Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
108. Keciduk Papi


__ADS_3

Setelah Rangga dan Emira sama-sama polos, Rangga mulai merangkak naik ke atas tubuh Emira, dia pun mencumbu mesra gadis itu dengan kelembutan yang selalu membangkitkan desiran aneh pada tubuh mereka masing-masing.


Emira mencoba menggapai adik junior, tapi dicegah oleh Rangga. "Jangan sentuh, kalau kamu sentuh, aku tidak jamin akan bisa menahannya!"


"Why?" tanya Emira.


"Sudahlah, lupakan hari ini! Anggap kita sudah melakukannya!" Rangga menjatuhkan tubuhnya di samping Emira lalu menutupi tubuh mereka dengan selimut.


"Why? Apa aku kurang murahan? Kurang menarik jadi wanita kamu?" Emira kesal dengan Rangga, dirinya kesal bukan karena mereka tidak jadi melakukannya, tapi dia masih sakit hati dengan ucapan dari mulut Pria yang dia suka, yang dia anggap lebih menghargainya dari pada Steven.


Air mata Emira jatuh dan memaksa dirinya untuk seperti wanita murahan di hadapan Rangga, agar Rangga puas dengan apa yang Rangga lontarkan untuk dirinya.


"Emira!" bentak Rangga agar gadis itu berhenti mencumbunya.


"Apa! Ini kan yang kamu mau? Kamu yang bilang aku murahan? Sekarang giliran aku mau kabulin ucapan kamu, kamu malah seperti ini ke aku! Aku benci sama kamu!" dan popmaki Emira.


Emira bangun dari atas tubuh Rangga dan memeluk kedua lututnya, jujur saja ini adalah tindakan bodoh yang baru dia lakukan. Hatinya kesal pada dirinya sendiri karena selalu menurut apa kata Steven dan keluarganya, akhirnya dia pun menghancurkan dirinya sendiri agar terlepas dari Steven yang menjadi bonekanya.


"Maaf!" Rangga tersadar dari beberapa saat dia termenung memikirkan sikap Emira, walaupun dia tidak mengerti apa yang di alami oleh gadis itu, satu hal yang Rangga tahu. Pasti Emira sedang berada di bawah tekanan seseorang.


Emira yang masih menangis, dia berusaha agar Rangga tidak menyentuhnya. Namun, Rangga terus berusaha untuk menenangkannya, hingga dia luluh dah masuk ke dalam pelukan pria itu.


"Maaf, kata-kataku sudah menyakitimu, Emira! " ujar Rangga, dia menepuk pundak Emira yang masih menangis di dadanya untuk memberikan rasa nyaman, hingga dia merasakan bila hembusan lembut keluar dari mulut gadis itu.


"Emira?" tanya Rangga untuk memastikan gadis itu mendengar panggilannya.


Rangga pun melihat wajah Emira yang ternyata tertidur dalam pelukannya, ada segurat halus di sudut bibir Rangga ketika dia menyadari bila mereka berdua dalam keadaan sama-sama polos.

__ADS_1


"Emira? Kamu tidak tahu kah? Kamu tertidur dipelukan seorang pria normal," ucap Rangga yang mengusap sisa air mata Emira.


Rangga pun mengecup lembut bibir Emira sebelum dia membaringkan gadis itu tepat di sampingnya. "Aku tahu, kamu sedang tertekan, karena itu, aku akan merebutmu dengan cara yang benar! Bukan dengan cara merusak kamu! Tidurlah ... aku hanya ingin tidur di sampingmu seperti ini!"


Usai bicara seperti itu, mereka pun tertidur dalam satu selimut yang sama dengan keadaan yang sama-sama tidak mengenakan satu benang sehelai pun.


...----------------...


Jam terus bergulir, matahari pun mulai bersembunyi ketika bulan telah datang. Malam yang begitu sunyi membuat kedua insan mudah masih tertidur lelap saling berpelukan dalam satu selimut yang sama, memberi kehangatan pada keduanya.


Sementara itu di meja makan, semua tengah berkumpul untuk menikmati makan malam bersama, tetapi Josua belum juga melihat kedatangan Rangga dari arah tangga, sampai dia menanyakan pada Kylie keberadaan anaknya.


"Papi kaya nggak tahu aja, anak muda! Rangga masih main sama teman-temannya, Pih!" ucap Kylie yang menebak bahwa anaknya masih pergi hangout bersama teman-temannya setelah pulang sekolah.


"Apa dia bilang ke Mami, pergi ke mana?" tanya Josua yang mengambil ayam goreng.


Kylie langsung terdiam sejenak ketika dia ingat bahwa Rangga belum memberinya kabar, bahkan dia tidak mendapat kabar bila Rangga telah pulang dari sekolah.


"Tuh, kan ... Mami aja langsung diam, berati Mami nggak tahu Rangga di mana! Mami, gimana sih!" tegur Josua yang langsung marah kepada Kylie.


"Lyd ... tuh kan, Mami lupa mulu, kalau Lydia di penjara! Lala!" ucap Kylie yang ingin memanggil Lydia tapi dia lupa kalau pembantu itu di penjara, dia pun memanggil Lala untuk melihat Rangga di paviliunnya.


Josua membuang napas kasarnya ketika melihat sikap Kylie yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri ketika menggilai arisan sampai berjam-jam.


"El, kamu di sekolah, melihat Rangga?" tanya Josua dengan lembut.


"Hhmmm ... lihat, Pih! Tadi sih, El sempat lihat Rangga marah-marah sama Emira, terus akhirnya mereka pergi," ucap Grael dengan jujur.

__ADS_1


"Emira?" tanya Erlangga langsung melihat ke arah Grael.


"Pergi ke mana?" tanya Josua yang juga melihat ke arah Grael.


Sontak Grael melihat ke arah Josua dan juga Erlangga dengan tatapan pelongo, dia pun menjawab pertanyaan sang suami lebih dulu setelah itu menjawab pertanyaan ayah mertuanya.


"Ya, kenal ... emang kamu belum tahu, Emira adiknya Rio?" tanya Erlangga.


Belum sempat Grael menjawab ucapan sang suami, tiba-tiba maid yang di suruh oleh Kylie datang dengan raut wajah yang ketakutan dan panik.


"Kenapa?" tanya Josua.


"Anu, Tuan ... itu, anu," ucap Lala yang bingung menyampaikan kepada majikannya.


"Anu apa? Kalau ngomong tuh, yang jelas! Apa Rangga ada di sana?" Kylie sudah kesal lebih dulu melihat sikap maid yang satu itu.


"Ada, Nyonya!" jawab Lala dengan jujur.


"Tuh, kan ... Pih, Rangga ada di paviliun!" ujar Kylie yang merasa tenang.


"Tapi, Nyonya ... itu, masalahnya!" Lala begitu gugup menyampaikan perihal Rangga.


"Apa? Katakan saja!" ujar Josua.


Erlangga dan Grael pun menjadi bingung dengan sikap Lala yang begitu gugup dan ketakutan, pasangan suami istri itu begitu penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh Lala.


"Tuan muda Rangga ... ti–ti–tidur sama cewek, Tuan!" ucap Lala dengan gugup.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2