Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
104. Pertemuan dengan Handoko


__ADS_3

Malam hari, Grael nampak anggun dengan balutan dress selutut berwarna nude. Rambut panjang yang sedikit gelombang, make up natural dengan perona bibir berwarna peach membuat Istri dari Erlangga Louis tampil cantik dan anggun.


"Ya Tuhan, cantiknya istri orang!" batin Rio yang menelan saliva-nya saat pandangannya tidak berkedip menatap penampilan Grael yang selesai di make over dari salon.


Begitupun dengan Erlangga yang terpesona kesekian kalinya, melihat penampilan sang istri begitu cantik malam ini bagaikan bidadari yang turun dari langit.


"Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Grael pada kedua pria yang ada di hadapannya.


"Can—"


Belum sempat Rio mengucapkannya, Erlangga sudah lebih dulu maju seraya berkata, "Kamu sungguh cantik, Sayang!"


Rio tersenyum pada dirinya sendiri bila dia lupa kalau wanita yang diam-diam dia sukai, sudah resmi menjadi istri sahabatnya sendiri dan dia sendiri yang bantu memperjuangkan mereka untuk bisa bersama.


"Bodoh!" umpat Rio pada dirinya sendiri, dia pun cuma bisa mengekori sepasang kekasih menuju mobil.


Selama perjalanan, Rio memberi informasi tentang kolega yang bernama Handoko—Ketua Perusahan Berlian yang berada di kota F, Handoko juga memiliki seorang anak yang bernama Gea Putriliani yang satu sekolah dengan Grael.

__ADS_1


"Ah, serius?" tegur Grael ketika dia ikut mendengarkan ucapan Rio.


"Iya!" sahut Rio.


"Kenapa? Kamu akrab dengannya? Atau dia pernah buat kamu kesal?" tanya Erlangga.


"Nggak, bukan gitu! Dia itu yang kemarin langsung meluk kamu," ucap Grael yang mengingatkan kepada suaminya.


"Tapi sepertinya dia tidak datang, karena sesuai informasi yang saya dapat, Pak Handoko hanya datang bersama Istrinya," ucap Rio.


Grael bernapas lega, ketika mengetahui bahwa Gea tidak ikut datang, rambutnya mendapat usapan dari Erlangga ketika rasa kekhawatirannya dilihat oleh sang suami.


Setelah mereka sampai, mereka di sambut hangat oleh Marvin dan juga Gracia, Grael tidak menyangka bakal bertemu dengan kakaknya setelah sekian lama mereka belum berjumpa.


Tidak lama kemudian, kolega yang bernama Handoko datang bersama istrinya yang ternyata masih terbilang awet muda. Mereka pun menyambut kedatangan Handoko berserta istrinya dengan ramah.


"Ini?" tanya Handoko yang menunjuk wanita muda yang begitu anggun. Usai dia berkenalan dengan yang lain.

__ADS_1


"Dia istri saya!" Erlangga mengenalkan Grael kepada Handoko dengan bangga.


"Grael," ucap Grael yang membalas uluran tangan Hesti—istri Handoko.


"Ayo silahkan duduk, Pak Handoko!" Marvin memanggil salah satu Chef kepercayaan dia untuk memberikan pelayanan terbaik pada Tuan Handoko.


Mereka pun menikmati makan malam bersama, di temani pemain piano yang begitu handal, karena Erlangga dan Marvin tahu bila istri Handoko menyukai musik piano, maka dari itu mereka mencoba menyenangkan kolega mereka.


Setelah selesai makan dan sebelum mereka berbicara ke inti soal pekerjaan, mereka saling melempar canda dan tawa di mana Grael bisa membuat Hesti menyukainya, saat Grael bercerita tentang hal yang membuatnya tertawa.


"Kamu benar, saya aja bingung, kenapa saya juga bisa jatuh cinta sama dia!" ujar Hesti, dia tertawa ketika mendengar cerita Grael soal suaminya yang bisa jatuh cinta, begitu juga dengan Hesti yang tidak jauh berbeda cerita cintanya dengan Grael.


Erlangga dan Handoko hanya bisa ikut tertawa, karena melihat istri-istri mereka tertawa lepas membuat mereka senang, begitu juga dengan Marvin yang melihat Gracia bisa tertawa lepas kembali bersama dengan sang adik.


Hari pun semakin malam, ketika mereka telah selesai membicarakan soal pekerjakan dengan santai, Erlangga dan Grael pamit kepada Marvin dan Gracia ketika Handoko beserta sang istri telah pergi lebih dulu.


"Hati-hati, ya ... ingat langsung tidur jangan buat dia bergadang ya, Er ... kasian besok masih ulangan, kan?" ujar Gracia yang menasihati Erlangga.

__ADS_1


"Er, nggak janji ya, Kak!" canda Erlangga kepada kakak iparnya.


To be continued...


__ADS_2