Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
11. Kissing


__ADS_3

'Karena mulai sekarang, kamu cewek aku! Calon tunangan aku, jadi hanya aku yang boleh deket kamu, ngerti!'


Kata-kata itu yang terus berputar di kepala Grael, saat masih berada di ruangan UKS, dia menutupi dirinya dengan selimut sembari menghentakan kaki karena terlalu bahagia. Sampai dia lupa pada kakinya yang masih sakit.


"Aaw!" ringis Grael kesakitan.


***


Bel jam istirahat kedua pun telah berbunyi, menandakan semua siswa untuk berada di ruang kantin utama, mengambil makan siang mereka yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah.


"Hai ... nih, gue bawain makanan buat Lo!" Irfan lebih dulu tiba di ruang UKS.


"Loh, lo gak makan di kantin?" tanya Grael yang melirik ke arah pintu UKS mencari sosok Rangga.


"Gak, makan di sini sama lo, gue suapin ya?" Irfan menyodorkan sendok kehadapan Grael.


Grael mencoba menolak suapan dari Irfan tetapi pemuda itu memaksa dia untuk membuka mulutnya, hal hasil saat Grael membuka mulut ternyata kedua sahabatnya datang.


"Hayoo ... lagi main suap-suapan Lo berdua ya?" Ernata membawa menggeser bangku untuk bisa makan dekat Grael.


"Loh, kalian cuma berdua? Yang lain kemana?" tanya Grael saat tidak melihat Rangga datang bersama mereka.


"Yang lain yang mana maksud Lo?" tanya Veby yang duduk di samping Ernata.


"Maksud gue, Rangga sama Anjas." Grael menjelaskan kepada mereka agar tidak salah paham, walaupun niatnya hanya menanyakan keberadaan Rangga.


"Oh, mereka lagi di suruh sama Pak Nino," sahut Ernata.


Grael sedikit kecewa mendengar ucapan dari Ernata, karena yang dia inginkan sekarang bisa makan bersama dengan Rangga. Namun, keinginannya hanyalah belaka saja, saat Rangga tak jua kunjung datang.


Mereka pun makan bersama di dalam ruangan UKS, sembari melempar candaan, tetapi Grael tidak sedikitpun merasa terhibur. Sampai Akhirnya bel masuk terlah berbunyi.


Grael pun dibantu oleh Irfan untuk masuk kedalam kelas. "Thanks ya, Fan."


Irfan senang karena hari ini dia bisa mendekap gadis pujaannya, dia langsung kembali ke dalam kelasnya saat guru sudah datang masuk ke dalam kelas Grael.


Belum sempat Grael membuka buku yang sudah diperintahkan oleh Bu Guru, ponselnya bergetar, dia membuka isi pesan notifikasih yang ternyata dari Rangga.


Rangga meminta maaf karena tidak bisa datang ke ruang UKS karena dia mendapat perintah dari Pak Nuno, dia juga mengirim pesan untuk mengajaknya pulang bersama, dan tidak lupa di akhir pesannya pemuda itu mengirim emotion berbentuk love.

__ADS_1


Senyum terukir di wajah Grael, saat membaca isi pesan tersebut. Tanpa sadar, seorang guru sudah berada di depan meja Grael sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


"El," bisik Ernata.


"Apa sih?" kesal Grael saat Ernata menyenggol lengannya.


"Itu, Bu Sri ... bege." Ernata langsung mencubit pinggang Grael agar tersadar.


Grael pun langsung panik dan memasukan ponselnya kembali ke dalam tas, dia tersenyum ke arah Bu guru yang sudah tersenyum lebar dan sangat menakutkan bagi Grael.


"Eh, ibu." Grael langsung membuka bukunya tetapi Bu guru mengulurkan tanganya ke depan Grael untuk menyerahkan ponselnya.


"Jangan, Bu!" Grael memasang wajah melasnya. Namun, sang guru tetap tersenyum sambil meminta ponsel Grael.


Mau tidak mau, Grael memberikan ponsel kepada sang guru dengan pasrah. Bu guru itu pun membaca pesan singkat dari nomor yang belum dia simpan.


"Ok, kita mulai pelajaran kita, bukan halaman 36 dan kerjakan satu soal yang paling atas." Bu guru langsung berjalan menuju mejanya dan menyimpan ponsel tersebut di atas meja.


Hati Grael begitu lega saat sang Guru hanya membaca pesan tanpa membeberkan isi pesan tersebut, walaupun ponselnya harus disita oleh Bu guru tapi ada rasa sedih di hatinya.


"Sabar ... bew!" saran Ernata yang ikut tertawa melihat raut wajah Grael yang sedikit cemberut.


***


Grael pun tersenyum saat Rangga turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk dia, pemuda itu langsung menghampiri Grael dengan senyuman manisnya sembari menggendong Grael dengan ala bridal style.


"Ya ampun ... Rangga, aku bisa jalan pelan-pelan," ucap Grael yang terkejut dengan perilaku Rangga yang selalu membuatnya semakin jatuh cinta.


"Tidak ada penolakan tuan putri." Rangga memakaikan sabuk pengaman pada Grael.


Suara detak jantung Grael langsung berdegup dengan kencang, ketika wajah Rangga begitu dekat. Dia pun mengigit bibir bawahnya untuk menahan rasa malu saat deru napas Rangga bisa dia rasa di wajahnya.


Rangga terus memperhatikan bibir Grael yang sungguh menggoda iman para lelaki, ada rasa desiran yang begitu kuat di tubuh Rangga. Ingin rasanya dia melahap bibir itu saat ini juga, tapi dia mau menunggu waktu yang tepat.


"Jangan menggigitnya lagi, aku gak jamin kalau aku bisa menahan diri." Rangga tersenyum sembari mencubit pipi Grael.


Rangga mulai menjalankan mobilnya yang ikut membaur bersama dengan mobil lainnya, selama perjalanan setelah mendengar ucapan dari Rangga yang membuat dirinya selalu melted, Grael langsung teringat tentang Erlangga, bahwa hari ini dia harus segera datang ke apartemen artis tersebut.


Namun, dia memilih menghubungi manager Erlangga untuk meminta izin, bahwa kakinya sedang terluka dan sulit untuk berjalan. Pesan notifikasih pun berbunyi, dengan cepat Rio membalas pesan dari Grael.

__ADS_1


[Tidak ada alasan untuk menghindar dari hukuman!]


Grael kesal saat membaca isi pesan dari Rio, dia berpikir bahwa yang mengirim pesannya bukanlah Rio, melainkan Erlangga. Grael pun memotret kakinya yang diperban oleh dokter dan mengirimnya agar sebagai bukti.


Melihat Grael sibuk dengan ponselnya, Rangga berdeham untuk menyadarkan gadis itu, bahwa ada dia di sampingnya. Grael langsung memasukan ponselnya ke dalam saku setelah mengirim pesan tersebut.


"Sepertinya ... saingan aku banyak juga ya?" tanya Rangga yang menunggu pengakuan Grael soal isi pesan yang gadis itu kirim.


Grael tersenyum mendengar ucapan Rangga, dia mencoba untuk menjelaskan bahwa dia meminta izin untuk tidak masuk kerja part time hari ini. Namun, Grael masih belum bisa menjelaskan secara detail tentang dia yang hanya menjadi kacung Erlangga sementara.


Rangga pun merasa lega saat dia mendengar penjelasan dari gadis itu, dia mencoba untuk mengajak Grael ke suatu tempat sebelum pulang ke rumah. Gadis itu hanya mengangguk sebagai tanda setuju.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka sampai ke sebuah pantai, Rangga langsung menggendong Grael untuk duduk di depan mobil dan menyuruhnya untuk menunggunya sebentar.


"Ngapain kamu ngajak aku kesini?" tanya Grael saat Rangga sudah duduk di sampingnya sembari memberikan satu bungkus es krim.


"Kenapa? Gak suka ya? Aku hanya ingin berdua dengan kamu, ingin lebih dekat lagi dengan kamu." Rangga menengok ke arah Grael dan menyelipkan anak rambut sang gadis di belakang telinganya.


"Berdua?" tanya Grael.


"Iya, seperti ini contohnya." Rangga menggenggam tangan Grael dan menciumnya.


"Ngga ... boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Kenapa kamu melarang aku untuk menerima Irfan?"


"Bodoh ... apa kamu menyukaiku?" Rangga tertawa mendengar pertanyaan dari Grael dan menempelkan es krimnya ke sudut bibir Grael saat umpatannya keluar.


Sontak perilaku Rangga membuat Grael terdiam, Rangga yang tahu bahwa gadis itu membutuhkan jawaban pasti darinya, dia menjawabnya dengan tindakan.


"Kamu mau tahu? Aku cemburu ... karena kamu hanya milik aku." Rangga menempelkan hidung mancungnya ke hidung Grael. Setelah itu, lidahnya dia keluarkan untuk menjillat sisa es krim yang berada di sudut bibir Grael dengan lembut.


Mendapat jillatan di bibirnya yang begitu lembut Grael hanya menurut saat Rangga menahan tengkuk lehernya untuk memperdalam ciumannya. Mata Grael terpejam saat lidah Rangga menerobos masuk ke dalam mulutnya, begitu lihai ciuman Rangga saat mencium bibirnya yang masih kaku dalam berciuman, karena ini adalah ciuman pertama menurut Grael.


"Ingat! Berkata tegaslah dengan Irfan, karena kamu sudah ada yang punya, agar dia tidak menunggu kamu." Rangga mengelap bibir Grael yang basah akibat ulahnya.


Grael hanya mengangguk sebagai tanda jawaban iya, dia pun menikmati es krimnya kembali saat matanya melihat pemandangan air laut di sore hari, tidak lupa Rangga memasang headset di salah satu telinga Grael dan di telinganya untuk mendengarkan lagu romantis bersama.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2