
"Hai," sapa Irfan pada Grael saat mereka sudah berada di dalam pesawat.
Grael hanya tersenyum lalu mengangkat kopernya untuk menaruh pada kabin pesawat, tetapi Irfan langsung mengambilnya dari tangan Grael.
"Biar gua bantu!" Irfan menaruh koper Grael pada kabin pesawat lalu menaruh kopernya tepat di samping koper Grael.
"Irfan, koper gua juga, dong!" ucap Gea yang manja. Namun, Irfan lebih dulu memilih duduk di kursi yang ternyata di samping tempat duduk Grael.
"Iish, dasar pelit!" ucap Gea dengan kesal.
"Biar aku bantu!" Grael mengangkat koper Gea, yang ternyata lebih berat dari pada isi koper milik Grael. "Ge, lo bawa apaan si? Berat banget!"
"Ha? Hehehe ... ada deh!" Gea membetulkan kaca matanya lalu duduk di tengah.
"Eg, ternyata kalian duduk di sini juga?" ucap Grael dan dia pun ingin masuk untuk duduk di sebelah pojok tetapi Rangga sudah mencegahnya.
"Ikut, Gua!" Rangga membuka kabin pesawat dan menurunkan koper Grael.
"Loh, kenapa?" tanya Grael yang bingung ketika adik iparnya menurunkan koper miliknya.
"Dah, ikut gua!" Rangga menarik tangan Grael agar mengikuti langkahnya.
"Sial! Baru juga bisa berduaan dengan Grael, selalu aja si cunguk itu berhasil ngalangin," umpat Ifran yang menutup mata dengan lengannya saat air matanya menetes.
Gea yang sudah mulai paham perasaan Irfan setelah sekian abad, baru mengerti kalau Irfan memiliki perasaan pada Grael. Dia menaruh tisu tepat di paha Irfan membuat sang empu mengintip dari lengannya.
"Apaan sih? Lo kira gua mau Col—"
Irfan langsung menghentikan ucapannya, dan melempar tisu itu kembali pada Gea. "Nggak usah perhatian, nanti kalau Lo ada rasa sama gua yang ada nangis!"
"Emangnya, mau kasih tisu harus suka sama orangnya? Gua tahu gua beda sama cewek yang lo suka, mangkanya setiap gua deket sama lo, lo jijiknya kaya apa tau sama gua!" ucap Gea, dia pun meneteskan air mata.
__ADS_1
Melihat Gea menangis, Irfan langsung berucap, "Tuh kan, Gua bilang juga apa! Baru juga jadi temen tapi lo udah nangis, bagaimana jadi pacar gua!"
"Gimana nggak mau nangis, lo tuh sebagai temen, sikapnya kasar sama gua, mentang-mentang gua cupu, berkaca mata, gigi behel, kuncir dua, lo kira gua gak bisa kaya Grael? Hah!" bentak Gea yang kini marah pada Irfan.
"Gua nggak pernah bila lo cu—"
"Asal lo, tahu! Gua juga bisa kaya Grael, cewek seperti lo suka!" Gea membuka kaca matanya lalu membuka kunciranya.
Gea mengambil tisu lalu dia usap air matanya. "Gua cupu karena emang belum pernah pacaran, tapi lo liat ya! Kali ini gua bakalan dapetin cowok yang lebih keren dari lo!"
Irfan tercengang, matanya enggan untuk berkedip sedikit pun. Melihat penampilan Gea yang beda dari biasanya, bola mata yang jernih, rambut panjang bergelombang, serta buah dada yang besar saat Gea membuka kancing dua bagian atasnya. Membuat Irfan langsung terpanah.
"Ge–Gea, lo ...."
"Awas! Gua buktikan sama lo, Gua bisa!" Gea melewati Irfan lalu pergi ke arah Roni, teman sekelas yang tidak kalah ganteng dan tajir dari Irfan.
Irfan terkejut bukan main, saat Roni pun langsung tertarik sama wanita itu. Sampai akhirnya Irfan melihat Roni mengajak Gea untuk mengikutinya ke sebuah toilet.
"Akkkh, loh. Nyusahin gua aja!" Irfan bangun dari tempat duduknya dan mengejar Gea yang sudah bersama Roni.
"Sorry, dia belum minum obat, mangkanya sakitnya kumat! Maklumin teman gua, ya!" Irfan menarik tangan Gea saat Roni ingin mencium Gea.
Gea tidak percaya bila Irfan bisa berkata seperti itu, dia dengan kesal memukul lengan Irfan seraya membentak. Namun, tiba-tiba suara intruksi bagi para penumpang untuk duduk terdengar oleh telinga keduannya.
Semua pun duduk pada kursi masing-masing karena pesawat akan lepas landas. Begitu Irfan dan Gea kembali ke tempat duduk sudah ada Beni yang bertukar tempat duduk dengan Grael.
"Lo, duduk di pojok! Biar gua di tengah!" pinta Irfan.
Sementara Grael duduk bersama Rangga dengan dua bangku, di sana Grael melihat bagaimana pesawat lepas landas secara perlahan dan saat itu juga Rangga membuka telapak tangannya untuk Grael genggam.
"Jangan malu-malu, anggap kita honeymoon!" Rangga menaikan ke dua alisnya berulang-ulang seraya tersenyum lebar, dia menarik tangan Grael agar bisa dia ganggam lalu berucap, "Selingkuh, yuk!"
__ADS_1
"Gila!" Grael tertawa mendengar guyonan adik iparnya sembari menjambak rambut yang pernah dulu selalu minta dia elus.
"Aakh, sakit ... Ay!" Rangga mengelus rambutnya itu, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Grael. "Udah pernah gila gua, karena lo! Andai lo tahu, sesakit apa gua saat gua di tinggal nikah sama lo."
Jleb, ucapan Rangga membuat Grael terdiam, andai Rangga juga tahu bila dulu dia juga terpaksa menerima pernikahan dengan Erlangga dan mati-matian melupakan Rangga.
"Maaf," lirih Grael yang menunduk.
Rangga pun mendongak ke atas melihat wajah manis kakak iparnya lantas mengecup punggung tangan Grael. "Lo, nggak salah! Gua yang salah ... aaakkhh! Coba kalau semua bisa terulang, mungkin sekarang kita sudah sepasang suami istri!"
"Jangan mulai, Ngga! Dua minggu lagi, lo nikah sama Emira, Gua pinta jangan ngulangin hal yang sama saat lo sama gua! Apa lagi ... lo selalu dapat jatah mulu dari Emira." Grael mencubit leher Rangga yang terlihat jelas bekas cupangan.
"Sakit, Ay! Lo mah, jadi Kakak ipar galak banget, Gua di teken sama suami lo, jagain lo, jangan sampai deket sama cowok lain tapi istrinya galak begini!" Rangga mengigit tangan Grael hingga membekas.
"Aaakk ... akk ... sakit, iih ... Rangga!" rengek Gaek yang mendorong kepala Rangga.
Rangga cengengesan lalu mencubit pipi Grael. "Gua janji, nggak bakalan ngulangin hal yang sama! Eh, btw ... keponakan gua udah ada belum?"
Deg, hati Grael tersentil dengan pertanyaan Rangga, dia menunduk lalu mengusap perutnya yang rata menggunakan kedua jarinya secara perlahan.
"Entah, Ngga!" ucap Grael meneteskan air matanya.
Rangga menarik dagu Grael lalu menaruh kepala itu untuk berada di dada bidangnya seraya mengusap lembut. "Sorry, Gua nggak masuk buat lo sedih, Ay! Sabar, lagian lo juga masih terlalu dini untuk jadi emak-emak!"
"Tuh, kan ... lo mah, gitu! Ngajak terbang terus jatohin!" Grael mendorong tubuh Rangga lalu kembali membenarkan posisinya.
Rangga terkekeh melihat Gaek merajuk kemudian mengusap air mata Kakak iparnya. "Jangan nangis, tenang ... mau gua bantu buat cepet ada?"
Grael menjewer kuping Rangga dengan kencang, hingga sang empu merasa kesakitan. Grael pun melepaskan kuping Rangga usai puas menariknya lalu berkata, "Mungkin aku akan merelakan Erlangga untuk menikah lagi, Ngga!"
"Apa?" Rangga terkejut mendengar ungkapan Grael.
__ADS_1
To be continued...