Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
152. Game Over


__ADS_3

"Er, Tante dan Farah pulang dulu ya! Ingat, bicara pelan-pelan sama istri kamu, dan saran Tante si ... lebih baik cepat untuk pergi ke Rs, Harapan Sembuh! Biar semuanya jelas," ujar Marin yang memberikan perhatian pada Erlangga agar bersabar.


Setelah Erlangga bisa menenangkan hati sang istri, dia pun segera menemui Nadin dan Farah terlebih dahulu. Begitu mendengar ucapan dari Dokter Marin mengenai kondisi Grael yang tak kunjung hamil, membuat hati Erlangga bergetar menahan sedih. Namun, dia mencoba untuk tegar.


"Ya, makasih, Tan! Selamat ya, Fa," ucap Erlangga dengan intonasi suara sedikit lirih.


"Thanks, jangan lupa datang ya, yang sabar!" ucap Farah yang memeluk saudaranya. Erlangga pun membalas pelukan Farah, dan kini langkahnya menuju ruang kerja yang sudah terdapat Josua, Yogi dan juga Rangga. Usai mengantar Nadin dan wanita yang sudah menjadi perancang busananya selama Erlangga menjadi artis.


Josua langsung mulai rapat kecilnya bagaimana dia menjelaskan pada Rangga yang akan masuk ke dalam perusahaan langsung setelah lulus sekolah sembari kuliah, belum lagi dirinya harus bertanggung jawab atas Emira dengan menikahinya, hingga beban panggulnya menjadi semakin berat.


"Gimana? Sudah Jelas?" ucap Josua yang menyadarkan Rangga dalam lamunan.


Sontak aja, Erlangga tahu kemana arah pikiran Rangga saat sang ayah sudah menjelaskan panjang lebar, tetapi adiknya itu hanya terdiam sembari tersenyum.


Tangan Erlangga pun menumpuk kepala Rangga agar tersadar dari lamunan yang membuat dirinya kesal. "Ngga, serius!"


Rangga hanya manggut-manggut seakan mengerti maksud penuturan dari sang ayah, begitu rapat selesai, Yogi pun membantu Rangga untuk mencatat hal yang penting selama masa pelantikan Rangga sebagai pegawai sementara di Grup Jaya.


Setelah rapat selesai, tinggal lah Erlangga dan Yodi berdua di dalam ruangan kerja untuk menandatangani surat-surat.


"Apa Kamu melihat nya? " tanya Erlangga to the poin saat dia membuka map lalu menatap ke arah asistennya yang berdiri di sampingnya.


"Jujur atau bohong?" sahut Yogi tanpa bersalah.


"Jujur!" jawab Erlangga dengan tegas, memang selama ini dia melarang Yogi untuk menemui istrinya, menjemput atau lain sebagainya.


Erlangga tidak mau bila Yogi sama dengan Roy yang jatuh cinta terhadap istrinya, maka dari itu, dia sengaja agar Yogi tidak tahu wajah istrinya seperti apa.


"Maaf, Bos. Lihat," ucap Yogi.

__ADS_1


Erlangga langsung menajamkan matanya mendengar ucapan Yogi yang sudah melihat istrinya, "Apa menurutmu?"


"Ah, maksud, Bos apa?" tanya Yogi yang belum paham maksud Erlangga.


"Apakah istri saya ... aakh, sudah lah! Pulanglah, besok kita lanjut!" ucap Erlangga yang tidak sanggup bila bicara seperti itu.


Yogi hanya mengganguk sebagai tanda mengerti dan langsung meninggalkan tempat itu usia selesai dari tugasnya.


Erlangga kembali masuk ke dalam kamar dan melihat Grael masih saja sedih atas tingkahnya yang konyol, dia pun teringat ucapan dokter Nadin yang menyuruhnya untuk secepatnya membawa Grael ke dokter.


"Hai, belum tidur?" Erlangga memeluk tubuh Grael dari belakang, dia mengecup lembut pundak putih mulus itu yang terekspos oleh lingerie yang dikenakan oleh Grael.


"Belum, Kak Erlangga susah selesai mettingnya?" tanya Grael kurang semangat.


"Hai sudah jangan dipikirkan," bisik Erlangga dengan lembut seraya tangannya mencoba masuk ke dalam llingere Grael.


"Tapi tetap saja, malu ... kak!" pekik Grael ketika sudah berada di dalam dekapan sang suami.


Deg, jantung Grael langsung berdebar kecang saat sang suami meminta mengulanginya lagi, sejujurnya dia malu tapi karena demi sang suami akhirnya Grael pun perlahan berdiri di hadapan Erlangga.


Erlangga melihat Grael yang menyalakan lagu erotis yang kemudian mematikan lampu utama, tetapi masih tetap terlihat dengan bentuk lekuk tubuh sang istri dari pantulan lampu tidur.


Grael secara perlahan mulai meliuk-liukkan tubuhnya di depan Erlangga, hingga pakaian terlepas teronggok ke lantai. Tangannya mendorong bahu sang suami dengan lembut dan membuat suaminya terus menatapnya tanpa berkedip.


Tidak bisa dipungkiri oleh Erlangga, bila tubuh Grael memang sangatemggoda hasrat biarahi laki-laki yang memandang. Rasa cemburunya tiba-tiba muncul ketika teringat ucapan Rangga, dan bagai mana adiknya itu menatap tubuh sang istri saat menari erotis di depannya.


"Aah," keluh Grael saat tubuhnya mendapatkan tarikan kencang dari Erlangga.


Ya, Erlangga mulai terbakar gairah cemburu yang sudah menggebu-gebu saat melihat Grael begitu lihai menggodanya seperti sudah ahli bagaikan khusus pemuas napsu para hidung bellang.

__ADS_1


Erlangga lengsung menarik pinggang ramping itu lalu mellumat bibir merah yang menggoda dengan buas, tanganya sudah berkeliaran menjelajahi setiap inci tubuh polos Grael.


"Aammhh!" Erlangga turun melahap benda kenyal bagian favoritnya itu. Sementara Grael mencoba untuk membuka baju Erlangga.


Tangan Erlangga pun membuka resleting cellana dan buru-buru dia lepas dari tubuhnya hingga terpampang jelas sang junior bak tiang yang bergoyang.


"Deep suction, Baby!" pinta Erlangga yang menurun kan bahu Grael secara lekasa lalu mendekatkan kepala itu untuk mengecup dan mengullum sang junior.


"Aaah, El ... enak banget! Go on, Honey!" rancau Erlangga yang teriak karuan saat mendapat servis miliknya.


Erlangga mengangkat tubuh Grael dan menariknya dalam pangkuannya, dia menyuruh sang istri untuk berada di atas dan mempercayakan Grael yang memimpin permainan pada malam ini.


"El," panggil Erlangga dengan manja ketika juniornya masuk sempurna dalam sangkarnya. Begitu hangat, lembab, dan licin.


Milik Erlangga berkedut meraskan hangat sebelum Grael menggoyangkannya, begitu pinggul sang istri mulai bergerak secara perlahan, di situ pula mata Erlangga merem melek menikmati sensasi luar biasa dan permainan pun di mulai.


Suara dessahan saling memanggil dengan merdu di kala ke dua sejoli terus berpacu menciptakan suara kulit yang bersentuhan menandakan betapa mereka menikmati tamparan kulit itu.


Gerakan demi gerakan mereka perjuangkan demi mencapai titik yang mereka kejar bersama, entah berapa banyak gaya yang sudah mereka ciptakan demi kepuasan masing-masing, sehingga Erlangga melihat betapa cantiknya sang istri malam ini yang memimpin permainan panas itu.


"Kak, aku ... mau—"


Erlangga langsung membukam mulut Grael dengan llumatannya, dan menekan sang junior lebih dalam saat Grael menggerakkannya sudah tidak beraturan, tubuh istrinya mendekap kuat punggungnya, sampai Erlangga meraskan cairan hangat mengenai battang miliknya.


"Now it's my turn, Baby!" Erlangga langsung menggerakkan pinggulannya dengan cepat, membuat Grael membuka mulutnya seraya mengeluarkan yang begitu beriringan dengan hujamann Erlangga.


Terus dan terus sampai Erlangga dibuat melambung tinggi ke surga nirwana yang begitu sulit diungkapkan oleh kata-kata, dirinya benar-benar selalu puas dengan permainan malam ini sampai akhirnya dia pun mengeram dan menekan kuat-kuat juniornya untuk memuntahkan cairan puntih kental miliknya.


"Aaarrgghh, Arabella! You are so delicious! Kamu membuatku gila, Honey!" rancau Erlangga di sisa-sisa denyutan yang masih berasa di bawah sana.

__ADS_1


Erlangga menyesap kuat-kuat bibir bawa Grael sampai denyutan dibawa sana mulai memudar dan permainan pun Game Over.


To be continued...


__ADS_2