
“Pagi, Mi, Pih!” Rangga mencium pipi kedua orang tuanya dengan sangat senang.
Sikap Rangga berbeda dari hari-hari biasanya, pagi ini dia tidak sabar untuk bertemu dengan bidadari yang baru saja melemparkan anak panah tepat di hatinya, dengan siulan yang berbunyi dari mulut Rangga, dia pun duduk lalu melahap makanan yang ada di tangannya.
“Apa kamu sudah mengurus motor Papi?” tanya Josua dengan suara yang dingin.
“Tenang, Pih ... itu kan tugas Kak Erlangga. Oh iya, Kak Erlangga sama Grael ke mana, Pih?” tanya Rangga, matanya melirik ke arah bangku yang kosong di hadapannya.
“Kakakmu lagi di kamarnya,” ucap Josua.
“Loh, memangnya Kak Erlangga nggak ke kantor?” Rangga memotong telur di atas piringnya.
“Ngga, pokus sama sarapan, terus langsung berangkat!” saran Kylie yang tidak suka bila sang anak menanyakan anak tirinya itu.
Mereka pun hanya makan bertiga, dan pada seperti biasanya Josua berangkat kerja lebih awal agar tepat waktu untuk sampai di perusahaan, karena Josua sama sekali tidak menyukai yang namanya keterlambatan waktu kecuali keadaan darurat.
Begitu juga Rangga yang berangkat ke sekolah dengan mobil pribadinya, sorot matanya terus ke arah pintu kamar sang kakak, karena rasa penasaran nya terhadap Grael.
“Astaga ... masih aja ya gue bego! Jelas-jelas dia udah melupakan Lo, Ngga!” Rangga memukul stir mobilnya lalu menyalahkan mesin untuk dia jalankan melaju ke jalanan.
Begitu sampai di sekolahan, Rangga melihat Emira yang di antar oleh seorang pria misterius yang mengenakan topi dan jaket, kedekatan keduanya sangatlah dekat bahkan pria itu mencium kening Emira seraya memeluknya.
“Siapa dia?” tanya Rangga pada dirinya sendiri ketika tidak bisa melihat wajah pria yang terhalang oleh topi hitam.
Rangga pun turun dari mobilnya, kemudian berjalan perlahan agar langkahnya bisa bertemu dengan Emira. Dia pun sudah menyiapkan strategi untuk menjahili gadis pirang yang sudah mulai mengusik hatinya.
Dalam hitungan detik, dapat Rangga pastikan Emira akan kehilangan keseimbangan ketika menjulurkan kakinya agar Emira tersandung kakinya dan menarik tangan Rangga sehingga bisa masuk ke dalam dekapannya.
“Ok, Rangga ... tunjukkan bakat acting-mu bahwa kamu lebih cocok jadi artis dari pada Erlangga!” Rangga begitu senang ketika rencana yang ada di pikirannya begitu sempurna.
“Satu ... dua ... ti—“
__ADS_1
“Emira!” teriak teman satu kelasnya yang memanggil Emira, sontak saja Emira langsung berhenti dan menghampiri teman satu kelasnya itu.
“Aakkh!” keluh Rangga, dia mengusap rambutnya dengan kasar ketika rencananya Gatot alias gagal total.
***
Jam makan siang, semua murid berkumpul di kantin. Tidak seperti biasanya karena hari ini Grael tidak masuk sekolah karena sakit, jadi mereka juga kurang semangat saat tidak ada Grael di sekolah.
Berbeda dengan Rangga, dia sibuk dengan rencananya sendiri untuk mendekati Emira—gadis berambut pirang dengan kulit putih serta wajah yang cantik.
“Ngga, Lo ngapain sih? Dari tadi ngeliatin Emira terus! Inget Grael ... dia lagi sakit, Lo malah selingkuh!” ucap Anjas di depan Ernata dan juga Irfan.
Kedua temannya saling pandang memandang ketika mendengar ucapan dari Anjas, mereka juga melirik ke arah Rangga seakan meminta penjelasan dari temannya itu.
“Gue ... nggak jodoh sama dia!” tegas Rangga dengan jujur.
“Maksud Lo, nggak jodoh?” Irfan memicingkan sudut matanya.
“Jangan bilang, Lo selingkuh sama Veby!” Irfan langsung emosi dan menarik kerah baju seragam Rangga dengan kencang, tangannya siap untuk melayangkan pukulan pada wajah Rangga yang duduk di sampingnya.
Kejadian itu membuat Anjas dengan refleks bangun dari duduknya dan menahan tangan Irfan agar tidak membuat keributan. Jelas saja, semua murid yang ada di kantin menengok ke arah sumber yang sedang terjadi termasuk Emira.
“Fan, jangan bikin malu, dilihatin sama semua orang! Dengetin dulu penjelasan Rangga!” pinta Ernata yang menarik baju Irfan agar tidak menggunakan emosi.
Sejenak Irfan terdiam mendengar nasihat dari teman-temannya, dia memang kesal terhadap Rangga karena sudah mengalah membiarkan orang yang dia cintai hidup bahagia dengan pilihannya, tetapi hatinya sakit saat Rangga menyakiti hati orang yang dia sayang.
Perlahan emosi Irfan mulai berkurang, dia menurunkan kepalan tangannya lalu melepaskan cengkraman tangannya dari baju Rangga, walaupun hatinya ikut merasakan senang mendengar kabar bahwa Rangga dan Grael putus, tetapi dia juga tidak terima bila Rangga menduakan Grael.
“Iya, gue udah melakukan kesalahan fatal terhadap, El ... tapi gue nggak selingkuh!” ucap Rangga yang menjelaskan.
“Itu namanya Lo selingkuh, bege!” bentak Irfan yang masih kesal dengan Rangga.
__ADS_1
“Seterah lo ... yang jelas, Lo sama gue, nggak bakal bisa dapatin dia sampai kapanpun! Jadi, Lo jangan harap bisa ngejar dia setelah dia putus dari gue!” Rangga menatap tidak suka terhadap Irfan, dia tahu pasti setelah ini Irfan akan mengejar Grael.
“Kenapa gue nggak bisa? Apa hak Lo ngelarang gue buat ngejar dia!” Irfan kembali tersulut emosi dengan ucapan Rangga.
“Dia udah nikah! Jangan pernah berani-beraninya Lo, jadi duri di kehidupan rumah tangga kakak gue!” batin Rangga yang membalas tatapan sinis ke Irfan.
“Fan, udah Fan ... Lo nggak malu apa satu sekolahan pada liahitin ke arah kita!” Anjas lagi-lagi yang menjadi penengah antara Irfan dan Rangga.
“Fan, mending Lo, sama Rangga move on dari Grael ... biarin dia bahagia bersama pasangannya yang sekarang!” celetuk Ernata yang keceplosan.
“Selagi jalur belum melengkung, kali ini gue bakalan berusaha untuk mengejar cinta gue!” Irfan menatap sinis ke arah Ernata.
“Lo, udah telat!” bentak Rangga.
“Maksud Lo telat apa?” tanya Irfan yang tidak mengerti maksud dari Rangga.
“Fan, Lo bisa nggak sih ... jangan pakai emosi duluan! Kita tunggu aja, kabar dari Grael selanjutnya, dan gue harap setelah Lo denger langsung dari orangnya, Lo udah bisa move on!” saran Ernata.
Anjas mengusap bahu irfan agar bisa bersabar menerima kenyataan, tetapi tangannya justru di tangkis oleh Irfan dengan kasar.
***
Jam pulang sekolah telah tiba, Rangga menunggu Emira untuk keluar dari dalam kelasnya, begitu mangsa telah keluar dia pun langsung menabrak Emira dengan sangat kencang, hingga gadis itu terjatuh dan terluka pada lututnya.
“Aaakh! Aaw! Siapa sih? Kalau jalan tuh pakai mata! Bukan pakai de—“
“Sorry, sorry! Gue sengaja, eh ... maksud gue nggak sengaja! Lo, nggak apa-apa kan?” Rangga mengulurkan tangannya.
“Nggak sengaja gimana? Liat sendiri nih, berdarah!” keluh Emira yang kesakitan.
Semua mata tertuju kepada kedua orang yang sedang berdebat koridor sekolah, bagaimana tidak Emira si gadis pirang menjadi pusat perhatian semua siswa sekolah tersebut terutama siswa pria, terjatuh ditabrak oleh ketua tim sepak bola sekaligus master atau maskot dari sekolah tersebut.
__ADS_1
To be continued...