Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
166. Pantai


__ADS_3

Deg, debaran jantung Grael memacu lebih cepat, dia menutup raut wajahnya dengan kedua tangan seraya menahan malu atas apa yang dilakukannya. Dia tidak menyangka bila ternyata ini bukanlah mimpi, suaminya benar-benar datang.


Erlangga langsung melihat ke arah istrinya dan sedang menahan malu akibat ulahnya sendiri, dia tersenyum lantas mendekat dan membuka selimut. Jarinya mengobati jemari kaki sang istri yang terlihat memar dengan mengoleskan obat yang sudah dibeli oleh Rangga.


"Apakah, sakit?" tanya Erlangga ketika sang empu langsung bangun terduduk seraya menutupi bagian dadanya dengan bantal.


Erlangga tersenyum lalu meniup agar obat oles itu cepat mengering dan meresap, dia pun bangun lalu mencari baju yang sudah disiapkan usai mengobati kaki Grael.


"Apa kamu sudah makan?" Erlangga memakai kaosnya.


"Hheem, apa Kak Erlangga sudah makan?" tanya balik Grael.


Erlangga mendekat ke arah sang istri sampai jarak di antara keduanya tidak ada jarak sedikitpun lalu berkata, "Belum, karena tadi tidak jadi gara-gara ada si pengganggu!"


Grael menundukkan kepalanya menahan malu, dia mengingat kembali apa yang dia katakan pada Erlangga di tambah dirinya yang begitu agresif di atas tubuh sixpack milik sang suami hingga dia kembali memilih untuk mengambil bajunya yang berada di samping Erlangga, tetapi dengan cepat tangannya sudah lebih dulu dicegah oleh sang suami.


"Mau ngapain?" tanya Erlangga dengan menggoda.


"Mau pakai baju," sahut Grael cengengesan.


"Kan, belum selesai! Mau tahu ending mimpi kamu seperti apa!" bisik Erlangga di telinga sang istri seraya menjilatinya.


"Kakak, iih!" Grael mencubit pinggang sang suami hingga membuat sang empu meringis kesakitan dan membalas dengan menggelitik pinggang sang istri.


Erlangga langsung menarik selimutnya untuk menutupi tubuh mereka berdua lantas memeluk tubuh Grael dengan erat seraya berkata, "Tidurlah!"


"Iya, tapi ... aaah!" ucap Grael yang merasakan bila dadanya dihisap kuat oleh sang suami.


"Diamlah! Aku hanya ingin ini, tidak lebih!" ucap Erlangga ketika bibirnya terus menghisap benda kenyal seperti bayi, terus menyesap senantiasa memilin pucuk dada Grael sampai dia tertidur.

__ADS_1


***


Sinar matahari pagi menyambut dengan hangat para pengunjung pantai yang sedang bercengkrama termasuk salah satunya adalah siswa-siswi SMK pemersatu bangsa, semua bersuka ria menikmati waktu liburan perpisahan mereka bersama teman-teman.


Ada yang menikmati paparan sinar matahari dengan berjemur di atas kursi pantai, ada juga yang menikmati tawa dan cerianya saat berseluncur di pantai dan masih banyak lainnya yang menikmati kebersamaan mereka berada di pantai tersebut.


"Ngga, ayo dong buka bajunya! Masa ke pantai pakai baju sih? Ah, nggak mecing lo!" seru Anjas yang berada di pantai bersama Irfan menunggu kedatangan Rangga.


"Slow aja sih, mau pakai baju apa nggak, suka-suka gua, lah!" protes Rangga ketika dia membawa papan seluncur dan menyusul Irfan dan Anjas.


Sementara itu, Grael yang siap berseluncur dengan sang suami mengenakan pakaian yang begitu seksi meski tidak terlalu terbuka, membuat Erlangga menjadi ragu mengajak sang istri untuk pergi ke pantai.


"Yank, nggak ada baju lain apa?" Erlangga memutar tubuh sang istri melihat penampilannya apakah terlalu terbuka apa tidak tetapi menurutnya pakaian yang dikenakan oleh sang istri membuat jati diri sebagai pria merasa tergugah.


"Ya ampun, Sayang ... ini sudah yang paling tertutup!" ucap Grael yang meperagakan bak model.


Grael pun memasang wajah cemberutnya, lalu mengikuti langkah kaki sang suami yang sudah jalan lebih dulu. Begitu kaki telanjang Grael menyentuh pasir, wanita itu pun berlari mendahului Erlangga dengan suara kegirangan menghampiri air mata dan juga Gea.


"Loh kok belum ganti pakaian?" tanya Grael ketika melihat penampilan Gea masih menggunakan baju pantai.


Ernata membisikkan kepada Grael agar mereka berdua mengubah penampilan Gea, tentu saja wanita dengan paras wajah cantik itu pun bersemangat untuk merombak penampilan sahabatnya agar Irfan menyesal karena sudah membuat Gea menangis.


"Hai, Kak Erlangga!" sapa Ernata ketika Erlangga merangkul pinggang sang istri.


Erlangga pun hanya tersenyum membalas sapaan kedua teman istrinya itu kemudian dia mendapat bisikan dari Grael bila menyuruhnya untuk menunggu sebentar.


Setelah mendapatkan izin dari Erlangga tidak memerlukan waktu lama, mereka bertiga pun kembali ke pantai dengan penampilan Gea yang memukau, sungguh berbeda dari Gea yang biasanya pakaian renang yang seksi dan terbuka memperlihatkan lekuk tubuh yang indah, rambut panjang tergerai dan bergelombang menambah kesan manis pada wajah Gea tanpa berkacamata.


Mereka berjalan mendekat ke arah bibir pantai, melihat bakat Erlangga yang berselancar dengan sejuta pesona. Ya, pria yang bersandang sebagai status suami Grael Arabella itu memang selalu membuat wanita yang masih berusia belasan tahun jatuh cinta berkali-kali.

__ADS_1


Sementara di posisi ketiga wanita itu tanpa mereka sadari telah menjadi pusat perhatian para lelaki yang sedang memandangnya, terutama Irfan yang langsung terpanah oleh penampilan Gea. Debaran jantung Irfan membuat aliran darah mengalir dengan cepat sampai ke ujung pangkal aset miliknya dan sekarang mulai menegang hanya melihat penampilannya yang ternyata memiliki struktur tubuh yang indah.


"Kondisikan aset lo, Fan!" ujar Anjas yang memberitahu kepada Irfan bahwa miliknya terlihat jelas sedang menegang dari balik celana renangnya.


"Bbeeuh ... gua kira cupu, ternyata suhu. Hajar, Fan! Sebelum orang lain yang embat!" Rangga menepuk bahu Irfan ketika mereka bertiga berdiri di bibir pantai melihat ke arah ketiga wanita itu dan berkata lagi, "Gua jamin si Gea masih perawan!Lo bayangin aja Fan, kalau sampai itu bokongnya nempel di aset lo, beeuhh rasanya ... aaah!"


Irfan langsung menelan salivanya saat dia mendengar bisikan dari Rangga yang menghasut naluri dirinya sebagai pria yang membuat asetnya semakin menegang, debaran jantungnya pun semakin kian cepat memompa aliran darah. Entah itu hanya perasaan hawa nafsu sesaat atau perasaan cinta yang sudah mulai tumbuh di hati pemuda yang berambut keriting itu.


"Buruan Fan! Pepet! Sebelum Roni yang embat!" hasut Anjas yang mendorong tubuh Irfan.


Sementara itu, Hans yang sudah menatap wanita incarannya, mendekat ke arah ketiga wanita itu seraya membawa papan seluncur. Dia belum tahu bila wanita incarannya sudah memiliki pawang.


"Hai," ucap Hans yang tersenyum manis. Sontak membuat ke tiga pria yang sedari tadi menatapnya langsung tidak suka dengan Hans.


"Hai juga," sahut Gea dengan semangat.


"Mau mencoba berselancar?" tawar Hans yang mengajak Grael dan tentu saja Grael mengangguk karena dia sudah berencana akan belajar berselancar bersama suaminya.


"Wah, cari mati tuh kuda Nil!" celetuk Rangga dari kejauhan ketika sorot matanya melihat Erlangga perlahan menghampiri sang istri.


"Mampus Lo, El! Pawang lo, datang!" ujar Ernata yang berbisik ke arah Grael dengan sangat pelan.


"Hayoo! Gua juga mau berselancar, ajarin aku ya kak!" Gea mengambil tangan Hans seraya menggoyangkan tangannya agar sahabatnya itu tidak terkena amarah sang suami.


"Hai," ucap Erlangga, kepada Hans.


"Wow, Erlangga Louis!" Hans merangkul Erlangga dengan akrab.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2