.
'Apa Veby suka sama Rangga, ya?' batin Grael.
"Thanks, biar gue aja." Rangga mengambil tisu yang baru dan melirik ke arah Grael.
Kedua sahabat Grael tidak percaya, bila sang sahabat bisa berbicara seperti itu. Mereka pun menanyakan ucapan Grael, pasalnya gadis yang duduk di samping Rangga dan Irfan itu adalah penggemar berat Erlangga Louis.
"El, jangan bilang loe sama Irfan udah jadian?" tebak Ernata yang lagi-lagi membuat Rangga tersedak makanan.
Veby pun kembali ingin memberikan Rangga minum, tapi dengan cepat Rangga menolak perhatian dari Veby, gadis itu pun merasa kecewa dan memilih untuk duduk kembali. Rangga yang masih tersedak memilih meminum gelas Grael tanpa ada yang menyadari, termasuk pemiliknya.
"Fan, loe serius udah jadian sama Grael?" tanya Anjas.
"Maunya sih gitu, tapi doi belum kasih lampu ijo!" ucap Irfan yang tersenyum ke arah Grael.
__ADS_1
Grael menarik kuping Irfan sembari tertawa, dia sudah tidak canggung lagi, ketika Irfan memberitahu bahwa dia tidak akan memaksa perasaannya.
"Terima bew, kasian! Udah ganteng, kapten basket, ketua OSIS pula," ucap Veby yang memberi saran.
"Nah kan, tajir lagi!" timpal Ernata.
Sontak membuat orang yang berada disatu meja dengan Grael menjadi tertawa, tapi tidak dengan Rangga, dari awal datang dia tidak mengucapkan satu kata pun.
"Terima El, kasian ... cape gue, dengerin curhatan dia mulu tiap malam, karena belum diterima sama loe!" pinta Anjas.
"Dah, terima!" timpal Ernata dan dilanjuti oleh Veby.
Grael hanya tersenyum melihat candaan dari temannya, dia melirik Irfan sekilas yang sudah menunggu jawaban dari gadis pujaannya. Grael melihat ketulusan dan kesabaran dari sosok Irfan selama ini, anak yang baik dan juga pengertian.
Bohong jika Grael tidak mengagumi sosok Irfan yang sempurna dari fisik maupun latarbelakang nya, dia sangat bersyukur karena Irfan memiliki perasaan suka terhadapnya, tapi Grael sadar. Dia hanyalah Gadis biasa dengan latarbelakang yang sederhana, dia bisa masuk ke sekolah impiannya ini karena berkat prestasi mendapatkan beasiswa.
Itulah alasan kenapa Grael masih belum menerima cinta Irfan dan termasuk soal cinta pertamanya yang tiba-tiba muncul, di saat dia ingin membuka perasaan kepada orang lain. Namun, Grael pun berpikir kembali. Bahwa sampai kapanpun dia tidak akan bisa menggapai cinta pertamanya.
"Fan, gue—”
Belum sempat gadis itu melanjutkan ucapannya untuk mencoba menerima Irfan, Rangga sudah memegang tangan Grael dengan lembut, sontak gadis itu terdiam sejenak melihat ke arah Irfan yang sudah menunggu jawaban dari dia.
Grael sangat terkejut saat tangan kanannya yang berada di kolong meja makan digenggam erat oleh Rangga, dia pun menengok ka arah tanganya untuk memastikan sesuatu yang membuatnya berdegup kencang.
Ternyata benar, saat Grael beralih melihat ke arah Rangga, pemuda tampan itu tersenyum manis ke arah Grael dan semakin erat menggenggam tangannya.
"Ah, ha ... ehmm ... ya, kita—”
Rangga semakin mengeratkan genggamannya, agar Grael tidak menerima cinta Irfan. Dia tidak mau bahwa usahanya untuk pindah sekolah menjadi sia-sia.
"Kita temanan aja dulu, gak apa-apa kan?" Grael membuat kedua temannya merasa kecewa, apalagi Irfan yang memasang wajah kecewanya.
'Dulu ... DULU!' kesal Rangga dengan jawaban Grael dalam hatinya, karena dia ingin Grael langsung menolak Irfan.
"Dah ... gak apa-apa, Fan ... kan Grael bilangya temenan dulu, loe pepet aja terus, entar juga dia klepek-klepek. Ya gak, Ngga?" tanya Anjas ke Rangga.
"Ah? Hmm," jawab Rangga yang tidak mau berkomentar.
"Iya, dia kan masih cinta mati sama cinta pertamanya, siapa tuh namanya? Gue lupa." Veby yang keceplosan langsung disumpal mulutnya oleh Grael dengan potongan apel.
"Ra—"
Belum sempat Ernata menyebut nama seseorang, mulutnya sudah dibekap terlebih dulu oleh Grael. Di saat itu pula, bel masuk berbunyi, Grael dan teman-temannya pun segera bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kelas.
***
Pulang sekolah.
__ADS_1
Warna langit yang begitu cerah, perlahan mulai menampakkan kilau senjanya. Grael yang tergesa-gesa saat jam pelajaran telah usai, langsung membereskan bukunya dan berpamitan kepada teman-temannya untuk pulang lebih cepat.
Hari ini, pertama dia mejalani hukuman sebagai asisten pribadi Erlangga, dia harus tepat waktu sebelum jam lima sore. Jarak dari sekolah ke hotel tersebut memerlukan waktu satu jam.
Grael yang berlari menuju gerbang, tiba-tiba tidak sengaja menabrak Irfan yang baru saja keluar dari kelasnya, hingga tabrakan itu tidak dapat dihindari.
"Aaaw!" keluh Grael yang terjatuh di atas tubuh Irfan.
Anak-anak murid lainya yang melihat kejadian itu tertawa saat Grael jatuh bersama Irfan, Rangga yang melihat kejadian tersebut langsung membantu Grael untuk bangun.
"Aduh, Fan ... sorry ya? Gue gak sengaja, loe gak apa-apakan?" tanya Grael yang merasa bersalah.
"Gak apa-apa, loe gimana? Ada yang sakit?" tanya Irfan khawatir, sontak membuat yang lain pada besorak.
"Cie ... Abang Irfan ditabrak bidadari tidak bersayap," celetuk salah satu temannya.
"Gak apa-apa, kok! Ya udah, gue duluan ya?" ucap Grael yang ingin melangkah pergi. Namun dicegah oleh Irfan.
"Biar gue yang anter," tawar Irfan kepada Grael tapi sang empu justru menolaknya.
Grael yang tanpa menoleh ke arah Rangga, membuat pemuda itu merasa kecewa. Dia pun segera mengambil mobilnya untuk menyusul Grael.
"Masuk!" pinta Rangga saat melihat Grael yang sedang menunggu ojek online.
Langkah kaki Grael ragu untuk masuk ke dalam mobil Rangga, tapi sang empu terus memintanya untuk segera masuk. Akhirnya, Grael memutuskan untuk masuk ke dalam mobil Rangga.
"Kemana?" tanya Rangga saat dia sudah selesai memakaikan sabuk pengaman pada gadis itu.
"Hotel Bintang Sepuluh." Grael menjawabnya dengan pelan.
Rangga pun menjalankan mobilnya, suasana di dalam mobil menjadi sedikit canggung saat dia mengingat Rangga mencium keningnya, rasa penasaran dalam hati tiba-tiba muncul dan ingin bertanya.
Satu pertanyaan Grael berhasil lolos dari bibirnya, ketika menanyakan soal Rangga yang pindah sekolah, sampai maksud arti dari ciuman di mobil serta menggenggam tangannya.
Rangga tersenyum mendengar pertanyaan dari Grael, dia pun menceritakan dengan jujur kenapa dia bisa pindah sekolah ketempat Grael belajar, itu karena Rangga sudah dijodohkan oleh sang ayah dengan anak dari almarhum teman ayahnya.
"Kalau kamu sudah dijodohin, kenapa cium aku? Ah ... mak-maksudnya—"
”Salah aku? Cium calon tunangan aku sendiri? Semalam aja, kamu juga balas kiss aku," ucap Rangga yang mengingatkan Grael soal semalam yang meneleponnya.
Diam seribu kata yang tepat untuk Grael saat ini, hatinya begitu terkejut mendengar penuturan dari Rangga. Akal sehat dia menertawai tingkat kehaluannya yang sudah melambung tinggi dalam mencintai cinta pertamanya.
"Bisa juga ya, melawak!" tawa Grael yang memukul lengan Rangga.
"Aku serius!" Rangga menatap ke arah Grael yang kini mematung akibat ulahnya.
To be continued...
__ADS_1