
Niat awal, ingin mengambil ponsel tetapi Grael urungkan. Perlahan kakinya mundur untuk kembali ke villa, tetapi tanpa sengaja dia menabrak salah satu kru yang ada dibelakang nya. Sehingga Rio pun melihat ke arah belakang dan melihat Grael sedang meminta maaf kepada kru tersebut.
"El?" ucap Rio, dia pun kembali melihat adegan Erlangga yang masih berlanjut ke atas ranjang yang sudah disediakan oleh tim kru untuk melakukan syuting adegan panas.
"Aah, hai ... aku ke sini, cuma mau mengambil ponsel yang tertinggal." Grael kembali pada niat awalnya untuk mengambil ponsel di dalam saku jaket Erlangga.
Setalah mengambil ponsel, Grael kembali melirik ke arah Erlangga dengan ragu-ragu. Namun, saat matanya benar-benar melihat adegan di mana Erlangga membuka bajunya dan menarik selimut kemudian gerakan yang diciptakan oleh Erlangga seakan Grael sudah mengenal gerakan itu, membuat air matanya jatuh.
Secepat mungkin Rio menutup mata Grael dengan tangannya, lalu membalikan tubuh kecil itu untuk menghadap ke arahnya seraya menyakinkan istri artisnya. "Percayalah, itu hanya bohongan! Dia tetap menggunakan celananya."
Bibir Grael tersenyum saat mendengar penuturan dari Rio yang berusaha menenangkan hatinya, tetapi ciuman itu sangat jelas, begitu profesional-nya Erlangga hingga Grael sulit membedakan mana hanya syuting dan mana yang beneran.
Bayangan rasa sakit pada luka di hatinya terbuka lagi, seakan seakan kejadian yang tidak mau dia ingat terulang kembali. Grael pun mengusap matanya lalu tersenyum ke arah Rio.
"Thanks, tapi aku nggak apa-apa! Tenang saja ... aku tahu, dia melakukannya sebagai artis profesional, aku balik dulu." Grael langsung mendorong tubuh Rio untuk menyingkir dari jalannya.
Langkah kaki bergerak cepat seraya berlari kecil, Grael meneteskan air matanya ketika sudah sampai di dalam kamar. Dia mengunci pintunya sembari mengulurkan kata umpatan.
"Brengsek, bajingan! Dasar buaya darat!" teriak Grael yang *******-***** bantalnya. Hatinya begitu kecewa dan sakit saat dia melihat langsung bagaimana Erlangga mencium wanita cantik itu dengan buas.
"Dasar kadal! Enak? Pakai lidah? Iya? Iiihh!" Grael mencekik bantal guling itu sampai puas, lalu lambat laun dia tertidur dengan sendirinya dengan air mata yang masih menetes.
...----------------...
Suara kicauan burrung begitu merdu di pagi hari, mengusik seorang Wanita dari tidurnya yang nyenyak. Grael merasakan hangat di pipinya, terasa nyaman sampai dia mencium aroma tubuh itu dan mengeratkan pelukannya.
"Pagi." Erlangga membalas pelukan Grael lalu mengecup keningnya.
__ADS_1
Ucapan selamat pagi serta morning kiss dari Erlangga membuat Grael langsung tersadar dan mendongak ke atas, dia pun langsung bangun dan duduk di samping Pria itu, lantas memegang kening seraya menghapus bekas ciuman dari bibir Erlangga.
Grael melihat jam di ponselnya, sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Kakinya turun ke bawah yang kemudian berjalan perlahan ke arah kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi dia menggosok seluruh tubuhnya dengan kencang, terutama bagian keningnya.
Rasa kesal terus mengusik hati Grael, dia pun memukul air sebagai pelampiasannya ketika dirinya berendam di dalam bathtub dengan air susu. Usai selesai mandi, dia melihat sarapan sudah ada di atas nakas. Akan tetapi, Pria itu masih saja memejamkan matanya tanpa dosa.
Grael pun bergegas pergi begitu saja setelah selesai berdandan dengan make up yang natural, serta menyelipkan note di atas piring sarapannya yang dia tidak makan, bahwa dia akan pergi untuk sekedar berjalan-jalan.
Begitu sampai di tempat wisata, Grael menyemoatkan dirinya untuk mampir ke kedai makanan khas daerah tersebut. Grael pun di sambut hangat oleh pelayan toko itu, lalu bergegas duduk di dekat jendela yang menyajikan pemandangan alam yang luar biasa indahnya.
"Hai ... sendirian? Oh ya, boleh gabung?" tanya sutradara Lee yang mendekat ke arah Grael, ketika Grael sudah memesan makanan.
Tentu Grael tidak bisa menolaknya, walaupun hatinya ingin sekali menolak, tetapi tidak terlalu buruk bagi Grael ketika ditemani oleh sutradara terkenal.
"Gimana, bosan ya, ikut Kakaknya syuting?" tanya sutradara Lee untuk mengisi rasa canggung.
Grael dan Lee mulai berbincang satu sama lain sembari menunggu pesanan mereka datang, terkadang Lee melontarkan kalimat yang ternyata cukup menghibur Grael, candaan yang di ucapkan Lee terus berlanjut saat mereka sama-sama menikmati sarapan pagi mereka.
Richard Lee Wicaksono, seorang sutradara film yang terkenal, di usianya yang baru menginjak 22 tahun. Dia sudah memenangkan berbagai penghargaan sebagai sutradara, Lee sungguh tertarik dengan Grael yang dia ketahui sebagai adiknya Erlangga Loius, karena itu Lee mencoba untuk mengejarnya.
"Eh, nggak usah! Biar aku yang bayar sendiri," ujar Grael.
"Tidak apa-apa, anggap saja ini tanda perkenalan kita." Lee membayar dengan mata uang luar negeri.
"Makasih," ucap Grael yang tersenyum.
"No problem, oh ya ... habis ini mau kemana? Mau temani aku jalan-jalan berkeliling? Tenang, aku nggak ada niat jahat!" tawar Lee.
__ADS_1
"Emangnya tidak mengantuk? Kan syuting sampai pagi?" tanya Grael yang sedikit canggung.
"Eh, nggak kok! Kita selesai syuting lebih awal jam satuan, setelah itu lanjut lagi nanti sore dan itu pun hanya beberapa scenen lalu kita balik ke kota." Lee membukakan pintu mobil kepada Grael sebagai tanda serius mengajaknya untuk berkeliling kota tersebut.
"Jam satuan?" batin Grael berkata seraya mengingat dia bangun jam dua untuk kekamar mandi tetapi Erlangga belum pulang.
"Gimana?" tanya Lee yang membuyarkan lamunan Grael.
"Ah, iya! Ok ... suatu kehormatan menemani sutradara Lee untuk berkeliling kota ini, walaupun saya juga tidak tahu daerah sini," jawab Grael dengan semangat.
Lee pun senang, dia masuk ke dalam mobil dengan model penutup atap terbuka, tidak lupa juga Lee membantu Grael untuk memasang sabuk pengaman, kemudian perlahan mobil mulai berjalan.
Sepanjang perjalanan, Grael sedikit terhibur mendengar pengalaman Lee yang menjadi sutradara dari nol, Grael juga mendengar bahwa Lee sangat susah membujuk Erlangga untuk melakukan adegan panas untuk syuting film. Dia menjadi terdiam saat mengetahui bahwa sang suami pertama kalinya menerima tawaran adegan itu, walaupun Lee sendiri bilang bahwa itu hanya bohongan dan menceritakan sedetail-detailnya tentang syuting yang Erlangga lakukan.
Di sisi lain, Erlangga terbangun dari tidurnya, dia meremas catatan yang ditinggalkan oleh Grael, serta melihat sarapan yang sudah dia pesankan. Akan tetapi Grael tidak memakannya.
Beberapa kali Erlangga menelepon-nya tetapi nomornya tidak bisa di hubungi, dia pun makin kesal saat tahu bahwa Rio tidak bersamanya dan mendapat kabar bahwa Grael bersama sutradara Lee.
"Brengsek!" umpat Erlangga.
To be continued...
Aduh maaf ya bila tulisannya tidak rapih, kondisi lagi kurang fit.. 🤧
bonus visual
__ADS_1
Erlangga Louis