Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
204. Kabar duka


__ADS_3

Dalam ruangan keamanan rumah sakit, Erlangga benar-benar terbakar emosi pada tersangka yang sudah berani mencelakai istrinya, dia memaksa kedua tersangka untuk mengaku siapa yang menyuruh mereka.


"Katakan siapa yang menyuruh kalian!" tegur Erlangga pada keduanya.


Keduanya masih tetap bergeming enggan membuka suara sedikitpun dan itu membuat pemilik nama lengkap Erlangga Louis menjadi naik pitam, hingga suara gebrakan meja pun terdengar keras membuat mereka terlonjak karena saking terkejut.


"Katakan!" teriak Erlangga dengan kencang.


Joshua yang berada di sana pun juga terbawa emosi, melihat tersangka hanya bisa terdiam tanpa menjawab sekata pun pertanyaan dari Erlangga.


"Katakan dengan jujur, jika ingin mendapatkan keringanan pada hukuman kalian!" minta Joshua yang menatap sini sekarang kedua tersangka.


"Jadi kalian tetap tidak ingin memberitahu kepada kita, siapa yang menyuruh kalian?" tegur Erlangga ketika jarak wajah antara dia dan juga salah satu tersangka begitu tipis. "Baiklah, jangan salahkan aku yang akan mengusik kehidupan keluarga kalian!"


Mendengar ancaman dari Erlangga keduanya pun, mengeluarkan busa dari mulut masing-masing tersangka. Kulit membiru serta kejang-kejang menandakan bahwa mereka nekat meminum racun sebelum tertangkap.


Para pihak medis pun bergegas masuk ke dalam ketika Joshua berteriak memanggil, beberapa staf dokter langsung membawa kedua tersangka untuk melakukan penanganan pertama.


"Aaarrrggghhh!" teriak Erlangga yang menendang kursi sembari menjambak rambutnya.


"Sabar, Er! Tenang, kendalikan emosimu!" Joshua berusaha untuk menenangkan hati putranya.


"Tenang? Ini kan yang Papi mau? Senang? Ya, tentu saja senang karena berhasil mencelakai istri dan anak, Er!" bentak Erlangga pada Joshua saat mereka masih di ruangan introgasi pihak keamanan rumah sakit.


"Ya Tuhan, kamu masih menuduh Papi?" Joshua memijat keningnya yang terasa pusing.


"Jelas, karena Papi juga yang sudah membunuh Mami! Semua yang Papi lakukan semata-mata hanya mengincar kekayaan Kakek." Erlangga menunjuk dada Joshua.


"Diam kamu! Jangan pernah asal bicara kalau kamu tidak tahu apa-apa!" bentak Joshua.

__ADS_1


"Heuh? Asal bicara? Selama ini, apa pernah Papi mencari Er? Erlangga hidup sendiri dari hasil uang sendiri sebagai artis sampingan!Sekarang, Er juga tidak tertarik untuk harta Kakek, Erlangga hanya ingin hidup bahagia sama istri dan anak Er, Pih!" Erlangga mulai meneteskan air mata ketika mengeluarkan segala isi hatinya pada lelaki tua itu.


"Tapi sekarang apa? Hanya karena mendengar berita bahwa istri Erlangga tengah hamil dirawat rumah sakit, Papi nekat datang ke sini untuk mencelakai Grael dan calon anak, Er? Hah!" timpal Erlangga yang emosi dicampur dengan derai air mata.


"Cukup, cukup kamu menuduh Papi, Er!" bentak Joshua yang menunjuk Erlangga dengan kayu tongkatnya.


Di balik perdebatan ayah dan anak, Marvin tengah berdiri di ambang pintu mendengar percakapan apa yang dibicarakan oleh Erlangga dan juga Joshua.


"Sekarang Papi lihat, Grael tengah kritis! Itu semua salah Papi! Sekarang Papi puas? Hah! Puas sudah merebut kebahagiaan Er!" bentak Erlangga yang tidak takut menatap ke arah sang ayah.


Plak!


Suara tamparan keras pun terdengar di telinga Marvin, ketika Joshua menampar putranya yang bernama Erlangga Louis darah dagingnya sendiri, Joshua tidak terima bila sang anak berkata sedemikian rupa menyakiti hatinya.


"Papi memang bersalah karena tidak becus sebagai orang tua! Terserah kamu, mau menganggap Papi ingin menguasai harta Kakek kamu, tapi satu hal yang mesti kamu tahu, Erlangga! Sejak dulu sampai sekarang, Papi sangat peduli terhadapmu. Memikirkan kamu setiap detik, setiap napas, berharap kamu mau kembali ke rumah, tinggal bersama Papi," ucap Josua saat mata tua itu berair meneteskan air mata, menunjukkan bahwa lelaki yang memasuki usai renta sangat merindukan anaknya.


"Kalau begitu tunjukin sama Er, kalau Papi tidak bersalah!" Erlangga pergi meninggalkan Joshua dan menabrak Marvin saat masih berdiri di ambang pintu.


"Pih!" Marvin mencoba menahan Joshua agar tidak tumbang dia memapah agar pria paruh baya itu duduk di kursi lalu mengambilkan segelas air minum.


"Maaf tadi Marvin tidak maksud untuk menguping pembicaraan kalian!" ucap Marvin.


"Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa menghadapi sikap keras Erlangga!" Joshua meminum segelas air itu dari tangan Marvin.


Sementara Erlangga, dia justru mendapati kabar yang tidak terduga, bahwa sang istri harus melakukan tindakan kuret. Sang dokter mengatakan dengan sangat berat hati bahwa janin yang dikandung oleh Grael sudah tidak bisa diselamatkan.


Erlangga harus terpaksa menandatangani surat tindakan tersebut yang diberikan oleh suster, hal itu dilakukan karena demi keselamatan pada kesehatan Grael.


Air mata pun menetes saat tangan itu bergetar mencoret kertas putih oleh tinta hitam yang Erlangga pegang, isakan tangis menjadi pecah saat selesai menandatangani untuk melakukan tindakan pengangkatan janin dalam rahim sang istri.

__ADS_1


"Aaaaakkkkkhhhh!" Erlangga memukul dinding rumah sakit hingga membuat tangannya terluka


Rangga yang melihat kejadian itu langsung lemas seketika, dialah penyebab dari masalah yang mengakibatkan calon keponakannya tiada.


Calon anak yang ditunggu-tunggu oleh Erlangga selama dua tahun, kini harus pergi sebelum terlahir ke dunia, bahkan sebelum nyawa itu ada di dalam rahim istri tercinta.


Calon anak yang selalu Erlangga ajak bicara sebelum tidur di perut sang istri, kini sudah tidak bisa dia ajak bercanda. Air mata terus menetes tanpa henti, hanya ada kepasrahan yang tersirat dalam benaknya.


"Halo, Yo! Gua butuh bantuan, Lo!" ucap Erlangga yang menghubungi sahabatnya.


Erlangga menelepon sahabatnya yang bernama Rio, meminta bantuan untuk menyelidiki kasus yang menyebabkan istrinya kritis dan membuat dia harus kehilangan calon anaknya.


Ya, Rio langsung terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh Erlangga, dia bergegas untuk membantu sahabatnya itu terutama wanita yang dia suka.


Sejak Erlangga memutuskan untuk berhenti mencari Siapa pembunuh ibunya, Rio sudah mengubur rapat-rapat informasi yang dia dapat meski pencariannya terasa ambigu tetapi titik fokus terletak pada Kylie.


Kali ini, pasti bersangkut pautan pada nenek sihir yang menjadi ibu kandung dari adik tiri Erlangga yaitu Rangga. Dia akan segera mendapatkan bukti yang kongkrit untuk masalah ini dan memberikan jaminan akan segera menangkap tersangka.


"Thanks," jawab Erlangga saat mendengar dari perkataan Rio. Dia mematikan sambungan teleponnya lalu masih setia menunggu sang istri untuk melakukan tindakan operasi.


Erlangga sama sekali tidak menganggap Rangga dan juga sang ayah berada satu ruangan dengannya, hatinya sudah terlalu malas meladeni bahkan melihat kedua orang yang dia benci.


Jam pun terus bergulir, tiba grael dipindahkan ke ruangan yang lebih intensif karena kondisi yang masih belum sadarkan diri.


Pihak medis hanya mengizinkan salah satu untuk menjenguk Grael, karena demi keselamatan pasien dan peraturan yang sudah dibuat.


Setelah Erlangga memakai pakaian komplit dari rumah sakit, Dia melihat sang istri yang masih terbaring lemah tidak sadarkan diri, berbagai selang berada di tubuhnya yang diselimuti oleh kain hijau dari rumah sakit.


"Sayang, ini aku ... Er." Erlangga langsung menangis di samping tubuh sang istri yang belum sadarkan diri.

__ADS_1


"Maaf," ucap Erlangga yang memang hanya itu dia keluarkan saat ini ketika perasaan yang merasa bersalah.


To be continued...


__ADS_2